Kisah Sam Sachrul Mamonto; Bupati yang Pernah Tolak Tawaran jadi Pegawai Negeri

195
Foto atas: Bupati Boltim Sam Sachrul Mamonto (kiri) dan Mantan Bupati Bolmong Marlina Moha Siahaan. Foto bawah: Sam Sachrul Mamonto (kemeja putih), – Wartawan Harian Posko Manado Tahun 2004- saat meliput kegiatan Bupati Bolmong Marlina Moha Siahaan (jaket cokelat).

Nasib orang tak ada yang tahu. Seperti halnya Sam Sachrul Mamonto. Kebanyakan orang, dan mungkin ia sendiri tak pernah menyangka dirinya akan menjadi Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) saat ini.

Laporan; Rusmin Mamonto, Sekretaris PWI Boltim

Sam Sachrul Mamonto, S.Sos, M.Si. Begitu nama lengkap Bupati Boltim itu. Sachrul – sapaan akrab Sam Sachrul Mamonto – adalah putra asli Boltim. Ia dibesarkan di Desa Modayag (sekarang Desa Modayag II), Kecamatan Modayag. Ayahnya; A Mamonto (almarhum). Ibunya; I Mamonto. Anak bungsu dari empat bersaudara itu menamatkan Sekolah Dasar (SD) di SD Inpres Modayag pada tahun 1986. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Negeri (STN) Kotamobagu — sekarang SMP Negeri 3 Kotamobagu — dan lulus pada Tahun 1989.

Di Tahun 1992, Sachrul menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat SMA pada SMA Negeri 4 Manado. Kemudian di Tahun 1996 ia tercatat sebagai salah satu mahasiswa di STIKOM Manado dan resmi menyandang gelar akademik Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos) setelah menyelesaikan proses perkuliahan di Tahun 2000. Beberapa hari lalu, Sachrul baru saja menyandang gelar Magister Sains (M.Si) setelah menyelesaikan pendidikan strata 2 (S-2) Program Study Pembangunan di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado.

Papa Icat – begitu Sachrul akrab disapa – mengawali karir sebagai wartawan di salah satu media cetak di Sulawesi Utara. Wilayah Bolaang Mongondow (Bolmong) — sebelum pemekaran — menjadi salah satu tempat tugas peliputan Sachrul saat masih aktif sebagai seorang wartawan. Di mata pejabat Bolmong, Sachrul dikenal sebagai seorang wartawan yang sangat kritis dan profesional. Tak sedikit pejabat, dan mungkin saja Bupati Bolmong saat itu dibuatnya ‘basuar dingin’ dengan kritikan melalui pemberitaan yang ia tulis di media tempatnya bekerja kala itu.

Sachrul juga sangat dekat dengan para pejabat Bolmong. Namun kedekatannya dengan para pejabat saat itu tak membuatnya kehilangan integritas. Bahkan tawaran menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari Bupati Bolmong Marlina Moha Siahaan (MMS) ia tolak.

“Saya berapa kali menawarkan adinda Sachrul (saat masih aktif sebagai wartawan) untuk menjadi PNS, tapi ditolaknya. Nasibnya bukan di PNS, tapi jadi bupati,” sebut MMS, saat berada di Kantor Bupati Boltim, pekan lalu.

Sachrul mengakhiri karirnya di dunia jurnalis pada tahun 2009. Di tahun yang sama, ia terpilih sebagai Anggota KPU Bolmong (sebelum pemekaran) dan sukses menyelenggarakan Pilkada Bolmong 2009 dan Pilkada Boltim-Bolsel Tahun 2010.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai penyelenggara Pemilu, Sachrul mengundurkan diri sebagai ketua sekaligus Anggota KPU. Ia kemudian terjun ke dunia politik dan langsung dipercaya sebagai Ketua DPD PAN Boltim. Di bawah kendalinya, PAN Boltim menjadi partai besar dan berhasil memenangkan Pileg Tahun 2014 di Kabupaten Boltim. Ia juga terpilih sebagai Ketua DPRD Boltim setelah meraup 3.456 suara.

Di Tahun 2015, Sachrul memilih bertarung di Pilkada Boltim. Ia berpasangan dengan Medy Lensun. Kala itu, pasangan yang populer dengan jargon SMILE itu mendapat dukungan 20.000-an suara atau kalah sekitar 3000-an suara dari pasangan Sehan Landjar dan Rusdi Gulamalangit.

Kekalahan di Pilkada Tahun 2015 tak membuat semangatnya ciut. Hal itu justeru dijadikannya pengalaman juga pelajaran menatap Pilkada edisi berikutnya. Disebut sebagai seorang fighter oleh pendukung fanatiknya, Sachrul tampil lagi di panggung pesta demokrasi pemilihan Bupati Boltim Tahun 2020, dan terpilih sebagi Bupati Boltim periode 2021-2024.

“Tentu bunda -sapaan akrab MMS- sebagai orang tua, doa bunda yang ikhlas sebagai ibu insyaallah Ananda Bupati Boltim sehat, selamat bersama keluarga dan seluruh jajaran teamwork-nya. Insyaallah bisa menahkodai Boltim, membawa ke arah yang lebih baik dan mensejahterakan masyarakat,” kata MMS, mendoakan kesuksesan Sam Sachrul Mamonto sebagai Bupati Boltim.

Sam Sachrul Mamonto membenarkan dirinya pernah menolak ajakan MMS menjadi PNS saat masih bertugas sebagai wartawan di Kabupaten Bolmong saat itu. Alasannya karena ia masih fokus menjadi wartawan dan mengawal pemerintahan MMS melalui karya-karya jurnalistiknya.

“Dulunya saat jadi wartawan, saya meliput kegiatan paripurna DPRD Bolmong. Bunda MMS duduk di depan sebagai bupati, dan Kak Ding (Soenardi Soemanta) sebagai Ketua DPRD. Saat itu saya meliput kegiatan dan melihat mereka di depan. Tidak pernah terbayangkan saya bisa menjadi seperti Bunda MMS dan Kak Ding (bupati dan ketua DPRD). Tapi nasib orang siapa yang tahu. Dulu saya adalah seorang wartawan, dan sekarang saya adalah bupati dan juga pernah menjadi ketua DPRD,” kata Sachrul, saat mengawali sambutan pada sidang paripurna pelantikan dan pengambilan sumpah janji anggota DPRD PAW sisa masa jabatan 2019-2024, pekan lalu.

Bagi Sachrul, MMS adalah seorang ibu yang harus dihormati dan dihargai jasa-jasanya. Perannya dalam membangun Kabupaten Bolmong dan memekarkannya menjadi empat kabupaten dan satu kota, sangatlah besar.

“Kita doakan bersama kesehatan, keselamatan dan kesuksesan Bunda MMS bersama keluarga,” tambah Sachrul. (###)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here