Metafora Rumah dan Etalase Duka Seorang Ibu

7

Oleh: Tri Deina Cahyani

Metafora Rumah dan Etalase Duka Seorang Ibu
Metafora Rumah dan Etalase Duka Seorang Ibu. (Ilustrasi: Generated by AI)

Ada hal-hal yang terlalu sakral jika hanya dibiarkan menguap dalam ingatan. Manusia adalah makhluk yang mudah lupa, tetapi ada beberapa hal yang tidak selayaknya dilupakan, misalnya duka. Mungkin beberapa harus dirawat, dipahami, dan diabadikan. Tulisan ini diabadikan dalam jejak digital dari sudut terdalam pengalaman pribadi penulis, disatukan kata demi kata sebagai sebuah arsip di dalam ruang maya.

​Rekam jejak tanpa prasasti yang mencatat bagaimana seorang perempuan yang saya panggil Ibu bertarung melawan rasa penerimaan. Pengalaman seribu empat ratus hari lebih yang hening, bagaimana duka menyelimuti ruang dalam rumah setelah ayah berpulang ke pangkuan Sang Ilahi, serta bagaimana ibu dengan segala kerapuhan dan keberaniannya merambat keluar dari kehilangan tersebut.

​Untuk sebagian orang mungkin saja duka hanya terlihat ketika tanah pemakaman selesai diratakan, ketika karangan bunga meraba layu di depan pagar, atau mungkin ketika meja makan sudah tidak dipenuhi piring-piring kiriman tetangga. Tapi untuk para istri dan anak yang ditinggalkan, duka sebenarnya baru dimulai ketika suara langkah para pelayat menghilang dari area pemakaman atau rumah mayat disemayamkan. Lalu, yang paling tabah ketika duka hadir pada sunyinya jam tiga pagi, pada aroma pakaian di dalam lemari, atau pada derit pintu menyapa di sore hari.

​Melalui tulisan ini, saya ingin mengabadikan perjalanan hening itu. Bukan mengeksploitasi kepedihan, tapi menandai perjalanan eksistensial, bagaimana seorang manusia biasa, melalui cinta yang terluka, merangkak melewati puing-puing keputusasaan hingga akhirnya menemukan jembatan keikhlasan untuk kembali menghuni ruang kehidupan.

Fenomenologi Ruang yang Hilang dan Pengasingan Mandiri

​Dalam ruang lingkup pemikiran filosofis, khususnya fenomenologi keberadaan yang diusung oleh Martin Heidegger, manusia tidak menempati koordinat geometris tiga dimensi. Manusia tidak “berada” di dalam rumah seperti benda mati diletakkan di dalam kotak. Manusia “menghuni” (dwelling). Menghuni di sini diartikan sebagai proses aktif di mana jiwa menanamkan keberadaan diri ke dalam ruang fisik pada ikatan emosional, menciptakan ritme kebiasaan, dan menebarkan kenangan pada tempat, lekuk perabot, dan aroma di dalam ruangan.

​Rumah, untuk sepasang suami istri yang telah melintasi usia senja bersama, adalah sebuah ekosistem makna. Dan kamar tidur utama adalah pusat dari jagat raya kecil. Di ruang itu kemudian bisik-bisikan malam dilontarkan, keletihan kerasnya dunia dilepaskan, dan rencana-rencana masa depan dirajut. Bukan semata hanya ruang untuk dipan dan kasur dan ya tentu juga sebagai suaka batin.

​Pertanyaannya, apa yang terjadi ketika salah satu pilar dari ekosistem makna itu mendadak pulang kepada Ilahi Rabb? Dari batas jatah usia yang sudah ditentukan?

​Ketika ayah berpulang, arsitektur eksistensial rumah runtuh, tentu tanpa aba-aba. Kamar tidur utama tidak lagi berfungsi sebagai suaka. Dalam sekejap mata, ruangan itu mengalami metamorfosis yang bisa saya katakan mengerikan. Berbalik menjadi keheningan yang menikam, ibaratnya museum kenangan yang tajam untuk dijumpai oleh jiwa yang sedang berdarah-darah.

​Lalu perlahan ibu menarik garis batas yang sangat jelas dan tanpa kompromi. Selama empat ratus dua puluh enam hari, tepatnya satu tahun dua bulan, ibu melakukan pengasingan mandiri di dalam rumahnya sendiri. Kamar tidur yang dulu ia bagi bersama ayah mendadak menjadi area terlarang bukan tanpa alasan. Ibu tidak pernah lagi mau tidur di sana. Jangankan untuk memejamkan mata di atas kasur, untuk berlama-lama melintasi ambang pintunya yang terbuka saja ibu tak sanggup. Ia melintasinya dengan pandangan terlempar ke arah lain.

​Perlahan ibu memindahkan eksistensi fisiknya. Pakaian hariannya, botol-botol parfum, peralatan rias wajah yang bersahaja, hingga bantal dan selimut kesayangannya diboyong satu per satu ke kamar lain. Secara kasat mata, hal itu terlihat seperti pemindahan barang-barang rumah tangga biasa. Tetapi, sebagai anak yang mengamatinya setiap hari, saya tahu persis bahwa itu sebuah tindakan evakuasi darurat. Ibu melarikan jiwanya dari setiap keping ingatan. Ia memindahkan kepingan-kepingan hidupnya ke kamar saya, mencari perlindungan pada keberadaan anak-anak agar tidak terserap oleh bayang-bayang ayah yang masih mengendap pekat di kamar utama.

​Berhari-hari, bulan-bulan kamar itu tak berpenghuni lalu menjadi dingin. Untuk mencegah agar ruangan tersebut tidak berubah menjadi bilik mati yang menyeramkan di dalam rumah, anak-anak mengambil alih peran bergantian tidur di kamar ayah dan ibu.

​Tidur di kamar itu merupakan pengalaman spiritual yang asing bagi saya. Saat berbaring di atas tempat tidur tersebut, menatap langit-langit bergaris kayu yang dulu sering ditatap ayah sebelum memejamkan mata, saya dapat merasakan betapa tebalnya aura kerinduan yang tertinggal. Udara di dalam seperti berat, pekat, dan pasti menyimpan masa lalu. Sebagai anak tentu kami mencoba mengisi kekosongan itu. Tapi, di sisi lain kami hanya penjaga sementara dari ruangan yang kehilangan pemiliknya. Dan persoalannya ibu mengunci pintu itu secara emosional, dan kuncinya ikut terlempar ke dalam dukanya.

​Geografi Duka dan Ritual Harian dalam Hening

​Duka adalah sebuah entitas yang paradoksal. Di satu sisi, ia sangat besar hingga sanggup melumpuhkan seluruh sendi kehidupan. Di sisi lain, ia bergerak secara halus, merayap dalam kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari. Suatu reaksi emosional, dari proses somatis dan spiritual yang mengeja waktu dengan cara yang amat lambat.

​Di luar pengasingannya dari kamar utama, saya menyaksikan bagaimana ibu mengeja dukanya saban hari. Ada ritme harian yang menyayat hati dalam cara ibu bertahan hidup misalnya: isak tangis di ujung subuh. Tangisan yang tidak pernah terdengar di siang benderang. Di hadapan kerabat, tetangga, atau anak-anaknya saat matahari sudah tinggi, siasat dibungkus ketegaran yang rapi. Namun, ada satu waktu di mana pertahanan itu runtuh, seusai salam terakhir di ujung salat subuh. Ketika dunia masih dibungkus kegelapan yang dingin dan hening, di atas sajadah, isak tangis ibu pecah. Luapan rasa rindu yang tak tertampung oleh dada manusia. Suara tangisnya yang tertahan di balik kain mukena menjadi lagu pengantar pagi yang paling menyakitkan bagi saya yang mendengarnya.

​Lain dari itu keheningan teras rumah, di siang atau sore hari, ibu sering kali saya temukan duduk sendirian di teras depan. Duduk di kursi kayu favoritnya, memegang cangkir teh hangat yang sering dibiarkan hingga dingin. Matanya menatap kosong ke arah ujung jalanan kompleks yang lengang. Tatapan kosong seperti penantian absurd namun manusiawi. Secara rasional, ibu tahu ayah telah dimakamkan di bawah tumpukan tanah. Namun secara emosional, mungkin jiwanya masih menunggu, menunggu bayangan ayah muncul dari tikungan jalan. Itulah asumsi liarku.

​Proses perpisahan itu kemudian mulai merembet pada benda-benda peninggalan. Dalam filsafat mengenai kepemilikan dan pelepasan (detachment), benda-benda pribadi seseorang merupakan perpanjangan dari tubuh dan identitasnya. Ketika seseorang meninggal dunia, benda-benda yang ditinggalkan menjadi simpul-simpul memori yang mengikat orang yang ditinggalkan pada rasa sakit.

​Ibu mulai melakukan pelepasan kepemilikan secara bertahap. Satu per satu barang milik ayah mulai dikeluarkan dari rumah. Sepatu-sepatu yang tersusun rapi di rak, pakaian-pakaian kerja, hingga barang-barang berharga milik ayah dibagikan kepada kerabat atau orang-orang yang membutuhkan.

​Yang paling menyentuh adalah ketika ibu mengeluarkan beberapa pasang baju sarimbit lebaran atau yang kita kenal hari ini sebagai baju couple, masih saya ingat jelas beberapa baju baru yang saya beli untuk ayah beberapa bulan sebelum ayah meninggal. Bahkan belum sempat tersentuh oleh kulit ayah sama sekali. Baju-baju yang semula disiapkan untuk merayakan hari kemenangan itu diserahkan kepada orang lain. Setiap kali sebuah barang milik ayah keluar dari pintu depan, saya melihat ada secercah rasa lega dan kehilangan yang tergambar di raut wajah ibu. Ia sedang berusaha merenggangkan cengkeraman materi agar dukanya tidak semakin mencekik.

​Relikui Terakhir dan Pertanyaan di Suatu Malam

​Di tengah gelombang pelepasan barang-barang tersebut, ada satu fakta unik yang menarik perhatian saya sebagai anak dan pengamat dekatnya. Ada satu benda yang secara konsisten ditolak ibu untuk dibagikan, dipindahkan, atau bahkan disentuh oleh orang lain.

​Yaitu selembar kain sarung lusuh.

​Kain sarung itu sama sekali tidak memiliki nilai ekonomis. Warnanya sudah memudar karena usia, benang-benangnya di beberapa sudut sudah mulai terurai, dan kainnya sudah menipis akibat terlalu sering dicuci. Meski demikian, kain sarung itulah yang memiliki nilai sakral tertinggi dalam keseharian ayah. Kain yang melekat di tubuh ayah saat beliau menghadap Sang Pencipta atau saat menunaikan salat lima waktunya. Kain itu pula yang selalu dipakai ayah untuk bersantai di sofa ruang tamu seusai pulang bekerja.

​Kain sarung lusuh itu tidak diberikan kepada siapa pun. Ibu tidak mengizinkan anak-anaknya menyimpannya, apalagi membagikannya. Dalam kacamata studi kebudayaan dan filsafat agama, kain itu telah bertransformasi menjadi sebuah relikui objek material bersahaja yang menyimpan numen atau aura kehangatan dari sosok yang telah tiada. Kain itulah benang merah terakhir yang menghubungkan dunia fisik ibu dengan keberadaan ayah.

​Hingga pada suatu malam, tepat ketika waktu telah berjalan mendekati satu tahun dua bulan, hal kecil yang mungkin akan mengubah konstelasi duka di dalam rumah.

​Malam itu, suasana rumah sangat hening. Saya berjalan melintasi ruang keluarga dan mendapati ibu sedang tertidur lelap di atas dipan. Tubuhnya terbungkus rapat oleh kain sarung lusuh milik ayah. Ya betul, ada sesuatu yang secara fundamental berbeda.

​Selama 14 bulan terakhir, raut wajah ibu saat tidur selalu memancarkan kerutan ketegangan, dalam tidurnya pun ia bertarung dengan mimpi buruk kehilangan. Namun malam itu, wajah ibu tampak begitu jernih, tenang, dan teduh. Tidak ada helaan napas berat, dan gemetar halus di ujung matanya, juga yang paling menakjubkan, tidak ada tetes air mata di bantal kanannya atau yang mengering di pipinya.

​Didorong oleh rasa heran yang amat sangat, ketika ibu perlahan terbangun dan membuka matanya, saya memberanikan diri untuk mendekat. Sebuah pertanyaan yang telah lama mengendap di kepala saya meluncur begitu saja secara spontan:

​”Ibu… kenapa Ibu tak menangis lagi?”

​Ibu tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menatap saya dengan pasang mata jernih, tatapan yang belum pernah saya lihat sejak hari kematian ayah. Ia tersenyum tipis, senyuman yang lahir bukan dari kepura-puraan.

​Lalu menjawab dengan pelan namun menurutku mantap:

​”Sebab ibu tak tahu kapan umur ibu selesai di dunia. Yang ibu tahu, ibu pasti akan menyusul ayahmu, dan kita akan bertemu kembali.”

​Transendensi Duka dan Eksistensi Keabadian

​Jawaban singkat yang keluar dari mulut ibu malam itu meruntuhkan seluruh kerangka teoritis saya mengenai duka dan kehilangan. Lompatan spiritual yang luar biasa, pencapaian yang dalam filsafat eksistensialisme Islam atau pemikiran metafisika sering disebut sebagai transendensi.

​Selama satu tahun dua bulan, ibu terjebak dalam apa yang bisa kita sebut sebagai duka imanen. Dalam duka imanen, manusia memandang kehilangan semata-mata dari kacamata dunia fana. Kematian dilihat sebagai sebuah pemisah permanen, garis akhir yang menghancurkan seluruh hubungan, dan sebuah ketidakadilan takdir yang merenggut kebahagiaan. Selama ibu memandang kepergian ayah dari sudut pandang ini, setiap detiknya siksaan, dan setiap sudut rumah pengingat yang menghantui.

​Namun, kalimat yang diucapkannya malam itu menandai pergeserannya menuju duka transenden.

​Ibu berhenti menangis, saya menyebutnya sebagai evolusi murni dan abadi. Ibu berhenti menangis, ia berhasil membebaskan pikirannya dari ilusi bahwa perpisahan di dunia ini bersifat permanen.

​Ibu menyadari tiga hakikat eksistensial yang mendalam:

​Finitude Kehidupan Dunia. Bahwa kehidupan di dunia ini pada dasarnya adalah singkat dan tidak menentu. Tidak ada seorang pun yang memiliki jaminan atas usianya.

​Disusul Kematian Sebagai Jembatan, Bukan Jurang. Kematian tak lagi dipandangnya sebagai kegelapan yang memisahkan, melainkan jembatan kepastian. Sebuah pintu antrean di mana pada akhirnya semua manusia akan melangkah melintasinya.

​Dan yang terakhir penyatuan kembali (Reunion): Keyakinan mendalam bahwa cinta yang dibangun atas dasar iman tidak berakhir di liang kubur. Pertemuan kembali di alam keabadian bukan penghibur kosong, melainkan kepastian iman dalam menetralkan rasa sakit akibat jarak sementara di dunia.

​Ketika kesadaran akan keabadian itu merasuk ke dalam jiwa ibu, rasa takut akan kesendirian seketika menguap. Duka yang semula beracun dan mematikan bertransformasi menjadi kedamaian yang utuh.

​Menghuni Kembali dan Mengabadikan Jejak

​Malam ini, tepat ketika hitungan kalender menyentuh angka satu tahun dua bulan sejak kepulangan ayah. Saya diam-diam memperhatikan ibu melangkah menuju pintu kamar tidur utama. Istimewanya tanpa perlu dituntun, tanpa perlu ditemani anak-anaknya, tangan ibu terulur memutar gagang pintu kayu yang lama membisu itu.

​Suara engsel pintu yang mengayun terbuka, ibu masuk ke dalam kamar itu. Ia menyalakan lampu, merapikan selimut di atas kasur, dan memutuskan untuk tidur di sana malam ini seorang diri.

​Mengapa Catatan Ini Harus Abadi?

​Tulisan panjang ini adalah sebuah jejak digital. Di zaman di mana segala sesuatu bergerak cepat, berubah, dan mudah dilupakan dalam hitungan detik, saya merasa memiliki kewajiban moral untuk mengabadikan proses ini di dalam ruang siber yang abadi.

​Saya menuliskan ini untuk beberapa alasan mendasar:

​Pertama, sebagai bentuk penghormatan (homage) tertinggi kepada Ibu. Untuk mencatat keberanian seorang perempuan biasa yang berhasil memenangkan pertempuran penerimaan dalam hidupnya dalam melawan rasa putus asa akibat kehilangan belahan jiwa.

​Kedua, untuk menjadi warisan ingatan bagi generasi mendatang di keluarga kami. Agar kelak, anak-cucu kami dapat membaca dan memahami betapa dalamnya cinta yang pernah diukir oleh kakek dan nenek mereka, serta betapa tangguhnya iman yang menopang keluarga ini di masa-masa tersulit.

​Ketiga, untuk kedua sahabat yatim saya Tri Cyntiasa Binol dan Farel Qurrota A’yun yang mengalami nasib serupa, dengan rentang waktu yang hanya berkisar dua minggu setelah berpulangnya ayah. Disusul ayah para sahabat, tulisan ini menjadi gambaran dasar untuk ketiga ibu kita atas penerimaan yang tidak mudah. (Al-Fatihah untuk ketiganya).

​Keempat, untuk siapa saja di luar sana yang mungkin secara tak sengaja menemukan tulisan ini di jagat internet mereka yang mungkin saat ini sedang terduduk di sudut rumah yang sunyi, menangis di atas sajadah subuh, dan merasa bahwa duka akibat kehilangan orang tercinta tidak akan pernah berakhir. Tulisan ini adalah bukti hidup bahwa duka memang tidak pernah hilang, namun manusia sanggup bertumbuh melampaui duka tersebut.

​Duka tidak menuntut kita untuk melupakan mereka yang telah pergi. Duka meminta kita untuk menemukan cara baru untuk mencintai. Dan di sini, di balik layar ponsel, jejak perjuangannya telah resmi diabadikan.

​Selamat malam dan selamat tidur, Ibu. Engkau telah menang atas dukamu.

​Dan untuk mendiang Ayah tercinta Masran Paputungan Al-Fatihah, abadi dalam ingatan. Selama-lamanya.**

Tri Deina Cahyani
Tentang Penulis:
Tri Deina Cahyani
 adalah jurnalis perempuan muda dari Kotamobagu. Ia berjiwa bebas, penyuka alam dan outdoor adventure. Tulisan ini merupakan sebuah esai personal dengan pendekatan otobiografis untuk mengenang kepergian mendiang ayahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here