Warga Tabang Mulai Terdampak Kekeringan, Tanaman Layu Hingga Gagal Panen

5
Warga Tabang mulai terdampak kekeringan, Tanaman layu hingga gagal panen
Sangadi Tabang, Junius Frits Dilapanga. (Foto: zonabmr/Ind)

ZONABMR.com – Minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir menjadi salah satu penyebab terjadinya kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Hal serupa juga turut dirasakan masyarakat Desa Tabang, Kota Kotamobagu. Sangadi Tabang, Junius F. Dilapanga, Senin (22/9/2026) di ruang kerjanya menyampaikan, kekeringan yang terjadi turut menimbulkan efek domino.

Menurutnya, kekeringan tak hanya berdampak pada sektor ekonomi tapi juga secara sosial. Bahkan lebih jauh, berpotensi menyebabkan terjadinya hal-hal kriminal.

Selain potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gagal panen dan tanaman layu menjadi ancaman paling nyata bagi masyarakat desa yang terletak di selatan Kotamobagu tersebut.

“Jika sekali panen itu tiga bulan maka hitungannya saat ini kita sudah satu kali gagal panen. Karena minimnya curah hujan sudah terjadi kurang lebih empat bulan terakhir,” ucapnya saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, tidak hanya tanaman bulanan yang terdampak melainkan tanaman tahunan seperti kakao dan palla juga ikut layu.

“Contohnya di kebun saya sudah ada beberapa kakao dan pala yang layu,” tambahnya.

Lanjut Junius, berkurangnya pendapatan dari sektor pertanian dan perkebunan juga dapat menimbulkan gesekan di antara masyarakat.

“Makanya selain mengimbau terkait karhutla, saya juga mengimbau agar hajatan yang belum begitu mendesak agar ditunda dulu,” harapnya.

Imbauan penundaan hajatan yang belum begitu mendesak cukup beralasan. Masyarakat Mongondow memiliki tradisi Pogogutat, sebuah tradisi gotong royong baik dalam bentuk tenaga maupun sumbangan secara materiil.

Meskipun tidak ada tuntutan secara konsensus, namun tradisi ini memiliki semacam keharusan untuk mengembalikan sumbangan dengan jumlah yang sama dengan yang pernah diterimanya.

“Jangan sampai masyarakat yang sudah berhajat saat ini belum punya apa-apa lalu memutuskan tidak hadir. Dikhawatirkan hal demikian memicu konflik di tengah masyarakat. Mudah-mudahan masyarakat juga paham dengan imbauan ini,” terangnya.

Ia juga berpendapat, lesunya putaran ekonomi dan rendahnya daya beli dikhawatirkan menimbulkan hal kriminal di tengah masyarakat, seperti terjadinya aksi pencurian atau kekacauan yang disebabkan warga yang depresi secara ekonomi.

“Jika (kekeringan) ini berlangsung lebih lama lagi maka pemerintah harus mengantisipasi efek domino dari kondisi ini,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here