Beranda blog

Monabang kon Lipu’: Geliat Warisan Leluhur Mongondow di Desa Siniyung

~Simbol keteguhan di desa sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai sosial, ekologi, dan penghormatan terhadap warisan leluhur tetap harus dirawat dan dilestarikan meski arus modernisasi saban hari kian menggerus.~

Oleh: Indra Umbola

Monabang kon Lipu’: Geliat warisan leluhur Mongondow di Desa Siniyung
Prosesi penyiapan obat-obatan dalam ritual Monabang kon Lipu’ (Foto: Hendra Manggopa)

ZONABMR.COM — Warga Desa Siniyung, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) nampak sedang bersiap-siap saat mentari baru saja menampakkan wujudnya, Minggu (14/06/2026). Hari itu akan menjadi hari yang panjang. Pagi hingga siang hari warga Siniyung yang mayoritas beragama Kristen akan melaksanakan ibadah ke gereja, setelahnya mereka akan mengikuti prosesi warisan ritual adat Monabang kon Lipu’.

Sementara, sebagian warga termasuk tetua adat dan pelaksana ritual Monabang kon Lipu’ telah melakukan persiapan sejak sehari sebelumnya di Puangan—sebutan untuk rumah adat di Desa Siniyung—yang berjarak kira-kira 500 meter dari jalan utama desa. Persiapan yang dilakukan termasuk menyiapkan obat-obatan herbal untuk kepentingan ritual.

Puangan yang dibangun di areal perkebunan desa sekilas mirip dengan balai pertemuan pada umumnya. Perbedaan baru terlihat saat mengintip ke dalam ruangan. Di kedua sisinya terdapat dipan panjang, sebuah pendopo kecil di depan, dan empat kamar yang dipergunakan untuk keperluan yang berbeda-beda, masing-masing tiga di sisi kiri dan satu di sisi kanan ruangan.

Rumah Adat Puangan di Desa Siniyung (Foto: Indra Umbola)

Seiring meningginya matahari, satu per satu warga, pemerintah desa, tokoh masyarakat dan para pemuka agama mulai berdatangan ke Puangan. Saat semuanya telah tiba, ritual Monabang kon Lipu’ segera dimulai dengan memanjatkan doa-doa keselamatan.

Obat-obatan yang terdiri dari aneka tumbuhan diramu dan dimasukkan ke dalam wadah dari daun woka—daun dari tanaman palem yang tumbuh subur di Sulawesi—yang disebut boku’, sebelum akhirnya dibawa para pelaksana ritual untuk dipercikkan ke seluruh wilayah desa, termasuk rumah-rumah warga.

Prosesi Monabang kon Lipu’ (Foto: Indra Umbola)

Monabang kon Lipu’ berakar dari tradisi Mongondow yang rutin dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan dan keamanan daerah. “Esensi dari Monabang kon Lipu’ adalah untuk keselamatan desa dan seluruh wilayah Bolaang Mongondow,” ucap Ketua Lembaga Adat Desa Siniyung, Zachius Manggopa.

Tradisi Monabang kon Lipu’ menjadi doa bersama agar kehidupan masyarakat tetap damai, terhindar dari konflik, serta selalu dilimpahi keselamatan dan kesejahteraan. Hal itu sejalan dengan yang disampaikan Sangadi Desa Siniyung, Oslan Laures. Menurutnya, pelestarian adat merupakan tanggung jawab bersama agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya.

Para tetua adat di Desa Siniyung (Foto: Indra Umbola)

“Ini bukan hanya tradisi tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Siniyung. Kami ingin anak cucu nanti tetap mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Monabang kon Lipu’,” ungkapnya.

Simbol perekat persatuan

Sebagai tradisi yang telah mengakar selama ratusan tahun, Monabang kon Lipu’ bukan lagi sebatas identitas budaya Mongondow melainkan telah bertransformasi menjadi ruang sosial. Hal itu terlihat dari tingginya antusiasme masyarakat yang notabenenya berasal dari latar belakang suku dan agama yang berbeda-beda.

Salah seorang pelaksana tradisi Monabang kon Lipu’ saat berkeliling kampung (Foto: Indra Umbola)

“Ritual ini merupakan pemersatu karena bukan hanya dilakukan oleh kita yang berasal dari suku Mongondow tapi semua suku yang telah tinggal di Desa Siniyung,” ucap Praktisi Budaya Desa Siniyung, Hendra Manggopa.

Proses gotong royong di balik pelaksanaan ritual menjadi bukti konkret bahwa Monabang kon Lipu’ telah menjadi identitas kolektif masyarakat Siniyung. Hendra berkisah, saat ritual hendak dilaksanakan, beberapa orang yang bertugas akan mengunjungi rumah satu per satu untuk mengumpulkan sumbangan ala kadarnya. Umumnya sumbangan dari masyarakat berupa beras dan bahan logistik lainnya.

“Semua kebutuhan yang digunakan dalam ritual adalah swadaya dari masyarakat,” tambahnya.

Monabang kon Lipu’ merupakan bagian dari ritual Monibi yang durasinya lebih panjang dengan persiapan yang lebih kompleks. Ritual Monibi bisa berlangsung selama tiga hingga tujuh hari. Adapun waktu dan durasi pelaksanaan ritual didasarkan pada wangsit yang diterima para tetua adat.

“Tahun ini ritual besarnya tidak dilaksanakan, kemungkinan tahun depan,” tambahnya.

Kesadaran Ekologis

Selain memiliki nilai budaya dan sosial, upacara adat juga dapat memiliki nilai ekologi yang penting. Sama halnya dengan ritual Monabang kon Lipu’ yang menempatkan Puncak Bukit Bumbungon sebagai entitas yang sakral.

Dijelaskan Hendra, sebagian besar aneka tumbuhan yang digunakan sebagai obat-obatan dalam ritual Monabang kon Lipu’ diambil langsung para Mogogonow (tabib desa) dari Puncak Bukit Bumbungon. Dengan begitu, upaya menjaga ekosistem agar tetap lestari merupakan hal yang mesti diperhatikan dengan saksama.

Praktisi Budaya Desa Siniyung, Hendra Manggopa (Foto: Indra Umbola)

“Obat-obatan herbal yang digunakan diambil dari Puncak Keramat Bumbungon,” ujar Hendra.

Dengan ditempatkannya Puncak Bukit Bumbungon sebagai entitas sakral dalam ritual Monabang kon Lipu’ menjadi isyarat pentingnya menjaga keseimbangan ekologi bagi masyarakat Siniyung.

Budayawan Bolmong, Uwin Mokodongan menambahkan, bagi masyarakat adat Desa Siniyung, hutan merupakan apotek dan laboratorium alami. Merusak hutan berarti merusak apotek alam itu sendiri.

“Di sinilah makna konservasi penting bagi kita. Karena ketika hutan atau kawasan tertentu rusak berarti ketersediaan obat untuk bahan ritual terancam,” ucapnya.

Tantangan

Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan sosial merupakan sebuah keniscayaan. Terlebih di era perkembangan teknologi informasi yang massif seperti saat ini, kontak dengan masyarakat dan kebudayaan lain lebih intens terjadi. Kondisi seperti itu acap kali mendegradasi kebudayaan lokal ke titik nadir.

Dikutip dari Pengantar Sosiologi, perubahan sosial tidak berarti kemajuan, tetapi dapat berupa kemunduran, meskipun dinamika sosial selalu diarahkan kepada gejala transformasi (pergeseran) yang bersifat linier. Sebagai contoh, hancurnya peradaban Yunani dan Kerajaan Mahapahit di masa silam.

Kigsley Davis berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Sedangkan Selo Soemardjan menyatakan, perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Menariknya, Hendra secara tegas menyatakan bahwa perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Siniyung tidak serta merta membawa pengaruh negatif pada eksistensi tradisi Monabang kon Lipu’. Justru kesadaran pentingnya melestarikan tradisi telah terbangun di benak setiap warga.

“Saat prosesi ritual berlangsung, tidak ada larangan siapa saja yang boleh hadir. Orang tua maupun anak-anak silakan datang. Jadi dengan sendirinya pengetahuan tentang tradisi telah terdistribusi kepada anak-anak,” ucapnya.

Rivo Inkiriwang, akademisi yang sempat melakukan riset tentang tradisi Monibi di Desa Siniyung berpendapat, Monabang kon Lipu’ telah menjadi perekat sosial. Sehingga masyarakat merasa ada yang kurang ketika tradisi ini tidak dilaksanakan.

“Jadi masyarakat merasa tradisi ini harus dilaksanakan,” ujar Rivo yang juga merupakan orientator di salah satu gereja di Kotamobagu.

Benteng Terakhir

Beberapa tahun silam, tradisi Monabang kon Lipu’ masih dapat ditemui di beberapa desa yang ada di dataran Dumoga, Bolmong, akan tetapi saat ini tradisi tersebut tinggal dapat ditemui di Siniyung.

“Di dataran Dumoga, tinggal di Siniyung yang masih melaksanakan tradisi ini. Karena hingga hari ini pelaksanaan ritual menjadi kesadaran kolektif masyarakat yang ada di desa ini. Jangan sampai hilang, karena jika tradisi ini hilang, tidak ada lagi anak cucu yang tahu,” ujar Hendra.

Uwin Mokodongan mengungkapkan, ritual atau upacara adat yang hingga hari ini masih dilakukan masyarakat Siniyung merupakan bagian dari tradisi kepercayaan kuno masyarakat Mongondow. Bahkan di era Punu’ Mokodoludut, tradisi ini telah terekam dengan baik lewat tradisi lisan hingga dicatat oleh etnolog di zaman Hindia Belanda.

“Penting digarisbawahi bahwa kepercayaan itu masih terus terwariskan secara turun temurun hingga hari ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, campur tangan pemerintah juga dianggap dapat memberi efek signifikan dalam upaya melestarikan kebudayaan lewat implementasi Undang-undang Pemajuan Kebudayaan.

“Ini sebenarnya masuk dalam agenda strategis pemerintah dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah kekayaan budaya yang dimiliki sehingga menajukannya ada bagian dari Upaya melestarikan nilai, identitas, dan jati diri bangsa untuk membawa ke persatuan nasional,” terangnya.

Uwin memberi contoh salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan membuat kebijakan yang berfungsi sebagai pelindung kawasan Puncak Bukit Bumbungon dari potensi perambahan.

“Dengan adanya produk hukum, dapat memberi dampak dalam melindungi kawasan yang merupakan apotek alami masyarakat Siniyung,” tutur Uwin.

Indra Ketangrejo, salah seorang warga Siniyung juga menyampaikan harapannya agar tradisi seperti Monabang kon Lipu’ dapat terus dilestarikan. “Hingga kini, Siniyung adalah benteng pelestarian budaya agar nilai-nilai tradisi dapat dikenal, dihargai, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya.

Apa yang dilakukan masyarakat Siniyung lewat tradisi Monabang kon Lipu’ adalah simbol keteguhan sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai sosial, ekologi, dan penghormatan terhadap warisan leluhur tetap harus dirawat dan dilestarikan meski arus modernisasi saban hari kian menggerus.

Indra Umbola

*Penulis adalah jurnalis lepas. Penyuka musik dan fotografi.

TCL Hadirkan VAR Penuh, Hendra Tegaskan Komitmen Panitia pada Fair Play dan Profesionalisme

TCL Hadirkan VAR Penuh, Hendra Tegaskan Komitmen Panitia pada Fair Play dan Profesionalisme
TCL Hadirkan VAR Penuh, Hendra Tegaskan Komitmen Panitia pada Fair Play dan Profesionalisme (Foto: Hen/Generated AI)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Ketua Panitia Penyelenggara Totabuan Champions League (TCL) 2026, Hendra Mokoagow, Selasa (16/6/2026), menegaskan komitmen panitia untuk menghadirkan kompetisi sepak bola yang tidak hanya meriah, tetapi juga berintegritas, profesional, dan menjunjung tinggi sportivitas.

Menurut Hendra, panitia menyadari bahwa perangkat pertandingan, khususnya wasit, memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kualitas dan keadilan setiap pertandingan. Karena itu, sejumlah langkah strategis telah disiapkan guna meminimalkan kesalahan manusia sekaligus meningkatkan standar penyelenggaraan kompetisi.

Langkah pertama adalah peningkatan kompetensi seluruh perangkat pertandingan melalui pembekalan intensif sebelum kompetisi dimulai. Pembekalan tersebut bertujuan menyamakan pemahaman terhadap interpretasi peraturan permainan sehingga setiap keputusan yang diambil dapat berlangsung konsisten di seluruh pertandingan.

Selain itu, TCL 2026 juga akan menerapkan sistem Video Assistant Referee (VAR) di seluruh pertandingan sejak laga pembuka hingga partai final. Kehadiran teknologi tersebut menjadi salah satu terobosan panitia dalam menjawab tuntutan sepak bola modern sekaligus mengurangi potensi kesalahan fatal yang dapat memengaruhi hasil pertandingan.

Melanjutkan penerapan teknologi yang sebelumnya digunakan pada Wali Kota Cup VII 2025, TCL 2026 kembali menghadirkan VAR di seluruh pertandingan. Langkah ini menjadi bukti keseriusan panitia dalam menjaga kualitas kompetisi sekaligus meningkatkan kepercayaan seluruh peserta terhadap setiap keputusan yang diambil di lapangan.

Hendra menegaskan, penggunaan VAR di seluruh pertandingan merupakan bagian dari visi panitia untuk menghadirkan kompetisi yang mampu menjadi tolok ukur penyelenggaraan turnamen sepak bola di daerah.

“Kami ingin TCL 2026 menjadi standar baru penyelenggaraan turnamen sepak bola di daerah. Karena itu, penggunaan VAR di seluruh pertandingan merupakan bentuk komitmen panitia untuk menghadirkan kompetisi yang profesional, transparan, dan berintegritas. Kami berharap teknologi ini dapat meningkatkan kepercayaan seluruh peserta, ofisial, suporter, dan masyarakat terhadap setiap hasil pertandingan,” ujar Hendra.

Tak hanya itu, panitia juga akan menerapkan sistem evaluasi berkelanjutan terhadap kinerja wasit. Evaluasi dilakukan seusai setiap pertandingan sebagai bentuk pengawasan terhadap kualitas kepemimpinan pertandingan.

Apabila ditemukan pelanggaran kode etik maupun kesalahan teknis yang melampaui batas kewajaran, panitia memastikan akan mengambil tindakan tegas sesuai regulasi kompetisi yang berlaku.

“Kami sangat menyadari harapan tinggi masyarakat dan terbuka terhadap segala kritik yang membangun demi kemajuan sepak bola daerah. Kepada rekan-rekan media, kami meminta bantuan untuk terus mengawal jalannya TCL 2026 agar tetap kompetitif dan sarat semangat sportivitas,” tutup Hendra.

GGMNU Kotamobagu Dimulai, Pawai Obor Tarik Atensi Warga hingga Tuai Aksi Spontan Berbagi

GGMNU Kotamobagu Dimulai, Pawai Obor Tarik Atensi Warga hingga Tuai Aksi Spontan Berbagi
GGMNU Kotamobagu Dimulai, Pawai Obor Tarik Atensi Warga hingga Tuai Aksi Spontan Berbagi (Foto: Udi)

Kotamobagu, ZONABMR.COM — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kotamobagu resmi memulai rangkaian Gebyar Gemilang Muharram Nahdlatul Ulama (GGMNU) dengan menggelar pawai obor dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Senin (15/6/2026) malam. Kegiatan ini sekaligus menandai dimulainya agenda tahunan baru PCNU Kotamobagu dalam menyemarakkan bulan Muharram.

Sekitar 600 peserta ambil bagian dalam pawai tersebut. Mereka berasal dari jajaran pengurus PCNU Kotamobagu, lembaga dan lajnah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), siswa-siswi MAN 1 Kotamobagu, MTsN 1 Kotamobagu, MTsN 2 Kotamobagu, MA Al-Hikmah, MTs Al-Hikmah, hingga masyarakat umum.

Anak-anak Kecil Berinisiatif Turut Serta Mengikuti Pawai Obor (Foto: Udi)

Ketua Tanfidziyah PCNU Kotamobagu, Hi. Nasrun Koto, mengatakan pawai obor menjadi pembuka rangkaian GGMNU sekaligus bentuk syiar Islam dalam menyemarakkan pergantian Tahun Baru Hijriah.

“Pawai obor dilaksanakan sebagai bentuk syiar Islam sekaligus upaya memeriahkan Tahun Baru Hijriah dengan kegiatan yang positif. Momentum ini diharapkan dapat mempererat ukhuwah Islamiyah, menanamkan semangat hijrah kepada generasi muda, serta mengajak masyarakat menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai awal untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial,” ujar Nasrun.

Pawai dimulai dari Masjid DC Manoppo di Kelurahan Matali dan berakhir di Masjid Al-Munawwarah, Kelurahan Molinow. Iring-iringan peserta membentang sepanjang kurang lebih 500 meter, melintasi tiga kecamatan dan empat kelurahan, dengan waktu tempuh sekitar 80 menit. Kehadiran ratusan peserta yang membawa obor sukses menarik perhatian warga di sepanjang rute.

Salah satu momen yang paling menyentuh terjadi di Kelurahan Motoboi Kecil. Pemilik Kios Meki, Meki Paputungan bersama istrinya, secara spontan mengambil sejumlah makanan ringan dari dagangan mereka untuk dibagikan kepada peserta pawai sebagai bentuk kebahagiaan menyambut Tahun Baru Islam.

Warga Melakukan Aksi Spontan Membagikan Snack Kepada Peserta Pawai (Foto: Udi)

Aksi tersebut membuat Sekretaris PCNU Kotamobagu, Faisal Samarati terharu.

“Masya Allah, masih ada suami istri yang tergerak memberikan snack kepada peserta pawai obor sebagai bentuk kebahagiaan menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua PC Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kotamobagu, Merdi F. Mamonto, menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan kegiatan pembuka GGM-NU.

Menurutnya, keberhasilan pawai obor menjadi bukti kekompakan seluruh pengurus PCNU beserta lembaga, lajnah, dan MWCNU yang langsung bergerak menjalankan program setelah pelaksanaan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab).

“Alhamdulillah, GGMNU Kota Kotamobagu sukses di bawah komando langsung Ketua Tanfidziyah bersama seluruh pengurus. Ini menunjukkan bahwa berkhidmat di NU bukan sekadar berkarya lewat kata-kata, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata. Semoga seluruh pengurus senantiasa diberikan kesehatan, umur yang berkah, kemudahan dalam menjalankan program, serta memperoleh ridha Allah SWT dan Rasul-Nya,” katanya.

Antusiasme juga datang dari kalangan peserta. Jihan Ligatu, siswi kelas X MAN 1 Kotamobagu, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut.

“Jangan hanya Tahun Baru Masehi yang dirayakan. Harapannya tahun depan pesertanya lebih banyak lagi, bahkan seluruh masyarakat Muslim di Kotamobagu bisa ikut memeriahkannya,” harap Jihan.

Jihan Ligatu Bersama Rekan-rekan Siswi MAN 1 Kotamobagu, Beharap GGMNU Rutin Dilaksanakan (Foto: Udi)

Usai pawai obor, rangkaian GGMNU masih akan berlanjut dengan sejumlah agenda keagamaan dan kebudayaan, di antaranya menghadirkan Syekh Muhammad Jaber sebagai penceramah dalam tabligh akbar serta Festival Musik Islami.

PCNU Kotamobagu menargetkan GGMNU menjadi agenda tahunan yang terus berkembang sebagai wadah syiar Islam, penguatan ukhuwah, sekaligus ruang ekspresi budaya Islami di Kota Kotamobagu.

Kasus PETI Oboy Kian Meredup, Kelanjutan SPDP Belum Jelas

Kasus PETI Oboy Kian Meredup, Kelanjutan SPDP Belum Jelas
(Foto: Generated AI)

Bolmong, ZONABMR.COM – Penanganan kasus dugaan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Oboy, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, dinilai mulai kehilangan gaung.

Meski Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) telah diterbitkan dan dikirim ke Kejaksaan Negeri Kotamobagu sejak beberapa bulan lalu, hingga kini belum terlihat perkembangan signifikan yang dapat menjawab harapan publik.

Kasus yang melibatkan PT Xinfeng Gemah Semesta beserta sejumlah pihak terkait itu sebelumnya sempat menjadi perhatian karena aparat kepolisian melakukan penyegelan lokasi tambang dan menyita tiga unit alat berat jenis ekskavator sebagai barang bukti. Namun, seiring berjalannya waktu, proses hukum yang diharapkan berjalan cepat justru terkesan berjalan lambat dan belum menunjukkan titik terang.

Di tengah belum adanya informasi terbaru mengenai perkembangan penyidikan, muncul laporan dugaan bahwa aktivitas pertambangan kembali berlangsung di lokasi yang sebelumnya telah dipasangi garis polisi.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan serta keseriusan penegakan hukum terhadap kasus tersebut.

Saat dikonfirmasi, Senin (15/6/2026), Kasat Reskrim Polres Bolmong, IPTU Hardy Yanto Daeng, menegaskan bahwa perkara PETI Oboy belum dihentikan. Menurutnya, hingga saat ini penyidik masih menangani kasus tersebut dan belum ada perintah penghentian penyidikan.  “Oboy masih dalam penanganan, belum ada perintah penghentian kasus,” ujar Hardy.

Meski demikian, lambatnya perkembangan yang terlihat di ruang publik membuat sejumlah kalangan menilai kasus ini mulai meredup. Sorotan masyarakat yang sebelumnya cukup kuat kini bergeser menjadi pertanyaan mengenai sejauh mana tindak lanjut penyidikan setelah SPDP diterbitkan.

Perhatian terhadap kasus ini bahkan sempat bergema hingga tingkat nasional melalui aksi demonstrasi di Mabes Polri. Massa mendesak agar penegakan hukum terhadap praktik pertambangan ilegal dilakukan secara konsisten tanpa pandang bulu.

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan juga telah menegaskan komitmen pemerintah untuk memberantas praktik-praktik ilegal di sektor sumber daya alam. Ia meminta seluruh aparat negara bekerja untuk kepentingan rakyat dan tidak memberikan ruang bagi aktivitas yang melanggar hukum.

Hal serupa disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menegaskan bahwa aktivitas pertambangan tanpa izin tidak dapat dibenarkan dan harus tetap memperhatikan aspek lingkungan hidup.

Dari tingkat daerah, Kepala Dinas ESDM Sulawesi Utara, Frans Maindoka, juga mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi pertambangan. Ia menegaskan bahwa setiap aktivitas pertambangan harus terlebih dahulu mengantongi izin sesuai ketentuan yang berlaku.

Hingga kini, masyarakat masih menantikan kejelasan arah penanganan perkara tersebut. Publik berharap aparat penegak hukum dapat memberikan kepastian terkait perkembangan penyidikan sekaligus memastikan tidak ada lagi aktivitas PETI yang berlangsung selama proses hukum masih berjalan.*

Gelar Muskercab, PCNU Kotamobagu Tetapkan Program Kerja Prioritas Sembilan Lembaga

Gelar Muskercab, PCNU Kotamobagu Tetapkan Program Kerja Prioritas Sembilan Lembaga
Gelar Muskercab, PCNU Kotamobagu Tetapkan Program Kerja Prioritas Sembilan Lembaga (Foto: Jamal/PCNU Kotamobagu)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kotamobagu menetapkan program kerja prioritas sembilan lembaga untuk masa khidmat 2026–2031 melalui Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I yang digelar di Aula MAN 1 Kotamobagu, Kelurahan Mongondow, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Ahad (14/6/2026).

Forum permusyawaratan tertinggi di tingkat cabang itu menjadi momentum penyusunan arah kebijakan organisasi. Masing-masing ketua maupun perwakilan lembaga memaparkan program kerja jangka pendek, menengah, dan jangka panjang yang akan menjadi pedoman pelaksanaan khidmat selama lima tahun ke depan.

Sembilan lembaga yang mempresentasikan program kerjanya meliputi Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU), Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU), Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI), serta Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU).

Dari sejumlah program yang dipaparkan, beberapa di antaranya menjadi prioritas strategis. LP Ma’arif NU menargetkan peletakan batu pertama pembangunan SD Ma’arif sebagai tonggak kesungguhan PCNU Kota Kotamobagu dalam memperjuangkan kemajuan pendidikan. Sementara itu, LESBUMI menetapkan target menghasilkan sedikitnya satu lagu setiap tahun dengan lirik berbahasa Indonesia yang dipadukan dengan bahasa Mongondow sebagai media dakwah kreatif yang menyasar generasi muda sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

Setelah melalui pembahasan dalam sidang pleno Muskercab, seluruh program yang diajukan masing-masing lembaga disepakati dan ditetapkan sebagai program kerja prioritas PCNU Kota Kotamobagu masa khidmat 2026–2031.

Keputusan tersebut dituangkan dalam Surat Ketetapan Muskercab I PCNU Kota Kotamobagu Nomor: 213/MUSKERCAB-PCNU/VI/2026 tentang Penetapan Program Kerja Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Kotamobagu Masa Khidmat 2026–2031.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kotamobagu, Hi. Nasrun Koto, mengatakan Muskercab bukan sekadar forum menyusun program kerja, tetapi menjadi titik awal pengabdian seluruh pengurus untuk mewujudkan kemanfaatan organisasi bagi umat.

Hi. Nasrun Koto Saat Memberikan Penyampaian (Foto: Jamal/PCNU Kotamobagu)

“Saya mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk bersama-sama membesarkan Nahdlatul Ulama. Program kerja yang telah kita tetapkan hari ini jangan hanya berhenti sebagai dokumen organisasi atau sebatas dipaparkan dalam forum, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Mari kita menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, dan membangun sinergi dengan seluruh elemen serta organisasi keagamaan yang memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan kemaslahatan bagi umat,” ujar Nasrun.

Nasrun mengungkapkan rasa bangganya atas semangat para pengurus sembilan lembaga dalam menyusun program kerja yang dinilai realistis dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, keberanian menetapkan program-program yang menyentuh langsung bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, kesehatan, hingga kebudayaan menunjukkan keseriusan PCNU Kota Kotamobagu dalam menghadirkan organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menegaskan, seluruh program yang telah ditetapkan melalui Muskercab harus menjadi komitmen bersama untuk direalisasikan secara bertahap sesuai skala prioritas. Karena itu, ia berharap hasil Muskercab tidak berhenti sebagai produk administrasi organisasi, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Selain itu, Nasrun juga mengajak seluruh pengurus PCNU, badan otonom, dan warga Nahdliyin untuk terus menjaga persatuan serta memperkuat hubungan baik dengan berbagai organisasi keagamaan dan elemen masyarakat. Menurutnya, kolaborasi menjadi salah satu kunci dalam menghadirkan pelayanan, pemberdayaan, dan kemaslahatan yang lebih luas bagi umat.

Muskercab I PCNU Kota Kotamobagu dihadiri Rais Syuriyah PCNU Kota Kotamobagu, jajaran Tanfidziyah, para Mustasyar, Ketua Steering Committee beserta anggota, Ketua Organizing Committee bersama panitia pelaksana, serta para ketua dan pengurus lembaga di lingkungan PCNU Kota Kotamobagu.

Pengurus PCNU Kotamobagu dan Sembilan Lembaga NU Masa Khidmat 2026–2031 Resmi Dilantik

Pengurus PCNU Kotamobagu dan Sembilan Lembaga NU Masa Khidmat 2026–2031 Resmi Dilantik
Pengurus PCNU Kotamobagu dan Sembilan Lembaga NU Masa Khidmat 2026–2031 Resmi Dilantik (Foto: Udi)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kotamobagu bersama sembilan lembaga di lingkungan PCNU resmi dilantik untuk masa khidmat 2026–2031 dalam prosesi yang berlangsung di Hotel Sutanraja Kotamobagu, Ahad (7/6/2026).

Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Utara, KH. Ulyas Taha, serta dihadiri Asisten III Pemerintah Kota Kotamobagu, Moch. Agung Adati, yang mewakili Wali Kota Kotamobagu, jajaran PWNU Sulawesi Utara, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga Nahdliyin.

Dalam sambutannya, KH. Ulyas Taha mengawali dengan mengajak seluruh hadirin memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT atas terselenggaranya pelantikan tersebut. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus yang telah bersedia mengemban amanah sebagai bentuk pengabdian kepada Nahdlatul Ulama dan masyarakat.

(Foto: Limz)

Menurutnya, menjadi pengurus bukan sekadar menduduki jabatan, melainkan bagaimana mampu memberikan kontribusi nyata bagi organisasi dan memberikan manfaat bagi sesama.

“Keberhasilan dan keberkahan adalah hak Allah SWT. Tugas kita adalah terus berikhtiar, bekerja dengan ikhlas, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Jangan melihat siapa yang paling lama menjadi pengurus atau jabatan apa yang diemban, tetapi siapa yang paling besar pengabdiannya kepada organisasi dan masyarakat,” ujar KH. Ulyas Taha.

Pengurus PCNU Kotamobagu dan Sembilan Lembaga NU Masa Khidmat 2026–2031 Resmi Dilantik
(Foto: Udi)

Ia juga mengajak seluruh pengurus menjaga persatuan, memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan suku maupun agama, serta menjadikan NU sebagai organisasi yang terus membawa manfaat dan rahmat bagi semua.

Sementara itu, Ketua PCNU Kotamobagu, Hi. Nasrun Koto, mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk bersama-sama membesarkan organisasi dan mendukung kepengurusan baru dalam menjalankan amanah.

“NU bukan milik kelompok tertentu, tetapi rumah bersama. Karena itu kami mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk ikut membesarkan organisasi ini. Kami optimistis seluruh program PCNU dan sembilan lembaga dapat berjalan dengan baik karena didukung semangat pengurus, terutama kader-kader muda yang memiliki niat tulus untuk mengabdi kepada umat dan masyarakat,” ujar Nasrun.

Menurutnya, ia percaya kepengurusan yang baru dilantik mampu memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menghadirkan program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat di berbagai bidang, mulai dari keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, hingga kebudayaan.

Di kesempatan yang sama, Asisten III Pemerintah Kota Kotamobagu, Moch. Agung Adati, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus yang baru dilantik.

“Atas nama Pemerintah Kota Kotamobagu, kami mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus PCNU Kotamobagu dan sembilan lembaga Nahdlatul Ulama yang baru dilantik. Kami berharap amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Agung menegaskan Pemerintah Kota Kotamobagu akan terus memperkuat sinergi dengan Nahdlatul Ulama dalam mendukung pembangunan daerah.

“Pemerintah Kota Kotamobagu memandang Nahdlatul Ulama sebagai mitra strategis dalam mendukung pembangunan daerah, terutama di bidang keagamaan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Kami berharap kerja sama yang selama ini terjalin dapat terus diperkuat demi mewujudkan masyarakat Kotamobagu yang maju, sejahtera, dan religius,” ujarnya.

Adapun sembilan lembaga di lingkungan PCNU Kotamobagu yang turut dilantik yakni Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU), Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU), Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI), serta Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU).

Pelantikan tersebut menjadi awal kepengurusan PCNU Kotamobagu dan sembilan lembaga untuk menjalankan program-program organisasi selama masa khidmat 2026–2031, sekaligus memperkuat peran Nahdlatul Ulama sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun kehidupan keagamaan, sosial, pendidikan, dan kemasyarakatan di Kota Kotamobagu.

Semangat Nahdliyin Menguat, PCNU Kotamobagu Rampungkan Persiapan Pelantikan

Semangat Nahdliyin Menguat, PCNU Kotamobagu Rampungkan Persiapan Pelantikan
Semangat Nahdliyin Menguat, PCNU Kotamobagu Rampungkan Persiapan Pelantikan (Foto: Udi)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kotamobagu mematangkan persiapan pelantikan pengurus cabang bersama sembilan lembaga Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026-2031 yang akan digelar di Hotel Sutanraja Kotamobagu pada Ahad, 7 Juni 2026 mendatang.

Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan di Cafe Kopi Korot, Kelurahan Kotobangon, Kota Kotamobagu, Jumat (5/6/2026). Rapat dihadiri sekitar 60 peserta yang terdiri dari jajaran pengurus PCNU dan perwakilan lembaga-lembaga yang akan dilantik. Meski demikian, jumlah tersebut belum mencakup seluruh pengurus yang akan terlibat dalam pelantikan mendatang.

Ketua PCNU Kotamobagu, Hi. Nasrun Koto, mengatakan rapat tersebut membahas kesiapan teknis dan administratif pelantikan sekaligus memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai rencana.

Menurut Nasrun, tingkat kesiapan pelaksanaan saat ini telah mencapai sekitar 90 hingga 95 persen. Berbagai kebutuhan pelaksanaan, mulai dari administrasi, koordinasi panitia hingga teknis acara terus dimatangkan menjelang hari pelantikan.

“Alhamdulillah, persiapan pelantikan PCNU dan lembaga-lembaga NU masa khidmat 2026-2031 sudah hampir rampung. Tingkat kesiapan kami saat ini berada di kisaran 90 sampai 95 persen. Insya Allah tinggal menunggu finalisasi beberapa hal teknis dan pelaksanaan pada hari H,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan kegiatan tersebut telah dikoordinasikan dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Utara maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Berbagai mekanisme formal, termasuk penyampaian surat dan administrasi organisasi, telah dijalankan sesuai ketentuan.

“Koordinasi dengan pengurus wilayah dan PBNU sudah dilakukan. Semua proses administrasi dan penyuratan telah berjalan dengan baik. Kami juga telah mendapatkan persetujuan dan informasi bahwa akan ada delegasi dari PBNU yang hadir dalam pelantikan nanti,” katanya.

Pelantikan pengurus PCNU Kotamobagu dan sembilan lembaga NU tersebut rencananya akan dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Utara, KH. Ilyas Taha.

Selain jajaran PWNU Sulawesi Utara, kegiatan tersebut juga dijadwalkan dihadiri Pemerintah Kota Kotamobagu, tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi kemasyarakatan, serta berbagai unsur undangan lainnya.

Nasrun juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh warga Nahdliyin dalam membesarkan organisasi. Menurutnya, NU merupakan rumah bersama yang terbuka bagi seluruh kalangan.

“NU bukan milik kelompok tertentu. NU milik kita semua. Karena itu kami mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk bersama-sama berpartisipasi dan mengambil peran dalam membangun organisasi ini,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi tingginya antusiasme generasi muda yang terlibat dalam kepengurusan maupun kegiatan-kegiatan organisasi. Menurutnya, semangat kader muda menjadi modal penting dalam menjalankan program-program lembaga ke depan.

“Kami optimistis program-program lembaga akan berjalan dengan baik karena didukung semangat pengurus dan kader muda yang luar biasa. Ini menjadi energi baru bagi NU di Kotamobagu untuk terus hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Adapun sembilan lembaga yang akan dilantik bersama kepengurusan PCNU Kotamobagu masa khidmat 2026-2031 yakni Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU), Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU), Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI), serta Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU).

Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi, mempererat sinergi dengan pemerintah daerah, serta mendorong lahirnya berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat Kota Kotamobagu dan sekitarnya.

Kepolisian Tegaskan Penertiban PETI di Bakan Dilakukan Sesuai Prosedur dan Atas Permintaan Pemilik Lahan

Kepolisian Tegaskan Penertiban PETI di Bakan Dilakukan Sesuai Prosedur dan Atas Permintaan Pemilik Lahan
Kepolisian Tegaskan Penertiban PETI di Bakan Dilakukan Sesuai Prosedur dan Atas Permintaan Pemilik Lahan (Foto: Udi)

Bolmong, ZONABMR.COM – Upaya penertiban aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Rabu (3/6/2026), sempat diwarnai penolakan dari sejumlah warga yang masih beraktivitas di lokasi tambang.

Meski demikian, aparat kepolisian memastikan situasi di lapangan tetap terkendali dan tidak menimbulkan korban jiwa selama proses penertiban berlangsung.

Kapolres Kotamobagu AKBP Irwanto menjelaskan, langkah penertiban dilakukan setelah pihaknya menerima permohonan dari pemilik lahan yang keberatan tanah miliknya digunakan untuk aktivitas pertambangan tanpa izin.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, salah satu pemilik lahan yang mengajukan permohonan penertiban tersebut adalah Djamaludin Ismail. Permintaan itu disampaikan melalui surat resmi kepada kepolisian untuk menertibkan aktivitas PETI yang berlangsung di atas lahan miliknya.

Menurut Kapolres, pemilik lahan telah menyampaikan surat permohonan resmi kepada kepolisian agar dilakukan penertiban terhadap aktivitas PETI yang berlangsung di area tersebut.

“Pemilik lahan telah mengajukan permintaan penertiban melalui surat resmi yang disampaikan kepada Polres. Dasar itulah yang kemudian ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian,” kata Irwanto.

Saat petugas berada di lokasi, sebagian warga yang bekerja sebagai penambang sempat melakukan penolakan. Namun aparat berhasil mengendalikan situasi sehingga tidak berkembang menjadi bentrokan.

Kapolres juga membantah informasi yang menyebut adanya korban akibat tindakan aparat saat penertiban berlangsung. Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan terdokumentasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain aspek penegakan hukum, Irwanto menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam penertiban tersebut.

Aktivitas PETI dinilai memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan para penambang, terutama karena dilakukan tanpa standar operasional dan pengawasan yang memadai.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Kawasan pertambangan rakyat di wilayah Bakan dan sekitarnya pernah beberapa kali menjadi lokasi kecelakaan tambang.

Salah satu peristiwa paling tragis terjadi di area Busa, tidak jauh dari lokasi yang saat ini digarap warga, di mana insiden tambang beberapa tahun lalu menyebabkan korban penambang meninggal dunia akibat tertimbun material tambang.

Tragedi kecelakaan tambang dengan korban jiwa terbanyak di Sulut tersebut, hingga kini masih menjadi pengingat akan tingginya risiko aktivitas pertambangan yang dilakukan tanpa izin dan tanpa memperhatikan aspek keselamatan kerja.

Dukungan terhadap langkah kepolisian juga datang dari Ketua Umum Masyarakat Penambang Rakyat Indonesia (MPRI), Sehan Ambaru. Menurutnya, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas pertambangan rakyat.

“Kita tidak ingin lagi terjadi musibah yang merenggut nyawa para penambang. Keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, langkah-langkah yang bertujuan mencegah jatuhnya korban jiwa patut didukung,” ujar Sehan.

Ia menambahkan, perjuangan masyarakat untuk memperoleh legalitas pertambangan rakyat harus tetap dilakukan melalui mekanisme yang sesuai aturan dan mengedepankan aspek keselamatan kerja.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Kotamobagu AKP Rusdin Zima yang memimpin jalannya penertiban mengatakan kondisi di lokasi saat ini relatif kondusif. Aparat masih melakukan pemantauan guna mencegah terjadinya gangguan keamanan maupun potensi kecelakaan yang dapat membahayakan masyarakat.

“Kami terus melakukan pengamanan dan pemantauan agar situasi tetap aman serta tidak menimbulkan korban,” ujarnya. ***

RG Entertainment Hadir di Tengah Warga Solimandungan yang Masih Bergelut dengan Lumpur Banjir

RG Entertainment Hadir di Tengah Warga Solimandungan yang Masih Bergelut dengan Lumpur Banjir
Gayatri R. Bangsawan bersama Tim RG Entertainment Berbincang dengan Camat Bolaang, Nini Kusrini Rohis di Posko Penangan Bencana (Foto: Udi)

Bolmong, ZONABMR.COM – Sehari setelah banjir bandang menerjang Desa Solimandungan I dan Desa Solimandungan II, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow, bantuan mulai berdatangan untuk warga terdampak.

Pada Kamis, 28 Mei 2026, sekira pukul 16.00 WITA, RG Entertainment dipimpin langsung CEO-nya, Gayatri R. Bangsawan, hadir langsung di Posko Penanganan Darurat Bencana di Masjid An-Nur, Desa Solimandungan II, membawa bantuan kebutuhan pokok bagi warga yang masih bergelut dengan lumpur dan dampak bencana.

Gayatri, yang juga merupakan istri dari Revan Bangsawan, datang bersama jajaran manajemen dan tim RSB Grup membawa bantuan berupa beras, mie instan, air minum kemasan, dan makanan siap saji untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak banjir bandang.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh Camat Bolaang, Nini Kusrini Rohis, sebelum didistribusikan kepada warga terdampak di Desa Solimandungan I dan Desa Solimandungan II.

“Bantuan dari Ibu Gayatri R. Bangsawan bersama RG Entertainment dan RSB Grup diserahkan langsung di Posko Penanganan Darurat Bencana yang berada di Masjid An-Nur, Desa Solimandungan II. Bantuan ini sangat dibutuhkan oleh warga yang terdampak banjir bandang. Kami menerimanya dengan penuh rasa syukur karena akan sangat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di tengah masa tanggap darurat,” ujar Nini.

Menurut Nini, kepedulian yang ditunjukkan berbagai pihak menjadi energi tersendiri bagi masyarakat yang sedang berupaya bangkit dari dampak bencana.

“Atas nama pemerintah kecamatan dan seluruh warga terdampak, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Gayatri R. Bangsawan beserta seluruh jajaran RG Entertainment dan RSB Grup. Kehadiran mereka di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga memberikan semangat dan harapan bagi warga untuk bangkit kembali,” katanya.

Sementara itu, Gayatri mengatakan kehadirannya merupakan bentuk kepedulian dan rasa persaudaraan terhadap warga yang sedang menghadapi cobaan.

“Melihat penderitaan saudara-saudara kita di sini, hati kami tergerak untuk segera datang dan berbagi. Apa yang kami bawa ini mungkin tidak seberapa dibandingkan kerugian yang dialami, namun kami berharap kehadiran kami dan bantuan sederhana ini bisa sedikit meringankan beban dan menjadi penghibur hati. Kami berdoa semoga warga senantiasa diberi kekuatan, kesabaran, dan segera pulih kembali seperti sedia kala,” ujarnya.

Ia juga menitipkan pesan penyemangat kepada warga yang masih berjuang membersihkan rumah dan lingkungan mereka dari sisa banjir.

“Kami juga ingin menitipkan pesan, tetap kuat untuk seluruh warga Desa Solimandungan I dan Desa Solimandungan II. Tuhan Yang Maha Esa pasti memberikan kekuatan dan perlindungan untuk kita semua,” tambah Gayatri.

Berdasarkan asesmen cepat BPBD Bolaang Mongondow, banjir dan banjir bandang yang terjadi pada 27 Mei 2026 dipicu meluapnya Sungai Botuk setelah hujan berintensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama sepekan terakhir.

Bencana itu melanda empat desa di Kecamatan Bolaang, yakni Solimandungan I, Solimandungan II, Solimandungan Baru, dan Komangaan.

Data sementara BPBD hari ini, mencatat sebanyak 134 rumah terdampak yang dihuni 181 kepala keluarga atau 601 jiwa. Selain permukiman warga, sejumlah fasilitas umum juga terdampak, di antaranya Masjid An-Nur Solimandungan II, SDN 2 Solimandungan II, kantor desa, pustu, dan gedung taman kanak-kanak.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir menyisakan tumpukan lumpur, kayu, dan sampah yang masih dibersihkan hingga saat ini oleh pemerintah daerah, TNI-Polri, relawan, dan masyarakat setempat.

BPBD juga mencatat kebutuhan mendesak warga saat ini meliputi makanan siap saji, alat kebersihan, pakaian layak pakai, perlengkapan tidur, perlengkapan dapur, serta kebutuhan bayi. Di tengah proses pemulihan tersebut, bantuan dari berbagai pihak masih sangat dibutuhkan untuk membantu warga bangkit dari dampak bencana yang mereka alami.

Aliansi Kemanusiaan Wartawan BMR Peduli Bencana Salurkan Bantuan Untuk Warga Solimandungan

Aliansi Kemanusiaan Wartawan BMR Peduli Bencana Salurkan Bantuan Untuk Warga Solimandungan
Aliansi Kemanusiaan Wartawan BMR Peduli Bencana Menyerahkan Bantuan Kepada Warga Terdampak Banjir Solimandungan (Foto: ZB)

Bolmong, ZONABMR.COM – Aliansi Kemanusiaan (Alken) Wartawan Bolaang Mongondow Raya (BMR) Peduli Bencana menunjukkan aksi nyata kepedulian terhadap warga terdampak banjir bandang di Desa Solimandungan I dan Desa Solimandungan II, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kamis (28/5/2026).

Dalam aksi kemanusiaan tersebut, bantuan yang difokuskan untuk warga Solimandungan disalurkan berupa makanan siap saji, air mineral, serta kebutuhan pokok lainnya guna membantu meringankan beban masyarakat pascabencana.

Tak hanya bantuan logistik, Komunitas Wartawan BMR juga membawa satu unit excavator mini untuk membantu membersihkan material lumpur, batang kayu, dan ranting yang menumpuk di tengah permukiman warga akibat banjir bandang.

Berdasarkan data sementara BPBD Bolaang Mongondow, total terdapat 181 kepala keluarga atau 601 jiwa terdampak banjir bandang di empat desa di Kecamatan Bolaang.

Dari jumlah tersebut, Desa Solimandungan II menjadi wilayah paling parah terdampak dengan 142 kepala keluarga atau 460 jiwa terdampak, sementara Desa Solimandungan I tercatat sebanyak 24 kepala keluarga atau 89 jiwa terdampak.

Tumpukan lumpur, batang kayu, ranting, dan material tanah masih menutupi akses menuju rumah-rumah warga. Bekas lumpur terlihat menempel di dinding rumah hingga bagian teras, menandakan tingginya genangan air saat banjir menerjang permukiman.

Personel gabungan TNI, Polri, bersama warga tampak bergotong royong membersihkan material banjir yang masuk hingga ke dalam rumah. Material kayu berukuran besar yang terbawa arus deras juga masih berserakan di sekitar pemukiman warga.

Sangadi Solimandungan II, B. Balongka, mengatakan banjir besar sebenarnya pernah terjadi pada tahun 1982. Namun menurutnya, dampak banjir kali ini jauh lebih parah dibanding sebelumnya.

“Tahun 1982 pernah juga banjir material koral dari gunung karena longsor. Waktu itu sampai ada dua rumah hanyut. Tapi sekarang ini lebih parah,” kata B. Balongka saat ditemui di lokasi banjir.

Ia mengatakan derasnya arus banjir turut menyeret material kayu dari kawasan pegunungan. Kayu-kayu tersebut diduga berasal dari kawasan hutan produksi dan tanaman jati yang berada di wilayah atas desa.

Meski demikian, B. Balongka menegaskan masyarakat memiliki aturan ketat untuk mencegah praktik penebangan liar di kawasan pegunungan yang memiliki kemiringan ekstrem.

“Kalau ada illegal logging, ada perdes, linmas, dan lembaga adat yang akan turun. Karena kemiringan sampai 90 derajat, tidak boleh ada illegal logging,” tegasnya.

Mewakili masyarakatnya, ia menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian para wartawan yang datang memberikan bantuan.

“Terima kasih kepada saudara-saudara wartawan yang peduli kepada kami, kebaikan ini dibalas dengan sebaik-baiknya oleh Allah SWT,” ucapnya.

Wandi Ginoga, wartawan kasekabar yang tergabung dalam aliansi mengatakan, bahwa kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam mempercepat bantuan kepada korban bencana.

“Kami berterima kasih kepada teman-teman aliansi serta orang-orang baik lainnya yang telah mempercayakan penyaluran bantuannya kepada Kami,” ujar Wandi.

Ia menjelaskan, bantuan yang disalurkan berupa makanan siap saji serta dukungan alat berat untuk membantu proses pembersihan wilayah terdampak banjir di Solimandungan.

“Bantuan ini untuk mendukung pemenuhan kebutuhan darurat saudara-saudara kita di Solimandungan Bersatu yang tengah menghadapi cobaan akibat bencana alam,” katanya.

Juan Damopolii, wartawan Rakyat Sulut yang turut terlibat dalam penyaluran bantuan mengatakan aksi tersebut lahir dari spontanitas dan rasa empati para jurnalis setelah melihat kondisi warga terdampak banjir di Solimandungan.

“Ini merupakan tindakan responsif dari komunitas wartawan dan bentuk nyata solidaritas serta kepedulian terhadap sesama manusia,” ujar Juan.

Menurutnya, kehadiran Alken Wartawan BMR di tengah-tengah warga terdampak, menjadi pesan bahwa masyarakat Solimandungan tidak sendiri menghadapi cobaan tersebut.

“Insya Allah kami para wartawan BMR tak akan berpangku tangan saat ada saudara-saudara kami yang tertimpa musibah,” tutupnya.