Beranda blog Halaman 28

Pawai Pembangunan Meriahkan HUT ke-80 RI di Kotamobagu

Pawai Pembangunan Meriahkan HUT ke-80 RI di Kotamobagu
Pawai Pembangunan Meriahkan HUT ke-80 RI di Kotamobagu

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Suasana penuh warna mewarnai Kota Kotamobagu pada Selasa, 19 Agustus 2025.

Ribuan warga tumpah ruah di jalanan untuk menyaksikan Pawai Pembangunan yang digelar Pemerintah Kota Kotamobagu dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan ini dilepas langsung oleh Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib, di depan Rumah Dinas Wali Kota.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pawai ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan juga wujud kecintaan dan kebanggaan masyarakat terhadap perjuangan para pahlawan.

“Pawai karnaval bukan hanya perayaan, tetapi juga bentuk nyata rasa cinta, kebanggaan, serta penghormatan kita terhadap mereka yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya kemerdekaan bangsa,” ungkap Wali Kota.

Weny Gaib mengingatkan, kemerdekaan yang hari ini dinikmati seluruh rakyat adalah hasil dari pengorbanan besar para pendahulu.

Karena itu, generasi muda diharapkan mampu mengisinya dengan kerja keras, dedikasi, serta inovasi demi kemajuan bangsa dan daerah.

Mengusung tema nasional “Indonesia Emas 2045, Melaju dengan Semangat Persatuan dan Inovasi”, perayaan tahun ini disebut menjadi pengingat penting.

Persatuan menjadi fondasi kokoh bangsa, sementara inovasi menjadi kunci untuk bersaing di era yang terus berubah.

Pawai Pembangunan sendiri menghadirkan beragam penampilan. Anak-anak sekolah, organisasi kepemudaan, hingga komunitas masyarakat tampil dengan kostum meriah, seni kreasi, serta ekspresi budaya lokal yang memikat mata. Jalanan pun berubah menjadi panggung besar penuh warna dan keceriaan.

“Inilah bukti bahwa kebudayaan lokal tetap hidup, tumbuh, dan menjadi bagian penting dari identitas bangsa. Pawai ini juga memberi pesan, bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus kita rawat dalam bingkai persatuan,” tutur Wali Kota.

Ia menutup sambutannya dengan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda Kotamobagu, menjadikan semangat 17 Agustus sebagai api perjuangan dalam membangun daerah agar lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

Apresiasi pun disampaikan kepada seluruh peserta karnaval, sekolah, organisasi, hingga masyarakat yang dengan antusias memeriahkan pawai tahunan ini.

“Semoga kebersamaan dan kekompakan ini terus terjaga, sehingga Kotamobagu selalu menjadi kota yang damai, rukun, dan penuh semangat gotong royong,” kata Wali Kota menutup pidatonya.

Pawai Pembangunan akhirnya menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia hadir sebagai pengingat akan arti kemerdekaan, sekaligus cermin semangat masyarakat Kotamobagu untuk terus melangkah bersama menuju masa depan.

Kronologi Lengkap Kisruh Selevel Caffe and Resto: Dari Reservasi VIP, Emosi Pelanggan, hingga Pemberitaan Hoaks

Kronologi Lengkap Kisruh Selevel Caffe and Resto: Dari Reservasi VIP, Emosi Pelanggan, hingga Pemberitaan Hoaks
Konferensi Pers yang Digelar Selevel Cafe and Resto (Foto: Udi)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Pada 17 Agustus 2025, publik Kotamobagu dikejutkan oleh sebuah artikel yang tayang di salah satu media online dengan judul provokatif: “Baru & Lagi Naik Daun, Diduga Owner Selevel Resto Ancam Pelanggan.” Berita ini segera menyebar cepat, memantik perbincangan hangat di media sosial.

Namun, hanya sehari berselang, manajemen Selevel Cafe and Resto bersama kuasa hukumnya tampil di hadapan awak media untuk memberikan klarifikasi.

Mereka menegaskan, pemberitaan tersebut tidak lebih dari sebuah hoaks yang sarat tuduhan sepihak dan merugikan reputasi usaha.

Awal Mula: Reservasi yang Berubah Mendadak

Kejadian bermula ketika seorang pelanggan, Monica Elsa Dilapanga, melakukan reservasi ruang VIP dengan nama Playhouse untuk pukul 13.00 WITA, Ahad 17 Agustus 2025.

Namun tak lama kemudian, ia mengubah jadwal reservasi menjadi pukul 12.00 siang.

Saat Monica tiba pukul 11:59, ruangan yang ia pesan masih digunakan pelanggan lain.

Staf restoran segera bergerak membersihkan dan menyiapkannya kembali. Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, ruangan sudah siap dipakai.

“Semua ini terekam jelas dalam CCTV. Fakta menunjukkan pelanggan hanya menunggu sebentar, bukan berjam-jam,” jelas Jein Djauhari, SH, MH, kuasa hukum Selevel dari JD & Partners Law Firms.

Teguran Bernada Tinggi

Namun, alih-alih menerima penjelasan, Monica justru menunjukkan sikap tidak sabar.

Menurut keterangan staf, ia beberapa kali meninggikan suara, bahkan menunjuk waiter dengan nada marah. Padahal, di dapur, pesanan sedang diproses sesuai standar waktu.

Menu ayam bakar yang biasanya membutuhkan 35 menit untuk disajikan, misalnya, berhasil tiba di meja pada pukul 12:58. Artinya, tidak ada keterlambatan yang melampaui batas wajar.

“Berita yang menyebutkan Monica menunggu dua jam untuk pesanannya, itu jelas bohong. Semua pesanan datang tepat waktu,” tegas Jein.

Dugaan Persaingan Usaha

Di tengah kericuhan, muncul fakta lain: Monica sendiri mengaku sebagai pemilik kafe di Kotamobagu.

Dari sini, pihak Selevel menduga ada motif persaingan usaha tidak sehat di balik sikap emosional pelanggan tersebut.

“Dia membandingkan Selevel dengan usahanya. Itu jelas tidak etis, apalagi kalau ujungnya justru menjelekkan nama kami,” lanjut Jein.

Selain itu, lanjut Jein, Monica juga dicurigai masih berupaya melakukan provokasi.

“Dia juga menunjukkan upaya provokasi, dengan mengatakan kalau andai dirinya menjadi ASN yang diminta pindah karena tempat telah di-reservasi, pasti ia akan marah. Padahal para ASN tidak keberatan, bahkan meminta maaf karena tidak tahu jika tempat telah di-reservasi.”

Lebih mengejutkan lagi, setelah semua makanan tersaji, Monica memilih meninggalkan restoran dalam keadaan marah. Ia bahkan tidak membayar dua nota tagihan dengan total Rp270.000.

Upaya Restoran Meredakan Situasi

Owner Selevel, Inayah Warso, menyebut pihaknya sebenarnya sudah berusaha menghindari masalah sejak awal.

Mereka memberikan kompensasi berupa open bill serta menempatkan satu waiter khusus untuk melayani Monica.

“Namun, semua itu tetap tidak meredakan emosinya. Bahkan ada karyawan kami yang sampai trauma karena dimarahi dengan cara tidak pantas,” tutur Inayah.

Dari Salah Paham Menjadi Hoaks

Masalah yang sebenarnya bisa selesai di meja makan itu berubah jadi keributan besar ketika sebuah media online menurunkan berita sepihak.

Dalam artikel yang viral itu, pemilik Selevel disebut-sebut mengancam pelanggan, tuduhan yang langsung ditepis pihak restoran.

“Tidak pernah ada ancaman. Tidak fisik, tidak verbal. Tuduhan itu bohong total. Ini jelas hoaks yang sengaja disebarkan untuk merusak nama baik,” tegas Jein Djauhari.

Menurutnya, media yang menayangkan berita tersebut juga keliru karena tidak melakukan verifikasi atau meminta klarifikasi.

“Sebagai media yang mengaku profesional, seharusnya mereka konfirmasi dulu ke kami. Menyebarkan berita tanpa fakta, sama saja mempermalukan diri sendiri,” ujarnya.

Tuntutan Permintaan Maaf

Selevel kini menuntut dua pihak: Monica Elsa Dilapanga sebagai pelanggan yang memicu masalah, dan media online yang memuat berita sepihak itu.

Mereka diberi waktu 3×24 jam untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

“Kalau tidak ada itikad baik, kami siap menempuh jalur hukum, pidana maupun perdata. Kami tidak akan tinggal diam,” tegas Jein.

Publik Diminta Lebih Bijak

Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah insiden kecil bisa berubah besar ketika bercampur dengan informasi sepihak dan hoaks.

Reputasi usaha yang dibangun bertahun-tahun bisa tercoreng hanya dalam hitungan jam.

Baik kuasa hukum maupun manajemen Selevel berharap masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi.

“Hoaks bisa merugikan banyak pihak. Jangan mudah percaya sebelum ada klarifikasi. Kami akan terus menjaga integritas usaha kami, sekaligus menempuh langkah hukum jika diperlukan,” tutup Jein Djauhari.

Sahaya Mokoginta: Lomba PBB Jadi Pelajaran untuk yang Berani Tantang Sat Pol PP

Sahaya Mokoginta: Lomba PBB Jadi Pelajaran untuk yang Berani Tantang Sat Pol PP
Sahaya Mokoginta Bersama Para Personel Sat Pol PP yang Menjadi Jawara Lomba PBB Antar OPD Pemkot Kotamobagu (Foto: Udi)

Kotamobagu, ZONABMR.COM  – Lomba Peraturan Baris Berbaris (PBB) antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang digelar Pemerintah Kota Kotamobagu dalam rangka memeriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia menyisakan cerita menarik.

Pasalnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) tampil dominan dengan menempati posisi puncak daftar juara.

Kepala Dinas Sat Pol PP Kotamobagu, Sahaya Mokoginta, tak menutup rasa bangganya atas prestasi anak buahnya.

Dengan nada penuh percaya diri, Sahaya menyebut hasil ini sebagai pesan tegas bagi OPD lain yang mencoba menantang kemampuan Sat Pol PP di arena baris-berbaris.

“Ini pelajaran buat mereka yang berani menantang Sat Pol PP. Terbukti, kami menguasai daftar teratas dengan meraih juara 1 dan juara 2,” ujar Sahaya, Senin 18 Agustus 2025.

Tak hanya dua posisi teratas, Sahaya bahkan menilai juara 3 yang berhasil diraih Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM bersama Dinas Pendidikan hanyalah bentuk penghargaan untuk memberi ruang bagi peserta lain.

“Sejujurnya, juara 1, 2, bahkan 3 itu milik Sat Pol PP. Tapi demi kebersamaan, biarlah ada yang lain ikut naik podium,” tambahnya sambil tersenyum.

Dalam lomba ini, Sat Pol PP diketahui mengirim empat tim PBB sekaligus, menunjukkan keseriusan sekaligus kekompakan korps penegak Perda tersebut dalam ajang peringatan kemerdekaan.

Dengan hasil gemilang itu, Sat Pol PP kian meneguhkan diri bukan hanya sebagai garda terdepan dalam menjaga ketertiban, tapi juga sebagai “jawara” di lapangan baris-berbaris antar-OPD Pemkot Kotamobagu.

Viral, Sopir Bentor Usir Sopir Grab di Depan MAN 1 Kotamobagu, Siswa Pasang Badan

Viral, Sopir Bentor Usir Sopir Grab di Depan MAN 1 Kotamobagu, Siswa Pasang Badan
Tangkapan Layar Video Viral

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Sebuah video berdurasi singkat yang menampilkan ketegangan antara sopir bentor (becak motor) dan sopir grab di Kotamobagu, mendadak viral di media sosial.

Rekaman tersebut pertama kali diunggah melalui akun Instagram @xii.ach1evers, dan langsung mengundang komentar warganet yang menyoroti persoalan transportasi di daerah itu.

Peristiwa tersebut disebut-sebut terjadi di depan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kotamobagu, Kelurahan Mongondow, Kecamatan Kotamobagu Selatan.

Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui pasti kapan insiden tersebut berlangsung.

Dalam video itu, terdengar seorang sopir bentor melontarkan kalimat dengan nada tinggi dan penuh ancaman kepada sopir grab yang sedang menjemput penumpang.

Da bilang sudah Jo ba muat, ngana brani ba muat kang?! Tampa-tampa bentor sini,” ucap sopir bentor itu.

Namun, pernyataan bernada kasar tersebut segera mendapat bantahan dari sekelompok siswa dan siswi MAN 1 Kotamobagu yang berada di lokasi.

Mereka mengaku bahwa merekalah yang memesan layanan grab melalui aplikasi, sehingga sopir grab datang sesuai pesanan.

Salah seorang siswi bahkan terdengar menegaskan alasan mereka memilih grab. “Karena kami banyak, jadi tidak bisa pakai bentor,” ujarnya.

Ucapan itu sontak mematahkan klaim sang sopir bentor yang merasa wilayahnya “dikuasai” dan tidak boleh dimasuki transportasi berbasis aplikasi.

Kejadian ini pun menuai reaksi beragam. Sebagian warganet menyayangkan sikap arogansi oknum sopir bentor yang terkesan memaksakan kehendak.

Sementara sebagian lain menilai persoalan ini memperlihatkan masih adanya gesekan antara moda transportasi konvensional dan transportasi daring di daerah.

Fenomena persaingan tersebut bukanlah hal baru. Sejak kemunculan transportasi daring, benturan kepentingan kerap terjadi di banyak daerah, termasuk di Kotamobagu.

Persoalan ini semakin pelik ketika tidak ada regulasi jelas terkait “pembagian wilayah” antara bentor dan transportasi berbasis aplikasi.

Masyarakat pun berharap agar pihak pemerintah kota maupun aparat berwenang dapat segera turun tangan.

Tanpa langkah tegas, dikhawatirkan insiden serupa bisa memicu konflik lebih besar, bahkan mengganggu kenyamanan masyarakat yang berhak memilih layanan transportasi sesuai kebutuhan mereka.

PLN Kotamobagu Disorot: Listrik Padam di Hari Kemerdekaan, Agus Suprijanta Sebut Tak Profesional

PLN Kotamobagu Disorot: Listrik Padam di Hari Kemerdekaan, Agus Suprijanta Sebut Tak Profesional
Agus Suprijanta

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Kotamobagu yang semestinya menjadi momentum penuh sukacita, justru diwarnai ironi: listrik padam.

Bukan sekadar padam sebentar, tapi di pagi hari 17 Agustus 2025, saat masyarakat bersiap mengikuti upacara kemerdekaan, listrik tiba-tiba hilang.

Malam harinya, gangguan berlanjut hingga 18 Agustus dini hari, membuat suasana peringatan kemerdekaan terasa suram dan penuh keluhan warga.

Ketua Fraksi Hanura sekaligus Anggota DPRD Kota Kotamobagu, Agus Suprijanta, tak menutupi kekesalannya atas kejadian tersebut. Ia menilai kinerja PLN jauh dari kata profesional.

“Ini melanggar profesionalisme. Apalagi di HUT Kemerdekaan RI ke-80, kok bisa-bisanya listrik padam di tengah persiapan masyarakat merayakan kemerdekaan,” tegas Agus dengan nada geram, Senin 18 Agustus 2025.

Menurutnya, PLN seharusnya sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari, mengingat peringatan HUT RI adalah agenda rutin nasional yang jelas tanggalnya. Bukan agenda mendadak, apalagi tak terduga.

“PLN harus mengevaluasi kinerja mereka. Bagaimana mungkin di puncak hari bersejarah seperti ini, masih terjadi pemadaman listrik. Apa yang sebenarnya dikelola PLN jika kejadian semacam ini terus berulang?” tambahnya.

Peristiwa pemadaman listrik di momen sakral ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat atas layanan PLN yang kerap dianggap abai terhadap kebutuhan publik.

Bagi Agus, ini bukan lagi soal teknis semata, melainkan soal keseriusan PLN dalam menjaga kepercayaan masyarakat.

“Kalau hal sepenting ini saja tidak bisa diantisipasi, bagaimana masyarakat bisa percaya PLN mampu memberikan layanan terbaik?” sindirnya.

Masyarakat pun menilai, alih-alih memberi energi pada semangat kemerdekaan, PLN justru “memadamkan” momentum.

Kritik tajam dari DPRD Kotamobagu ini sekaligus menjadi alarm keras bagi PLN: pelayanan listrik bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut hajat hidup orang banyak—termasuk momen paling bersejarah bagi bangsa.

80 Tahun Merdeka, Rakyat Kotamobagu Masih Dijajah PLN

80 Tahun Merdeka, Rakyat Kotamobagu Masih Dijajah PLN
Ilustrasi

Opini, ZONABMR.COM – Delapan puluh tahun setelah proklamasi dibacakan, bangsa ini masih berjuang untuk menafsirkan arti kemerdekaan.

Tapi di Kotamobagu, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-80, rakyat mendadak disadarkan bahwa ada satu bentuk penjajahan yang belum usai: ketergantungan pada PLN.

Pagi yang mestinya dipenuhi semangat nasionalisme berubah jadi kelabakan massal. Tanpa pemberitahuan, listrik padam. Entah keseluruhan atau hanya sebagian. Yang pasti di wilayah tempat saya tinggal, listrik padam sejak pagi.

Seolah saklar di kantor PLN lebih berdaulat daripada Sang Merah Putih yang hendak dikibarkan di lapangan upacara.

Dampaknya merembet ke mana-mana. Seorang ASN yang telah menyiapkan seragam dengan rapi sejak malam sebelumnya, tak bisa mandi karena pompa air berhenti bekerja.

Anak-anak sekolah yang semestinya berbaris gagah justru berangkat dalam kondisi setengah siap.

Bahkan kalangan media pun dibuat tak berdaya: agenda peliputan upacara terganggu hanya karena PLN memilih memadamkan lampu di hari paling sakral bangsa.

Ironisnya, PLN selalu menuntut pelanggan disiplin. Tagihan listrik yang telat sehari saja berisiko disegel, bahkan dicabut.

Tetapi ketika rakyat dirugikan, PLN kerap berlindung di balik kalimat klasik: “ada gangguan teknis” atau “sedang perbaikan jaringan.” Kalimat yang dingin, jauh dari rasa tanggung jawab.

Hari kemerdekaan mestinya menjadi catatan emas, tapi PLN justru menorehkan tinta hitam.

Perayaan 80 tahun kemerdekaan menjadi saksi betapa rapuhnya hajat hidup rakyat di bawah kendali satu-satunya penyedia listrik.

Monopoli yang, dengan segala keleluasaannya, bisa menentukan terang atau gelapnya kehidupan sehari-hari.

Mungkin inilah wajah kemerdekaan di era modern: merdeka dari penjajah asing, tapi tidak dari colokan listrik. Rakyat dipaksa belajar sabar setiap kali pemadaman terjadi, bahkan di hari kemerdekaan.

Kini masyarakat menunggu penjelasan. Bukan sekadar permintaan maaf atau alasan teknis, tapi jawaban yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Karena di negeri yang katanya sudah merdeka, rakyat setidaknya berhak mendapat kepastian bahwa perayaan kemerdekaan tidak akan lagi direduksi oleh satu tombol saklar.

Kalau listrik bisa padam di hari kemerdekaan, lalu apa arti 80 tahun merdeka?

Merdeka seharusnya terang, tapi PLN justru memilih merayakannya dengan lilin.

Fyi, saya menulis ini pada hari ini, Senin 18 Agustus 2025, pukul 03.00 WITA dalam keadaan gelap gulita karena pemadaman listrik terjadi lagi.

Bisa jadi ini niat baik PLN Cabang Kotamobagu agar saya bisa menulis dengan penuh penghayatan. Yah, mungkin saja.

Milenial Farm: Harapan Baru Pertanian Kotamobagu, Kakao Lokal Dilirik Investor Jepang

Milenial Farm: Harapan Baru Pertanian Kotamobagu, Kakao Lokal Dilirik Investor Jepang
Milenial Farm: Harapan Baru Pertanian Kotamobagu, Kakao Lokal Dilirik Investor Jepang

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Di tengah terbatasnya lahan dan gempuran modernisasi kota, anak-anak muda di Kotamobagu justru memilih jalan berbeda: kembali ke tanah.

Melalui komunitas Milenial Farm, mereka membawa semangat baru bertani dengan pendekatan yang lebih modern, terbuka, dan berjejaring.

Salah satunya adalah Akbar Damopolii, praktisi pertanian yang menjadi penggerak utama komunitas ini. Ia menekankan, kunci keberhasilan pertanian bukan hanya soal lahan atau alat, tapi sumber daya manusia (SDM).

“Dari SDM kita bisa mengelompokkan sesuai keahlian masing-masing. Harapannya, meski hanya kota kecil, Kotamobagu bisa tumbuh jadi pusat studi pertanian,” ujarnya optimis.

Anak Muda Turun ke Sawah, Naik ke Media Sosial

Fenomena menarik terlihat di Kotamobagu: semakin banyak anak muda yang turun ke lahan.

Data menunjukkan sekitar 15–20 persen generasi muda kini memilih bertani. Bedanya, mereka tak sekadar menanam dan memanen—aktivitas itu juga mereka bagikan lewat Instagram, TikTok, hingga YouTube.

Hasilnya? Bertani tak lagi dipandang kuno, tapi justru keren. Mereka cepat mengadopsi teknologi, berani mencoba pola tanam modern, sekaligus pandai memadukan metode lama dengan pendekatan baru.

“Petani muda Kotamobagu selangkah lebih maju dalam cara berpikir. Mereka lebih smart dalam mengelola lahan,” kata Akbar.

Kakao Kotamobagu Masuk Radar Investor Jepang

Di balik geliat itu, ada kabar menggembirakan. Salah satu komoditas unggulan Kotamobagu—kakao—baru saja mendapat perhatian serius dari investor Jepang. CEO Cocobanasi, perusahaan asal Negeri Sakura, datang langsung meninjau kualitas kakao lokal.

Mereka bahkan membandingkan dengan produk dari Ghana, India, dan Tanzania.

Hasilnya, kakao fermentasi Kotamobagu dinilai layak untuk pasar internasional. Investor pun menyatakan minat menjalin kerja sama ekspor.

“Ini peluang besar. Harga sudah baik, dan kalau kualitas terus dijaga, nilai jual kakao kita bisa jauh lebih tinggi,” ungkap Akbar.

Kualitas Harus Dijaga, Kolaborasi Jadi Kunci

Tantangan terbesar tentu menjaga kualitas. Karena itu, petani terus diberi edukasi—mulai dari pemilihan bibit unggul, pemupukan, perawatan pohon, hingga penggunaan pestisida ramah ekspor. Residu kimia rendah menjadi syarat mutlak agar kakao bisa tembus pasar global.

Akbar berharap, langkah petani ini mendapat dukungan serius dari pemerintah.

“Kalau ada perhatian lebih, Kotamobagu bukan hanya penghasil kakao, tapi bisa punya brand sendiri, jadi pusat inovasi, bahkan tempat studi banding pertanian,” katanya.

Komunitas Terbuka, Masa Depan Pertanian Terang

Milenial Farm sendiri terbuka bagi siapa saja—anak muda, orang tua, hingga masyarakat yang sekadar ingin belajar bertani modern. Dengan aktif di media sosial dan laman resmi, komunitas ini membangun ruang diskusi yang cair dan mudah diakses.

Harapannya sederhana tapi besar: dengan dukungan bersama, Kotamobagu bisa menjawab tantangan ketahanan pangan, menciptakan inovasi pertanian, dan menjadi contoh bagi daerah lain.

Merah Putih Naik Bersama Weny, Turun Bersama Rendy: Harmoni Kemerdekaan di Kotamobagu

Merah Putih Naik Bersama Weny, Turun Bersama Rendy: Harmoni Kemerdekaan di Kotamobagu
Merah Putih Naik Bersama Weny, Turun Bersama Rendy: Harmoni Kemerdekaan di Kotamobagu

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Matahari baru saja menyembul di ufuk timur ketika Alun-alun Boki Hontinimbang dipenuhi ribuan warga Kotamobagu.

Minggu, 17 Agustus 2025, bukan hari biasa—hari itu seluruh pandangan tertuju pada satu warna: merah dan putih.

Dengan langkah mantap, Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib, berdiri di mimbar utama memimpin upacara peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Suasana hening tercipta ketika beliau memimpin doa Mengheningkan Cipta, mengingatkan hadirin pada jasa para pahlawan yang telah mengorbankan segalanya untuk negeri ini.

Tak lama, detik yang ditunggu pun tiba. Paskibraka Kota Kotamobagu melangkah pasti, bendera pusaka dibentangkan, lalu perlahan naik ke langit biru.

Tepuk tangan dan sorak kecil dari barisan warga yang hadir menjadi bukti betapa momen itu selalu menghadirkan haru.

“Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”—tema peringatan kali ini terasa begitu hidup di tengah kebersamaan itu.

Usai upacara, Wali Kota bersama Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat, Forkopimda, Ketua TP PKK Ny. Rindah Gaib Mokoginta, serta jajaran pemerintah menyerahkan hadiah lomba-lomba kemerdekaan.

Wajah-wajah ceria para pemenang menambah nuansa meriah setelah prosesi khidmat pagi itu.

Bahkan, hadirin masih betah berlama-lama untuk bersama-sama menyaksikan siaran langsung detik-detik proklamasi dari Istana Negara, dipimpin Presiden Prabowo Subianto.

Namun peringatan kemerdekaan di Kotamobagu tidak berhenti di situ. Menjelang sore, mendung menjadi latar ketika Wakil Wali Kota Rendy Mangkat memimpin upacara penurunan bendera merah putih.

Dengan suara lantang penuh wibawa, Rendy menuntun jalannya prosesi hingga Sang Saka Merah Putih perlahan diturunkan dengan penuh kehormatan.

Meski sederhana, upacara sore itu sarat makna: hari panjang perjuangan diwarnai dengan awal yang khidmat dan diakhiri dengan penutup yang tak kalah khidmat.

Ribuan pasang mata yang menyaksikan sejak pagi hingga senja seakan sepakat, delapan dekade kemerdekaan adalah pengingat bahwa Merah Putih akan selalu tegak karena persatuan rakyatnya.

Kapolres Kotamobagu: “Momentum Proklamasi Harus Jadi Pengingat Kita untuk Terus Bersatu”

Kapolres Kotamobagu: “Momentum Proklamasi Harus Jadi Pengingat Kita untuk Terus Bersatu”
Kapolres Kotamobagu: “Momentum Proklamasi Harus Jadi Pengingat Kita untuk Terus Bersatu”

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Lapangan Boki Hontinimbang dipenuhi ribuan warga yang khidmat mengikuti upacara peringatan Detik-detik Proklamasi, Ahad, 17 Agustus 2025.

Di tengah barisan pejabat Forkopimda, tampak Kapolres Kotamobagu, AKBP Irwanto, SIK, MH, berdiri tegak menyimak jalannya upacara dengan penuh kesungguhan.

“Momentum Proklamasi bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga persatuan, khususnya di Kotamobagu,” ungkap Kapolres usai mengikuti jalannya upacara.

Sejak pagi, Kapolres hadir bersama jajaran pejabat utama dan personel Polres Kotamobagu.

Mereka tidak hanya menjadi bagian dari barisan pasukan, tetapi juga simbol komitmen kepolisian dalam mendukung peringatan hari bersejarah bangsa.

Momen pengibaran Sang Merah Putih menjadi saat yang paling menyentuh.

Dengan seksama, AKBP Irwanto menyaksikan Paskibraka Kota Kotamobagu yang dipimpin Ipda Rudi F. Lombo, salah satu perwira terbaik di jajaran Satlantas Polres Kotamobagu.

Usai upacara, Kapolres juga turut menyaksikan penyerahan santunan dan hadiah lomba oleh Pemerintah Kota Kotamobagu, sebelum bersama-sama masyarakat mengikuti siaran langsung upacara Detik-detik Proklamasi dari Istana Negara Jakarta.

“Harapan saya, semangat kemerdekaan ini bisa menular dalam kehidupan sehari-hari. Kita jaga keamanan, kita jaga kebersamaan, demi Kotamobagu yang lebih baik,” tutup Kapolres.

Ariono “Hantam” Alasan Anas: Kekalahan Dishub Bukan Karena Latihan, Tapi Karena Kalah Kualitas

Ariono “Hantam” Alasan Anas: Kekalahan Dishub Bukan Karena Latihan, Tapi Karena Kalah Kualitas
Sengit, Ariono Potabuga (kiri) Membalas Komentar Anas Tungkagi (kanan)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Persaingan di Lomba Pasukan Baris Berbaris (PBB) antar OPD lingkup Pemkot Kotamobagu dalam rangka memeriahkan HUT RI Ke-80 belum berakhir meski derap langkah sudah usai.

Justru setelah lomba, tensi kian meninggi lewat duel komentar antara dua kepala dinas: Ariono Potabuga dan Anas Tungkagi.

Ariono, Kepala DisdagkopUMKM, tampil percaya diri usai mengantar timnya merebut posisi ketiga—tepat di atas Dishub yang harus rela tersingkir. Saat mendengar lawannya berkilah soal minimnya waktu latihan, Ariono langsung menyambar dengan sindiran keras.

“Saya kira itu hanya alasan saja,” ucapnya lantang.

Menurut Ariono, Dishub yang sehari-hari lekat dengan baris-berbaris seharusnya tak mencari dalih.

“Dibanding kami yang hanya latihan saat menghadapi lomba, alasan Dishub hanyalah cara menghibur diri atas kekalahan dari kami,” tambahnya, seolah menancapkan fakta bahwa kemenangan timnya lahir dari kualitas, bukan sekadar keberuntungan.

Sebelumnya, Kepala Dishub Anas Tungkagi memang berusaha membalik keadaan.

Ia menegaskan bahwa DisdagkopUMKM hanya diuntungkan oleh faktor keberuntungan.

“Mereka hanya beruntung,” ujar Anas.

Ia berdalih timnya sibuk dengan tugas lapangan, hanya sempat latihan setengah jam sebelum tampil.

Meski begitu, Anas tetap meyakini Dishub masih lebih baik ketimbang banyak OPD lain.

“Selain yang juara, sisanya biasa-biasa saja. Masih kami lebih baik. Dan ingat… akan Dishub balas tahun depan,” tutupnya, dengan nada yang terdengar lebih seperti ancaman.

Namun bagi Ariono, pembelaan itu justru mempertegas satu hal: Dishub kalah di medan yang seharusnya jadi keunggulan mereka.

Dan di tengah sorotan publik, pernyataannya terasa seperti pukulan telak yang membuat rivalnya tak punya ruang untuk berdiri tegak.

Di balik semua itu, Sat Pol PP dan Damkar tetap menguasai podium utama dengan meraih juara satu dan dua.

Tapi jelas, cerita paling panas bukan soal siapa di atas panggung, melainkan duel sindiran yang memastikan rivalitas DisdagkopUMKM dan Dishub akan kembali memanas tahun depan.