~Mari kita dukung mereka bukan karena mereka “teman”, tapi karena mereka hebat dengan karya-karyanya~

Opini, ZONABMR.COM – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan musik nasional yang sering kali didominasi oleh industri besar dan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, geliat para musisi lokal dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Bolmong Raya (BMR) mulai terasa menghangat.
Dari genre pop, rock, hip hop, hingga folk dan musik tradisional, seniman musik dari berbagai penjuru BMR mulai berani muncul ke permukaan, memperkenalkan karya-karya orisinil yang tak kalah menarik dari produk-produk musik arus utama.
Mereka hadir menciptakan karya orisinil dari ruang-ruang komunitas kecil, hingga meramaikan kanal digital dengan semangat dan idealisme yang kuat.
Fenomena ini banyak dimotori oleh event-event kolektif yang digagas secara mandiri oleh komunitas musik lokal—sebut saja Jarod Fest, Easternmost, Bersuanada dll.
Event semacam ini bukan hanya jadi ruang tampil, tapi juga jadi ajang konsolidasi, kolaborasi, dan pembuktian bahwa potensi musik daerah ini bukan sekadar pelengkap panggung hiburan lokal, melainkan bisa menjadi wajah baru musik Indonesia dari Timur.
Tentu ini adalah angin segar bagi perkembangan musik di tingkat lokal.
Para local heroes kini tidak hanya puas menjadi penghibur di pesta atau acara komunitas, tapi mulai berani menulis lagu sendiri, merekam, bahkan mempublikasikannya lewat platform digital.
Ini adalah lompatan penting, karena musik orisinil adalah napas dari sebuah identitas yang khas dan otentik.
Jangan Sekadar Tren Musiman
Namun, ada satu kekhawatiran yang tak bisa dihindari: jangan sampai geliat ini hanya menjadi seperti cendawan di musim hujan—tumbuh cepat tapi menghilang saat kemarau datang.
Untuk menjaga keberlangsungan perkembangan ini, perlu dibangun ekosistem yang kuat: dukungan, apresiasi, dan solidaritas.
Sayangnya, kita harus jujur mengakui bahwa dukungan terhadap musisi lokal masih jauh dari ideal.
Budaya gengsi, merasa lebih unggul, hingga meremehkan pencapaian rekan sendiri masih kerap menjadi batu sandungan.
Ini adalah penyakit sosial yang sering kali mematikan semangat kolaboratif dalam komunitas kreatif.
“Kadang kita kalah bukan karena tak mampu, tapi karena sesama pelaku saling diam dan tak mau saling dorong” – Indra Umbola (Gitaris Krayon InS & Ampowplur)
Solusi: Kolaborasi, Apresiasi, dan Ruang Tampil
Jika kita ingin musik lokal bertumbuh dan memiliki tempat yang layak di panggung nasional, maka semangat kebersamaan dan saling dukung harus dikedepankan.
Pemerintah, pelaku usaha, media lokal, dan tentu saja masyarakat luas, harus mengambil bagian dalam menciptakan ruang yang aman, suportif, dan terbuka bagi para musisi lokal.
Kolaborasi: Musisi lintas genre dan generasi harus saling membuka pintu kerja sama.
Media lokal: Perlu memberi ruang lebih untuk promosi karya orisinil, bukan hanya berita viral.
Pemerintah daerah: Dapat menginisiasi festival tahunan khusus karya orisinil BMR.
Sponsor lokal: UMKM, kafe, dan bisnis lain bisa ikut mendukung lewat pembiayaan mini-event atau rilisan.
Karena pada akhirnya, para musisi ini bukan hanya sedang berkarya untuk dirinya sendiri. Mereka adalah wajah kita, suara daerah kita, dan potensi besar yang bisa mengangkat nama Bolmong Raya.
“Berada di daerah bukan hambatan untuk berkarya. Saatnya anak muda BMR agar lebih percaya diri dan tidak takut menunjukkan karya ke publik” – Armen Djafar (Gitaris Sun Band)
Jika diberi panggung dan dukungan, tak mustahil nama mereka bisa mengharumkan daerah ini di kancah nasional, bahkan internasional.
Jadi, jika kamu dengar lagu musisi lokal hari ini, jangan hanya dengar—angkat, dukung, dan bagikan.
Mari kita dukung mereka bukan karena mereka “teman”, tapi karena mereka hebat dengan karya-karyanya. ***

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif di pergerakan musik lokal daerah, frontman dan penulis lagu di band Krayon INS. Pernah menjadi penyiar di stasiun radio lokal DC FM; saat ini menjabat sebagai Ketua DPC organisasi pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong






