
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Di tengah sorakan penonton dan deru adrenalin yang memuncak di ajang TCW Kotamobagu Baku Pukul, satu sosok muda berdiri tegap di tengah ring.
Napasnya berat, keringat membasahi wajahnya, namun sorot matanya tak goyah.
Nama sang fighter itu adalah Adi Cahyadi Sugeha, anak muda dari Desa Bilalang Dua, Kecamatan Kotamobagu Utara, yang malam itu tidak hanya bertarung untuk menang, tetapi untuk sebuah perubahan yang lebih besar.
Saat tangan wasit mengangkat lengannya sebagai tanda kemenangan atas Alvarezi di kelas amatir Under 80kg, Adi tidak langsung bersorak. Ia menatap ke langit-langit arena, menahan haru.
Ketika diminta menyampaikan kesan, ia tidak berbicara soal kemenangan pribadi. Ia menyebut dua nama penting dalam hidupnya.
“Kemenangan saya kemarin saya persembahkan kepada kedua orang tua saya — ayah saya Djoli Sugeha dan ibu saya Inang Pobela — serta untuk seluruh anak muda yang ada di Desa Bilalang,” ucapnya, dengan suara serak yang menggema lebih kuat daripada pukulan mana pun yang ia layangkan malam itu.
Bilalang, daerah yang dulu kerap disebut-sebut dengan label ‘rawan’ dan keras, hari ini perlahan menulis babak baru dalam sejarahnya.
Yadi, lewat setiap latihan keras dan pertarungan sengitnya, menjadi bagian dari halaman penting itu.
Ia mewakili generasi baru Bilalang — generasi yang menolak dikurung oleh stigma masa lalu, dan memilih untuk tampil, bekerja keras, dan menunjukkan bahwa mereka bisa diandalkan, bisa dibanggakan.
Saat tidak berada di ring, Yadi adalah sosok sederhana yang menjalani rutinitas harian sebagai pekerja di sebuah toko furniture, yang berlokasi di Kelurahan Mongondow, Kecamatan Kotamobagu Selatan.
Dari pagi hingga sore, ia melayani pelanggan, mengangkat barang, menata showroom.
Tapi di balik kesederhanaan itu, ia menyimpan ambisi dan semangat juang yang membara.
Malam hari ia gunakan untuk berlatih — memukul samsak, memperbaiki teknik, membentuk fisik dan mental yang kuat.
“Harapan saya, di event-event ke depan saya bisa lebih baik dari fight saya sebelumnya,” ungkapnya.
Ia sadar bahwa ini baru awal. Baginya, setiap pertandingan adalah langkah untuk memperkuat jati diri, bukan hanya sebagai atlet, tapi sebagai panutan.
Lebih dari itu, Yadi juga mengusung misi sosial yang tak kalah penting: menjadi bagian dari para pemuda pionir Bilalang yang menginspirasi untuk berani bermimpi.
“Untuk anak-anak muda, khususnya yang ada di Bilalang: semoga ke depan akan lebih banyak lagi yang ikut event seperti ini. Jangan takut mencoba. Kita bisa berubah, kita bisa bersinar.”
Dan benar adanya—hari ini, Bilalang tak lagi sekadar cerita masa lalu yang rawan. Ia telah menjadi tempat lahirnya pemuda-pemuda tangguh, yang tak hanya bertarung di atas ring, tapi juga berjuang dalam kehidupan nyata.
Mereka tidak lagi diidentikkan dengan kekerasan, tapi dengan kerja keras, prestasi di berbagai bidang, dan semangat kebersamaan.
Adi Cahyadi Sugeha bukan hanya seorang petarung. Ia adalah gambaran nyata dari transformasi.
Dari seorang anak desa yang mungkin dulu tak dilirik, kini berdiri sebagai simbol perubahan—bahwa tak peduli dari mana kita berasal, yang menentukan siapa kita adalah keberanian untuk bangkit dan bergerak.
Karena di balik setiap pukulan Yadi, ada tekad untuk membuktikan bahwa stigma bisa dikalahkan—bukan dengan kebencian, tapi dengan prestasi dan ketulusan.
Lebih dari sekadar mengejar gelar, Yadi membawa pesan besar bagi rekan-rekan sebayanya, terutama di Bilalang.
Dan memang benar. Adi Cahyadi Sugeha bukan hanya bertarung dengan tangan, tapi juga dengan hati dan prinsip.
Ia membuktikan bahwa dari tempat yang dulu dianggap rawan, kini lahir pemuda yang terang — penuh semangat, pekerja keras, dan mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.
Dalam setiap pukulannya, Yadi membawa nama ayah dan ibunya, membawa wajah baru Bilalang, dan membawa pesan keras namun indah: bahwa stigma bisa dikalahkan, jika kita berani bermimpi dan berani berubah.
Malam itu di atas ring, di halaman parkir kampus UDK, Yadi bukan hanya memenangkan pertandingan, ia telah memenangkan hati banyak orang.




