
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Mediasi yang digelar di Kantor Polres Kotamobagu menjadi langkah awal penyelesaian konflik antara dua sekolah di Kotamobagu, pasca-tawuran pelajar yang terjadi di depan SMA Negeri 1 Kotamobagu.
Dalam pertemuan, Rabu, 30 Juli 2025 tersebut, lima siswa dari SMA Negeri 1 dan sepuluh siswa dari SMK Cokroaminoto bersama orang tua mereka dipanggil untuk mendapatkan pembinaan langsung dari pihak kepolisian.
Insiden yang terjadi sehari sebelumnya sempat menghebohkan masyarakat.
Tak hanya menciptakan kekhawatiran di kalangan warga, kejadian itu juga memantik reaksi serius dari kalangan guru dan wali murid.
Belum diketahui secara pasti penyebab bentrokan tersebut, namun pihak sekolah dan kepolisian bergerak cepat untuk mencegah hal serupa terulang.
Kepala SMA Negeri 1 Kotamobagu, Masyuri Podomi, menjelaskan bahwa pihaknya langsung menindaklanjuti insiden tersebut dengan menggelar empat kali apel pembinaan dalam satu hari.
“Hari ini, kami melaksanakan empat kali apel di sekolah, sebagai bagian dari upaya pembinaan. Pihak kepolisian juga telah memanggil siswa dan wali murid untuk diberikan arahan,” ujar Masyuri.
Dari hasil mediasi dan investigasi awal, diketahui adanya grup komunikasi di aplikasi perpesanan Whatsapp yang dibuat oleh sejumlah siswa, dan diduga menjadi sarana pemicu atau pengorganisasian tawuran.
Guru-guru bersama aparat kini tengah menelusuri jejak digital grup tersebut sebagai bagian dari tindakan pencegahan.
Masyuri menegaskan bahwa bila kejadian serupa kembali terjadi di luar lingkungan sekolah, maka penanganan akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak kepolisian.
“Jika kericuhan semacam ini terjadi lagi di luar sekolah, itu sudah menjadi ranah penegakan hukum,” ujarnya tegas.
Pihak sekolah berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh siswa dan lingkungan pendidikan di Kotamobagu.
Tawuran tidak hanya merugikan para pelajar secara pribadi, tapi juga mencoreng marwah pendidikan yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya nilai moral dan karakter.
“Jangan sampai hal ini terulang lagi. Kita ingin anak-anak kembali fokus belajar, bukan saling bermusuhan,” tutup Masyuri.






