
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Sabtu, 6 September 2025, Selevel Resto & Café tak hanya menjadi tempat santai, tetapi juga ruang diskusi serius.
Di sana, Bawaslu Kotamobagu mempertemukan organisasi kepemudaan, mahasiswa, masyarakat, dan media dalam forum bertema “Fasilitasi Pembinaan dan Penguatan Kelembagaan” dengan subtema “Pengawasan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan dan Pengawasan Partisipatif Bersama Stakeholder”.
Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Humas, dan Parmas (HP2H) Bawaslu Kotamobagu, Arie Setiawan Mokodompit, membuka forum dengan analogi sederhana namun penuh makna.
“Pemilihan ini ibarat buah, dan buah itu bisa kita petik kalau kita memelihara benih. Pemilu adalah puncak dari konsolidasi. Kerja-kerja demokrasi yang kita lakukan hari ini akan berbuah pada pelaksanaan pemilu nanti,” ujarnya.
Arie juga menegaskan bahwa kegiatan semacam ini adalah bagian dari kerja demokrasi sekaligus sarana menghadapi tantangan nyata di tingkat lokal.
“Kita tidak bisa menutup mata, ada persoalan apatisme politik di kalangan generasi muda, sementara arus hoaks di media sosial kerap memengaruhi cara pandang masyarakat. Kalau tidak diantisipasi sejak sekarang, tantangan ini bisa menjadi masalah serius menjelang pemilu,” tegasnya.
Fondasi Demokrasi: Data Pemilih yang Akurat
Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kotamobagu, Hairun Laode yang didaulat sebagai pemateri, menyoroti pentingnya Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB).
Menurutnya, PDPB merupakan kerja teknis KPU, namun pengawasannya tetap di bawah Bawaslu.
“Masalah bisa muncul, misalnya ada pemilih yang baru membawa KTP atau Kartu Keluarga pada hari H. Jika sejak awal tidak dilakukan edukasi dan persiapan, hal ini bisa menjadi persoalan serius saat pemungutan suara,” jelasnya.
Landasan hukum PDPB sudah diatur jelas, mulai dari UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, PKPU Nomor 11 Tahun 2018, hingga PKPU Nomor 6 Tahun 2021.
Namun aturan tidak akan berjalan efektif tanpa keterlibatan masyarakat.
Demokrasi sebagai Kerja Bersama
Sekretaris Bawaslu Kotamobagu, Herdy Dajoh, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda yang melibatkan berbagai komponen peserta secara bergantian.
Strateginya sederhana: memperluas lingkaran pengawasan partisipatif.
Kehadiran beragam stakeholder menunjukkan bahwa pengawasan pemilu bukan hanya tugas lembaga pengawas, tetapi kerja bersama.
Demokrasi, seperti benih yang disebut Arie, membutuhkan banyak tangan untuk menjaga, merawat, dan memastikan ia berbuah manis.
Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika politik, forum ini menjadi pengingat: demokrasi bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan juga tentang proses yang jujur, adil, dan partisipatif. Dan di Kotamobagu, benih itu terus dirawat.



