Penghayatan yang Tak Terulang: Jodi Mamonto dan Jejak Kon Bonawang (Umpaka Nogiyayuandon)

207

~ Dari teras rumahnya, musisi legendaris BMR itu membuka kisah di balik lagu Kon Bonawang—lagu yang melambungkan namanya dan hingga kini masih menjadi penanda rindu banyak orang pada kampung halaman ~

Penghayatan yang Tak Terulang: Jodi Mamonto dan Jejak Kon Bonawang (Umpaka Nogiyayuandon)
Jodi Mamonto. (Foto: Arsip Pribadi Jodi Mamonto)

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Hujan baru saja reda ketika saya tiba di rumah Jodi Mamonto di Kelurahan Pobundayan, Kotamobagu Selatan. Udara malam masih menyisakan aroma tanah basah, sementara tetes-tetes air jatuh pelan dari atap seng, menambah nuansa hening.

Di teras rumah, sebuah meja sederhana telah tersaji: secangkir kopi hitam yang mengepul hangat dan semangkuk mie bakso yang uapnya perlahan memudar.

Kami duduk berhadapan. Tatapan mata Jodi yang teduh segera membawa saya pada perbincangan panjang tentang perjalanan musiknya—perjalanan yang melahirkan lagu legendaris Kon Bonawang (Umpaka Nogiyayuandon).

“Lagu itu awalnya digubah oleh Idris Daapala, ayah dari Bayu Daapala (frontman band Skaire, red.) Beliau kemudian memberikan kepercayaan kepada saya untuk menyanyikannya,” ujar Jodi, suaranya pelan namun penuh keyakinan.

Proses rekaman lagu tersebut, kenangnya, berlangsung sekitar tahun 1997 di studio D.L Record yang berada di kompleks Pasar 45 Manado.

“Aslinya lagu itu bernuansa mars tradisional. Tapi saya mencoba menyesuaikan aransemen menjadi pop, agar bisa diterima pendengar lebih luas.

“Uniknya, Kon Bonawang bukanlah lagu utama di album itu. Kompilasi tersebut menampilkan banyak penyanyi, seperti Lola Draekel sebagai main artist, Desi Mokodompit dari Bongkudai, juga Marmamo Daeng Ali. Tapi justru lagu saya yang kemudian diterima luas masyarakat.”

Mata Jodi menerawang jauh ke masa itu. “Saya masih ingat jelas. Saat rekaman, jadwal saya seharusnya pukul setengah tiga dini hari. Ketika diminta istirahat dulu, saya menolak. Saya ingin segera menyanyi. Begitu memasang headphone, saya larut sepenuhnya dalam lirik.

“Gugup, tapi justru itulah yang menghadirkan penghayatan paling dalam. Sampai sekarang, saya tidak pernah bisa lagi menyanyikan Kon Bonawang dengan rasa yang sama. Penghayatan itu hanya terjadi sekali—dan tidak pernah terulang.”

Kata-katanya menggantung di udara. Untuk sesaat, hanya terdengar suara sendok beradu dengan mangkuk bakso. Malam yang hening seolah menegaskan betapa dalam pernyataan itu.

Sejak saat itulah nama Jodi Mamonto melekat di ingatan masyarakat Bolmong Raya.

Lagu Kon Bonawang diputar di pesta-pesta, hajatan, hingga di mikrolet yang wara-wiri sebelum moda itu digantikan bentor.

“Kepuasan itu tidak bisa diukur dengan uang. Setiap kali ada yang bilang lagu ini membuat mereka rindu pulang, saya merasa sudah mendapatkan lebih dari sekadar bayaran.”

Namun Kon Bonawang bukan satu-satunya karya yang ia tinggalkan. Jodi menyebut deretan lagu lain seperti Totabuan ciptaan Gabs Gobel, Tuhan In Monantu ciptaan Chairul A. Luli, Dendang Tanobku, hingga dua lagu duet Mongondow bertajuk Tumpala Molukad dan Gasoku.

“Kalau disebut semua memang banyak. Tapi biasanya orang lebih sering menyanyikan Totabuan dan Tuhan In Monantu. Itu yang paling melekat di telinga masyarakat,” katanya sembari tersenyum.

Kini, perjalanan hidup membawanya menapaki jalan yang berbeda. Jodi adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Pembinaan (Kasubbagbin) di Kejaksaan Negeri Kotamobagu.

Dua dunia itu—musik dan birokrasi—ia jalani berdampingan. Satu dunia berisi lampu panggung dan tepuk tangan, dunia lainnya berisi rapat-rapat dan administrasi.

Namun jauh di lubuk hatinya, gema Kon Bonawang tak pernah padam. Ia sadar, karya adalah warisan terindah seorang musisi.

“Kalau dulu ukuran lagu diterima itu kalau diputar di hajatan atau mikrolet. Sekarang kan sudah ada YouTube, Spotify, dan platform lain. Tapi esensinya sama: karya harus bisa hidup di tengah masyarakat.”

Pesannya sederhana, tapi dalam. “Generasi sekarang harus saling mendukung. Lihat saja lagu-lagu Ambon yang bisa viral sampai nasional, itu karena mereka saling mengangkat satu sama lain. Kalau kita di BMR bisa begitu, saya yakin karya kita juga bisa dikenal lebih luas.”

Ia juga menitipkan harapan kepada penyelenggara acara musik. “Kalau ada konser besar yang mendatangkan artis lokal atau artis timur, jangan lupakan kami para penyanyi senior.

“Bukan soal bayaran, tapi soal penghargaan. Kami ingin memperdengarkan kembali karya-karya lama, agar generasi baru bisa mengenal dan menghargai sejarah musik BMR. Itu sekaligus bukti bahwa musisi BMR sejak dulu sudah berani melahirkan karya yang abadi.”

Malam semakin larut. Kopi di cangkir sudah tinggal ampas, dan kuah bakso yang tadi mengepul kini dingin. Namun, hangatnya cerita Jodi masih terasa.

Ketika saya pamit meninggalkan rumahnya, sisa hujan masih jatuh pelan dari atap seng, menimbulkan irama sederhana yang berpadu dengan dinginnya malam. Jodi berdiri di teras, melambaikan tangan dengan senyum hangat.

Saat langkah saya menjauh, gema Kon Bonawang seolah ikut mengiringi, menjadi pengingat bahwa ada karya yang tak lekang dimakan waktu—dan bukti nyata bahwa musisi BMR sejak dulu sudah berani melahirkan karya yang abadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here