~“Saya tidak ingin berhenti karena tubuh menyerah. Saya ingin berhenti ketika saya sendiri yang memutuskan, dengan senyum, bukan dengan penyesalan,”~

Bolmong – Matahari baru saja condong ke barat ketika suara peluit panjang terdengar di Lapangan Tambun, Kecamatan Dumoga Timur, Bolmong.
Di tengah terik yang masih terasa menyengat, satu sosok tampak menonjol. Bukan karena kecepatan mudanya, tetapi karena ketekunan yang jarang terlihat dari pria seusianya.
Namanya Yohanis Batara Randa, usia 50 tahun, tapi tubuhnya masih melangkah lincah di antara pemain yang rata-rata berusia jauh lebih muda.
Sore itu, dalam laga semifinal turnamen tarkam bertajuk 30K, ia mencetak gol penting yang membawa timnya melaju ke final.
Uniknya, ia sudah menari-nari sebelum mencetak gol.
“Saya sudah tahu bola itu akan datang ke situ. Tinggal sontek sedikit, selesai,” katanya usai pertandingan, dengan senyum lebar yang sulit dibedakan apakah itu karena golnya, atau karena ia telah membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri.
Julukan yang Melekat: Pace Inzaghi
Di kalangan komunitas sepak bola Bolmong, nama Yohanis mungkin kalah populer dibanding julukannya: Pace Inzaghi.
Sebutan ini muncul karena gaya bermainnya yang oportunis, penuh insting, dan selalu berada di tempat yang tepat—ciri khas legenda Italia, Filippo Inzaghi.
“Saya memang penggemar berat Inzaghi,” katanya sembari tertawa kecil.
Julukan itu kini melekat, bukan hanya karena gayanya mencetak gol, tetapi juga karena ia menjadi inspirasi—ikon kegigihan di tengah keterbatasan usia.
Yang lebih menarik, dalam pertandingan, ia sering kali sudah bersiap selebrasi bahkan sebelum bola benar-benar melewati garis gawang.
“Terkadang teman-teman suka heran, kenapa bisa tahu bola bakal masuk. Feeling saja,” ujarnya santai.
Dari Voli ke Bola
Lahir di Makale, Tana Toraja, pada 18 Mei 1975, Yohanis kecil sebenarnya lebih dulu mengenal lapangan voli. Ia tumbuh dalam lingkungan sederhana yang menghargai kebersamaan, dan olahraga menjadi ruang bermain sekaligus ruang belajar.
Saat kuliah di Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, ia aktif di organisasi kemahasiswaan dan kegiatan olahraga kampus.
Dari voli, ia kemudian mulai merambah ke sepak bola, dan akhirnya jatuh cinta.
“Sepak bola seperti dunia sendiri. Ada strategi, ada emosi, ada cerita,” ungkapnya.
Ketertarikannya semakin dalam ketika pada 2013 ia berkesempatan mengunjungi dua stadion paling ikonik di dunia: Camp Nou dan Santiago Bernabéu, markas FC Barcelona dan Real Madrid.
Setahun kemudian, ia mewujudkan mimpi yang lebih besar: menonton langsung pertandingan Piala Dunia 2014 di Stadion Maracanã, Rio de Janeiro, Brasil.
Konsistensi di Tengah Mobilitas
Sebagai karyawan swasta, Yohanis berpindah dari kota ke kota: Makassar, Ambon, Jayapura, Solo, Manado, dan kini menetap di Kotamobagu, Sulawesi Utara.
Namun satu hal yang tak pernah ia tinggalkan adalah sepak bola.
Setiap kali pindah kota, hal pertama yang ia cari adalah lapangan dan komunitas sepak bola.
Bahkan, di beberapa tempat kerja, ia dipercaya membentuk dan melatih tim kantor—peran yang ia jalani selama lebih dari 20 tahun.
“Sepak bola itu bukan cuma soal fisik. Ia bisa mempersatukan orang dari latar belakang yang berbeda,” katanya.
Hidup Seimbang: Keluarga, Kerja, Olahraga
Di luar lapangan, Yohanis adalah suami dari Ni Ketut Sayang dan ayah dari tiga anak: Theresia, Yosua, dan Hana. Ia dikenal sebagai pribadi yang tenang, telaten, dan mencintai rutinitas sehat.
Setiap pagi, sebelum memulai pekerjaan, ia menyempatkan diri untuk jogging atau berlatih teknik dasar sepak bola.
Di akhir pekan, ia sering mengikuti lomba lari 5K dan 10K sebagai bentuk latihan stamina.
“Olahraga sudah seperti nafas. Kalau sehari tidak gerak, tubuh rasanya lemas,” ujarnya.
Menariknya, Yohanis juga menyukai dunia tulis-menulis. Ia memiliki puluhan catatan pribadi tentang perjalanan hidup, olahraga, dan motivasi.
“Suatu hari mungkin akan saya bukukan. Tapi sekarang, saya fokus bermain dulu,” katanya.
Menuju Usia 60: Target dan Tekad
Yohanis menyadari bahwa tubuh manusia tak bisa melawan waktu. Namun ia percaya, dengan pola hidup sehat, semangat, dan sikap positif, seseorang bisa terus bugar dan aktif bahkan di usia senja.
Targetnya adalah terus bermain sepak bola hingga usia 60.
“Saya tidak ingin berhenti karena tubuh menyerah. Saya ingin berhenti ketika saya sendiri yang memutuskan, dengan senyum, bukan dengan penyesalan,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah masih tertarik bermain voli, ia tertawa lebar. “Kalau untuk posisi libero, masih bisa dimaksimalkan. Tapi sekarang hati saya sudah di bola.”
Inspirasi dari Lapangan
Lebih dari sekadar atlet amatir, Yohanis Batara Randa adalah simbol semangat yang tak pernah padam.
Ia menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya milik mereka yang muda, tapi milik siapa saja yang mencintainya sepenuh hati.
Di lapangan, ia bukan hanya seorang striker. Ia adalah guru, inspirator, dan pengingat bahwa usia hanyalah angka—dan semangat adalah segalanya.
“Saya ingin dikenang bukan karena jumlah gol, tapi karena saya tak pernah berhenti mencoba,” katanya di akhir wawancara, sebelum melangkah kembali ke lapangan, mengejar bola, dan mungkin—mencetak satu gol lagi.





Keren Pak 😇🙏
Mantap panggawa Ayo Terus Semangat karena Gol yang tercipta melalui tembakan kakinya Panggawa Rupanya merupakan Tanda2 Keberhasilan di Daerah Kotamobagu dan Bolmong. Semoga sehat2 terus dan Jagan lupa Bahagia😆😆 😆👍