Fighter to Watch at Kotamobagu Baku Pukul: Abdul Manaf Mokobela

669
Fighter to Watch at Kotamobagu Baku Pukul: Abdul Manaf Mokobela
Abdul Manaf Mokobela

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Dalam setiap kompetisi bela diri, selalu ada satu nama yang muncul tak hanya karena pukulannya keras, tapi karena cerita di balik langkahnya ke atas ring.

Di ajang TCW Kotamobagu Baku Pukul, nama itu adalah Abdul Manaf Mokobela – seorang remaja dari Kelurahan Genggulang, yang menjadikan ring sebagai tempat memperjuangkan lebih dari sekadar kemenangan.

Lahir pada 16 September 2006, Manaf telah jatuh hati pada dunia bela diri sejak usia 13 tahun.

Ia memulai langkahnya secara serius pada tahun 2019, saat usianya masih belia. Tapi dari usia muda itulah ia sudah menunjukkan karakter petarung sejati: tekun, sabar, dan tak mudah puas.

Di luar ring, ia adalah remaja sederhana yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh nilai-nilai kedisiplinan dan kekeluargaan.

Nama ibunya, Masni Mokobela, adalah sosok yang selalu ada di balik setiap langkah yang ia ambil.

“Saya bertarung untuk banyak hal, tapi yang utama, untuk Ibu. Setiap keringat dan luka, saya ingat wajah beliau. Kemenangan ini, saya persembahkan sepenuhnya untuk ibu yang tak pernah berhenti mendoakan dan mendukung saya,” tutur Manaf dengan suara yang nyaris bergetar setelah naik podium juara.

Dimana pada partai final TCW Kotamobagu Baku Pukul, ia mengalahkan fighter tangguh, Penaldi Papuputungan.

Disiplin dan Latihan yang Menempa Karakter

Sebelum naik ring di TCW, Manaf bukan pemula. Ia telah mencicipi kerasnya duel di Tarsius Combat, juga menempuh jalur teknik dari taekwondo aliran Jidokwan.

Dua arena itu menjadi fondasi penting yang membentuknya sebagai petarung lengkap – menguasai teknik, memahami tempo, dan tak gentar pada tekanan.

Namun segalanya berubah ketika ia bergabung dengan TCW Fighting Camp, tempat ia menempa diri lebih serius.

Di bawah komando Coach Akbar Taufik Polontalo, Manaf menjalani latihan intensif: dari pagi hari yang dingin hingga malam yang melelahkan, semuanya ia jalani tanpa keluhan.

“Anak ini punya daya tahan, bukan cuma secara fisik, tapi juga emosional. Dia tahu kenapa dia bertarung, dan itu membuat latihannya jadi sangat fokus dan produktif,” ujar Coach Akbar.

Latihan itu pun terbayar lunas. Saat masuk final TCW Kotamobagu Baku Pukul, Manaf tampil percaya diri.

Bukan hanya tekniknya yang tajam, tapi juga ketenangan dan kontrol diri yang luar biasa.

Ia bertarung dengan kepala dingin, membaca lawan, dan tahu kapan harus menyerang maupun bertahan.

Petarung yang Menghargai Proses

Yang membuat sosok Manaf begitu menarik adalah sikapnya di luar ring. Meski keluar sebagai pemenang, ia tidak menganggap dirinya lebih unggul.

Dalam pernyataan usai pertandingan, ia justru memberi semangat kepada mereka yang belum berhasil meraih kemenangan.

“Buat semua fighter yang kalah, saya tahu rasanya. Tapi jangan berhenti. Latihan, tempa diri, dan balik lebih kuat. Dan untuk teman-teman yang menang, termasuk saya, jangan cepat puas. Karena yang kalah hari ini, besok bisa saja jadi juara berikutnya. Kita semua di sini untuk belajar dan berkembang.”

Statement itu menunjukkan karakter yang matang, jauh melampaui usianya.

Ia tidak bertarung hanya untuk menang, tapi juga untuk membuktikan bahwa bela diri adalah jalan hidup – jalan yang mengajarkan hormat, kerja keras, dan kerendahan hati.

Dukungan dari TCW dan Komunitas Petarung Lokal

Owner TCW Group sekaligus ketua panitia pelaksana turnamen, Michael Solat Bibisa, mengaku bangga bisa melihat sosok seperti Abdul Manaf muncul dari ajang ini.

“Manaf adalah contoh sempurna dari tujuan kami menyelenggarakan TCW Baku Pukul: menemukan, membina, dan memajukan petarung lokal yang punya semangat dan karakter kuat. Kita butuh lebih banyak anak muda seperti dia, yang tidak hanya jago bertarung, tapi juga punya jiwa sportivitas tinggi.”

Ajang seperti ini bukan hanya soal medali, tapi tentang perjalanan. Dan bagi Abdul Manaf Mokobela, perjalanan itu baru saja dimulai.

Dengan semangat membara, sikap rendah hati, dan cinta tulus untuk keluarganya – terutama ibunya – ia bukan hanya petarung untuk hari ini.

Ia adalah harapan besar untuk masa depan dunia bela diri di Kotamobagu, Sulawesi Utara bahkan tak menutup kemungkinan untuk Indonesia.

Karena di dalam ring, kadang yang paling kuat bukanlah yang paling keras pukulannya, tapi yang paling tulus niatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here