Reportase Perjalanan Liputan Porprov Sulut XII, Bagian I: Hambatan Tak Terduga dan Opening Ceremony yang Terlewatkan

121

“Liputan belum dimulai, tapi jalan sudah menguji.”

Oleh: Udi Masloman

Reportase Perjalanan Liputan Porprov Sulut XII, Bagian I: Hambatan Tak Terduga dan Opening Ceremony yang Terlewatkan
Senja saat Melanjutkan Perjalanan yang Tertunda (Foto:Udi)

Sulut, ZONABMR.COM — Rabu, 19 November 2025. Waktu di ponsel pintar saya menunjukkan pukul 11.56 WITA saat pesan WhatsApp masuk memberitahukan untuk segera datang ke titik kumpul yang telah disepakati.

Setelah membalas pesan singkat tersebut, saya bergegas balik ke rumah untuk mengambil tas carrier berkapasitas 65 liter, di mana segala perlengkapan peliputan termasuk pakaian untuk beberapa hari telah disiapkan sejak malam sebelumnya. Bukan rahasia lagi, persiapan adalah separuh dari peperangan seorang jurnalis.

Selepas menunaikan salat Dzuhur dan makan siang secukupnya, saya pun bergegas pergi.

Setiba di lokasi, kediaman Ketua PBSI Kotamobagu yang menjadi tempat perjanjian, telah menunggu tuan rumah Sri Afni Manoppo dan jurnalis Sandi Gautama Mokoagow, partner dalam perjalanan peliputan kali ini.

Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Utara (Porprov Sulut) XII dengan Kota Manado yang menjadi tuan rumah adalah tujuan peliputan.

Kami bertolak menuju Manado saat waktu menunjukkan pukul 13.23 WITA, yang perhitungannya cukuplah untuk tiba tepat waktu menghadiri Opening Ceremony Porprov Sulut XII di Stadion Klabat, Ranotana.

Selepas melewati gerbang perbatasan Kotamobagu–Bolmong, sinyal telepon mulai naik-turun, tetapi saya tetap berusaha mengabari redaksi soal jadwal hari pertama liputan.

Pekerjaan jurnalis selalu dimulai jauh sebelum tiba di lokasi pertandingan; perjalanan sering menjadi ruang paling jujur untuk merancang strategi.

Karena saya paham Porprov bukan sekadar kompetisi, tetapi perjalanan panjang yang melibatkan harapan banyak orang—dan tugas saya adalah mencatat setiap detail, memastikan doa-doa dan harapan yang dilangitkan warga Kotamobagu tersampaikan ke mereka, terlepas apa pun hasilnya.

Di mobil, kami sejenak berbincang penuh optimisme tentang peluang perolehan medali yang diyakini bersama bakal bisa melewati perolehan Porprov Sulut XI dua tahun silam di Kabupaten Bolmong.

Sekadar informasi, beberapa cabang olahraga (cabor) telah dimulai sebelum seremoni pembukaan Porprov, di mana beberapa atlet Kotamobagu telah menyelesaikan pertandingan dan berhasil meraih medali, seperti Andika Inggolalo dari cabor atletik serta Caca Mokodongan dari cabor pencak silat.

Memasuki Desa Lobong, saya memutuskan untuk memejamkan mata—mengisi kembali energi, persiapan peliputan yang pastinya membutuhkan stamina dan konsentrasi tinggi.

Perjalanan menuju Manado bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan ritme: dari keseharian yang tenang di Kotamobagu menuju hiruk-pikuk venue, tensi pertandingan, dan drama yang selalu muncul di setiap Porprov.

Namun pepatah “hari sial tak ada di kalender” nyata benar adanya. Di jalan raya AKD Desa Muntoi, tiba-tiba ban mobil yang kami tumpangi kempes.

Perjalanan pun terpaksa terhenti. Selama kurang lebih satu setengah jam, kami harus menunggu mobil pengganti untuk melanjutkan perjalanan, yang artinya kemungkinan besar kami tak akan sempat tiba tepat waktu menghadiri seremoni pembukaan Porprov Sulut XII.

Singkat cerita, kami pun berpindah ke mobil pengganti dan melanjutkan perjalanan yang, Alhamdulillah, kali ini lancar tanpa kendala.

Pukul 19.45 kami mulai memasuki Kota Manado. Suasana ibu kota provinsi dengan keramaian dan hiruk-pikuknya mulai terasa.

Kami tiba di Kos Permata Ria dan Hotel, Ranotana, yang menjadi base camp kontingen atlet Kotamobagu cabor sepak bola, bulu tangkis, atletik, dan bola basket.

Kos Permata Ria & Hotel, Base Camp Kontingen Beberapa Cabor Kotamobagu (Foto: Udi)

Kepala Dinas Perhubungan, Anas Tungkagi, dan Kepala Bidang Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga, Hendra Mokoagow, yang menjadi official pendamping atlet, menyambut kami di halaman parkir.

Dan benar adanya, seremoni pembukaan telah selesai. Rombongan atlet dari berbagai kabupaten/kota tampak berseliweran saat kami berbincang-bincang—letak penginapan ini memang tak jauh dari Stadion Klabat.

Opening Ceremony Porprov Sulut XII yang Terlewatkan (Foto: Hendra)

Setelahnya, saya dan Sandi diarahkan ke kamar yang akan ditempati. Lantai 3, kamar 209, menjadi tempat saya dan Sandi berdiskusi dan merancang pemberitaan hingga hari terakhir penutupan Porprov Sulut XII.

Usai mandi dan makan malam, saya dan Sandi memutuskan untuk sejenak keluar menikmati suasana malam Kota Manado.
Menggunakan mobil pinjaman dari official, kami berdua mengitari ibu kota provinsi sambil bercakap-cakap.

Gemerlap lampu jalan dan lampu hias bertemakan Natal yang akan segera tiba di Desember nanti tampak cantik menghiasi kota.

Namun, sayangnya, atribut-atribut Porprov Sulut XII tampak kurang di Jalan Boulevard yang merupakan salah satu pusat keramaian dan sering menjadi tujuan utama warga Sulut dari luar kota.

Kurang lebih sejam kemudian, kami kembali tiba di base camp dan segera berkutat mengolah berita dari beberapa cabor, di mana atlet-atlet Kotamobagu berhasil meraih medali, sebelum merebahkan badan untuk beristirahat.

Di titik itu, perjalanan panjang dari Kotamobagu terasa baru prolog. Bagian sesungguhnya baru dimulai ketika kami melangkah masuk ke venue pertama dan bersiap menangkap setiap detik yang bisa menjadi cerita besar.

Porprov tidak hanya dimulai bagi 242 atlet dan official Kotamobagu yang bertarung di 21 Cabor ketika pertandingan pertama digelar. Bagi seorang jurnalis, Porprov dimulai di sini—di saat kaki menginjakkan diri di arena, dan cerita mulai menunggu untuk ditemukan. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here