
Kotamobagu, ZONABMR.COM —
Redaksi ZONABMR.com menyampaikan permintaan maaf resmi kepada seluruh pembaca, masyarakat Bolaang Mongondow Raya (BMR), serta pihak-pihak terkait atas kekeliruan informasi dalam pemberitaan sebelumnya mengenai dugaan tindakan rasisme terhadap pemain asing.
Melalui verifikasi lanjutan, dipastikan bahwa insiden tersebut tidak terjadi di Wali Kota Cup VII Kotamobagu, melainkan dalam gelaran Bupati Boltim Cup.
Kesalahan informasi tersebut bersumber dari keterangan awal beberapa narasumber di media sosial, dan kesalahan redaksi yang tidak mencari informasi lebih lanjut hingga terjadi kekeliruan.
Sebagai media yang menjunjung tinggi akurasi, ZONABMR.com memohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
Ketua Askot PSSI Kotamobagu: “Alhamdulillah, Penonton Wali Kota Cup Menjunjung Tinggi Sportivitas
Ketua Askot PSSI Kotamobagu menegaskan bahwa tindakan bernada rasisme tersebut bukan bagian dari Wali Kota Cup VII, sekaligus memberikan apresiasi kepada seluruh suporter Kotamobagu.
“Kami perlu meluruskan, peristiwa itu bukan kejadian di Wali Kota Cup VII. Alhamdulillah, selama turnamen berlangsung, para penonton menunjukkan sportivitas yang tinggi dan tertib di setiap pertandingan. Tidak ada insiden rasisme di ajang ini,” ujarnya, Selasa, 9 Desember 2025.
Namun, ia juga menegaskan posisi tegas Askot terhadap isu tersebut.
“Jika tindak rasisme terjadi di wilayah Kotamobagu, terutama di turnamen resmi, Askot PSSI Kotamobagu tidak akan ragu memberikan sanksi keras. Baik kepada pelaku maupun klub yang bersangkutan. Tidak ada toleransi untuk rasisme.”
Hairil Paputungan: Tetap Mencoreng Nama BMR
Jurnalis olahraga sekaligus pemerhati sepakbola BMR, Hairil Paputungan, menilai kasus ini tetap menjadi peringatan serius bagi dunia olahraga di kawasan BMR.
“Ini tindakan yang memalukan dan tetap mencoreng nama BMR, sekalipun kejadiannya di Boltim Cup. Orang BMR bukan orang rasis. Kita terkenal menjunjung tinggi persaudaraan dan penghargaan terhadap siapa pun.”
Hairil juga menekankan pentingnya edukasi suporter dan ketegasan penyelenggara.
“Askot/Askab harus sigap jika kejadian seperti ini muncul. Klub wajib membina suporter mereka. Sepakbola tidak akan maju kalau rasisme masih terjadi.”
Tidak ada Tempat Bagi Rasisme di BMR
Klarifikasi ini sekaligus menegaskan kembali bahwa masyarakat BMR dikenal dengan budaya kekeluargaan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan. Insiden rasisme tersebut dipandang sebagai ulah oknum yang tidak mencerminkan identitas BMR.
ZONABMR.com menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga akurasi pemberitaan dan menyajikan informasi yang berimbang kepada publik.
Satu pesan bersama kembali digaungkan:
Tidak ada tempat bagi rasisme di BMR — tidak sekarang, tidak pernah.






