Beranda blog Halaman 40

Weny Gaib Sambut Dukungan TBS untuk Pembangunan Kotamobagu

Weny Gaib Sambut Dukungan TBS untuk Pembangunan Kotamobagu
Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat saat Audiensi dengan Komunitas TBS

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Komunitas Torang Baku Sayang (TBS) menyatakan dukungan penuh terhadap program-program strategis Pemerintah Kota Kotamobagu.

Dukungan tersebut disampaikan saat audiensi dan silaturahmi dengan Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Kotamobagu, Rendy Virgiawan Mangkat yang berlangsung di ruang kerja Wali Kota, Senin, 14 April 2025.

Dalam pertemuan yang berlangsung akrab itu, Ketua TBS, Michael Sholat Bibisa, menegaskan komitmen komunitasnya untuk menjadi mitra strategis pemerintah, terutama dalam mendukung pembangunan daerah melalui penyebaran informasi yang konstruktif dan berintegritas.

Weny Gaib – Rendy V. Mangkat menyambut baik kehadiran TBS sebagai mitra strategis.

Dalam dialog tersebut, mereka juga membahas sejumlah isu penting, salah satunya pengembangan sektor pertanian, khususnya pada komoditas kakao.

Selain menyatakan dukungan, TBS juga memaparkan rencana pelaksanaan kegiatan halalbihalal sebagai sarana mempererat hubungan antara komunitas dan pemerintah. Michael menambahkan bahwa acara tersebut bertujuan memperkokoh sinergi dalam membangun daerah.

Weny Gaib – Rendy Virgiawan Mangkat pun berjanji akan menghadiri kegiatan Halal Bi Halal yang akan digelar oleh komunitas TBS.

Audiensi tersebut diakhiri dengan kesepahaman untuk terus memperkuat kerja sama antara komunitas dan Pemerintah Kota Kotamobagu ke depan.

Berkarya di Tengah Badai: Belajar dari Eyang Titiek Puspa

~ Karena seperti kata eyang Titiek, “Hidup itu indah, kalau kita mau menciptakannya.” ~

Berkarya di Tengah Badai: Belajar dari Eyang Titiek Puspa
Berkarya di Tengah Badai: Belajar dari Eyang Titiek Puspa

Opini, ZONABMR.COM – Di kota kecil ini, di antara riuh rendah harapan dan pesimisme yang kadang terasa menyesakkan, saya memilih tetap berkarya.

Tidak selalu mudah, memang. Kadang semangat naik turun seperti nada dalam lagu yang belum selesai ditulis. Tapi setiap kali hati mulai ragu, bayangan eyang Titiek Puspa muncul dalam benak saya.

Bagi saya, beliau bukan hanya musisi legendaris – beliau adalah cahaya kecil yang terus menyala di tengah gelap, pengingat bahwa berkarya itu soal ketulusan, bukan semata soal sorak sorai dunia.

Eyang Titiek Puspa, dalam pandangan saya, adalah versi perempuan dari almarhum Hi. Benyamin Sueb: sosok multi-talenta yang tak pernah kehilangan senyumnya, bahkan ketika hidup menantangnya habis-habisan.

Seperti Bang Ben, eyang Titiek tidak hanya menyanyi; beliau bercerita, menghidupkan rasa, menyulam suara menjadi bagian dari napas kehidupan.

Sebagai vokalis dan penulis lagu di Krayon INS, saya belajar dari mereka. Bahwa menjadi musisi itu bukan hanya soal mengejar ketenaran, tetapi soal menjadi penggerak. Saya ingin – meskipun kecil – menjadi bagian dari angin yang mendorong kapal-kapal kecil bernama “musisi daerah” untuk berlayar lebih jauh.

Bukan hanya menyanyikan ulang lagu orang lain, tapi berani menyanyikan kisahnya sendiri. Menulis nadanya sendiri. Membunyikan mimpi-mimpinya sendiri.

Karena karya orisinal itu seperti sidik jari – tidak ada dua yang benar-benar sama.

Dan di dalam karya itu, ada keberanian, ada kegembiraan, ada luka, ada tawa, semua berbaur menjadi satu dalam harmoni yang mungkin sederhana, tapi sangat bermakna.

Pengalaman saya sebagai penyiar di DC FM pun saya manfaatkan untuk memperjuangkan mimpi ini.

Dimana saat itu, lewat program kecil yang saya beri nama OK’D (Orang Kota Do’eh), saya mengundang teman-teman musisi daerah yang sudah berani punya lagu sendiri. Saya beri mereka ruang – sekecil apapun itu – untuk bersuara, untuk dikenal lebih luas.

Bagi saya, setiap lagu mereka adalah potongan jiwa yang patut dirayakan, bukan dilupakan.

Jejak Luka dan Mimpi Seorang Musisi dari Pelosok

Namun, tidak semua perjalanan mulus.

Saya sempat menyayangkan pernyataan dari seorang kenalan sekaligus juga tokoh yang cukup berpengaruh di daerah kami, yang pernah berkata,

Ngoni ini (musisi daerah) datang-datang suka tampil mar minta bayar. Sapa ngoni? Nda terkenal! (Kalian ini datang ingin diberi panggung, tapi minta dibayar. Kalian siapa? Tidak terkenal!)”

Kalimat itu sempat terasa menampar. Seperti ombak dingin yang menghantam perahu kecil di tengah laut.

Dan tentunya amat sangat disayangkan, ketika kalimat itu keluar dari lisan seseorang yang punya kapasitas – dan kalau tidak salah ingat, beliau sempat menjadi host salah satu pagelaran musik kolektif lokal – mendorong masyarakat untuk lebih mengapresiasi musisi daerah.

Sangat kontras dengan tokoh muda di daerah sebelah yang bahkan ketika memegang posisi lebih tinggi di provinsi, tetap berusaha memberi panggung untuk musisi dari daerahnya.

Tapi sudahlah, saya memilih tidak tenggelam dalam kekecewaan. Karena tentunya jalan pemikiran dan pemahaman seseorang tak mungkin untuk selalu selaras dengan kita.

Saya jadikan itu sebagai bahan bakar untuk berkarya lebih keras, lebih baik, dengan harapan suatu hari nanti, akan ada musisi daerah yang bukan hanya dikenal di tanah sendiri, tapi juga mengharumkan nama di tingkat nasional, bahkan internasional.

Toh saya sudah pernah membuktikan, bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, saya bersama Krayon INS mampu membawa pulang kebanggaan: peringkat 3 nasional dalam ajang pencarian bakat yang disponsori salah satu produk rokok ternama 13 tahun silam.

Dan tentu saja meski mungkin hanya segelintir, ketika lagu-lagu Krayon INS dibawakan ada saja di antara penonton ikut bernyanyi.

Pun tak cukup itu, beberapa sahabat musisi dari kota kecil ini saya tahu persis punya pencapaian yang membanggakan; hanya karena keterbatasan akses informasi dan perkembangan medsos belum seperti sekarang saja hingga tidak terekspos.

Itu adalah bukti-bukti kecil, bahwa dari daerah pun kita bisa bersuara nyaring, sepanjang kita mau bertahan, belajar, dan percaya.

Saya percaya, meski perlahan, perubahan akan datang.

Saya percaya, bahwa di balik ragu, ada asa.

Saya percaya, bahwa musisi daerah, dengan semua keterbatasannya, bisa menjadi api kecil yang suatu hari nanti membakar langit.

Dan setiap kali saya mulai merasa lelah, saya kembali mengingat eyang Titiek Puspa – perempuan tangguh yang menulis hidupnya dalam nada, yang membuktikan bahwa usia, situasi, bahkan zaman, tidak pernah benar-benar bisa memadamkan semangat berkarya.

Berkarya itu keputusan. Berkarya itu doa. Berkarya itu janji, kepada diri sendiri – untuk tidak menyerah.

Maka, biarlah saya tetap di sini, di panggung kecil ini, menyanyikan lagu-lagu yang lahir dari hati, dengan harapan suatu hari gema kecil ini akan menemukan hatinya yang lain, di tempat-tempat yang belum saya jamah.

Dan saya percaya, musik adalah salah satu cara terindah untuk menciptakan hidup itu. ***

Berkarya di Tengah Badai: Belajar dari Eyang Titiek Puspa
Udi Masloman

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif di pergerakan musik lokal daerah, frontman dan penulis lagu di band Krayon INS. Pernah menjadi penyiar di stasiun radio lokal DC FM; saat ini menjabat sebagai Ketua DPC organisasi  pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong

PJS Sulawesi Utara Siap Mengawal Program Prabowo – Gibran

PJS Sulawesi Utara Siap Mengawal Program Prabowo - Gibran
PJS Sulawesi Utara Siap Mengawal Program Prabowo – Gibran

Manado, ZONABMR.COM – Organisasi pers DPD Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Sulawesi Utara menegaskan komitmennya untuk mengawal pelaksanaan program-program yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sulawesi Utara.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua DPD PJS Sulut, Butje Lengkong, dan Sekretaris DPD PJS Sulut, Steven Pande-iroot, setelah melakukan rapat koordinasi dengan pengurus dan anggota DPC PJS Kota Manado pada Sabtu, 12 April 2025, di Komplek Lapangan KONI Sulut.

Steven Pande-iroot menyampaikan bahwa pers memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pembangunan bangsa. Selain berfungsi sebagai penyebar informasi, pers juga berperan sebagai kontrol sosial untuk memastikan kebijakan pemerintah berjalan dengan baik.

Menurut Steven Pande-iroot, hal itu sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tentang Pers yang mengamanatkan media sebagai sarana transparansi dan akuntabilitas.

“Pers memiliki peran yang sangat vital dalam pembangunan negara. Tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan pemerintah dilaksanakan secara tepat dan transparan,” kata Steven Pande-iroot.

Sementara itu, Butje Lengkong menambahkan bahwa pers tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai wahana edukasi bagi masyarakat.

Ia menekankan bahwa pers harus berperan aktif dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai program-program pemerintah, agar masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan.

“Program-program yang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sulawesi Utara wajib didukung dan dikawal. Pers akan terus berperan untuk memastikan program tersebut terlaksana dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Butje Lengkong.

Rapat koordinasi itu sendiri menegaskan keseriusan PJS Sulut dalam mendukung pemerintah pusat serta memperkuat peran pers dalam menciptakan pembangunan yang lebih baik dan lebih transparan di Sulawesi Utara.

Dengan komitmen tersebut, PJS Sulut siap memastikan setiap program pemerintah berjalan dengan baik demi kesejahteraan masyarakat.

Wali Kota Kotamobagu dan Bupati Bolmong Bersilaturahmi ke Kediaman YSM

Wali Kota Kotamobagu dan Bupati Bolmong Bersilaturahmi ke Kediaman Yasti Soepredjo Mokoagow
Yasti Soepredjo Mokoagow berbincang Akrab bersama para Kepala Daerah

Kotamobagu, ZONABMR.COM — Dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban, Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib bersama Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat, serta Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) Yusra Alhabsyi didampingi Wakil Bupati Doni Lumenta, bersilaturahmi ke kediaman anggota DPR RI yang juga mantan Bupati Bolmong, Yasti Soepredjo Mokoagow.

Kegiatan ini berlangsung di kediaman pribadi Yasti Soepredjo Mokoagow di Kelurahan Matali, Kecamatan Kotamobagu Timur, pada Sabtu, 12 April 2025. Silaturahmi ini digelar dalam rangka mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus merayakan Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah.

Dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut, Yasti Soepredjo Mokoagow menerima langsung kunjungan para kepala daerah beserta rombongan dengan sambutan hangat. Silaturahmi ini menjadi momentum penting dalam mempererat tali persaudaraan, sekaligus membangun komunikasi yang harmonis antara pemerintah daerah di kawasan Bolaang Mongondow Raya.

Dalam kesempatan itu, Yasti Soepredjo Mokoagow menyampaikan apresiasi atas kehadiran para kepala daerah. Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan baik demi kelanjutan pembangunan daerah.

“Silaturahmi ini bukan hanya dalam rangka Idulfitri, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kita bersama menjaga kekompakan, mempererat hubungan emosional, dan membangun sinergi untuk kemajuan Bolaang Mongondow Raya,” ujar Yasti Soepredjo Mokoagow.

Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib, dalam kesempatan tersebut mengungkapkan rasa terima kasih atas undangan yang diberikan oleh Yasti Soepredjo Mokoagow.

“Kami merasa terhormat dapat bersilaturahmi langsung dengan Ibu Yasti. Ini adalah momentum yang sangat baik, di mana kita tidak hanya saling bermaaf-maafan, tetapi juga mempererat kebersamaan yang menjadi modal penting dalam membangun daerah ke depan,” kata Weny Gaib.

Senada dengan hal tersebut, Bupati Bolmong, Yusra Alhabsyi, menambahkan bahwa tradisi silaturahmi saat Idulfitri harus terus dilestarikan sebagai bagian dari budaya bangsa.

“Melalui silaturahmi seperti ini, kami bisa membangun komunikasi yang lebih erat, memperkuat kerja sama lintas wilayah, serta menciptakan suasana harmonis dalam mendukung program-program pembangunan yang ada,” ujar Yusra Alhabsyi.

Suasana penuh keakraban tampak selama berlangsungnya silaturahmi.

Acara silaturahmi itu menegaskan pentingnya membangun kebersamaan di tengah dinamika politik dan pemerintahan, sekaligus menunjukkan bahwa semangat Idulfitri menjadi momentum memperkuat solidaritas antar-pemimpin dan masyarakat.

Dengan adanya kegiatan seperti itu, diharapkan hubungan antar-pemerintah daerah di wilayah Bolaang Mongondow Raya semakin solid dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.

Diketahui, giat tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi untuk masyarakat Bolmong Raya dengan Yasti Soepredjo Mokoagow.

Idul Fitri Penuh Makna: Komunitas TBS Hadir untuk Lansia di Kotamobagu Barat

Idul Fitri Penuh Makna: Komunitas TBS Hadir untuk Lansia di Kotamobagu Barat
Komunitas TBS Hadir untuk Lansia di Kotamobagu Barat

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Masih dalam nuansa perayaan Idul Fitri yang sarat makna, Komunitas Torang Baku Sayang (TBS) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat.

Melalui aksi berbagi sembako kepada lansia di Kelurahan Mongkonai Induk, Sabtu 13 April 2025, komunitas ini membuktikan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada berbagi dan mempererat rasa kemanusiaan.

Menurut Ketua Komunitas TBS, Michael Solat Bibisa, aksi itu sebagai wujud nyata dari kontribusi positif Komunitas TBS kepada warga sekitar.

“Inisiatif berbagi sembako ini telah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap bulan. Pada kesempatan ini, momentum Hari Raya Idul Fitri semakin memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap orang tua di Kelurahan Mongkonai Induk,” ujar lelaki yang akrab disapa Iqel.

Diungkapkan Iqel, Komunitas TBS berkomitmen untuk terus berkontribusi secara positif bagi masyarakat.

“Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban para saudara kita yang membutuhkan, khususnya para lansia, serta menambah kebahagiaan dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri,” harap Iqel.

Pelaksanaan aksi tersebut, turut didukung oleh jajaran pemerintah kelurahan setempat.

Dimana Lurah Mongkonai Induk, Hadiati Paputungan, didampingi Ketua RT Mitti Potabuga, berperan aktif dalam proses pendistribusian bantuan kepada warga.

“Inisiatif ini memiliki arti yang sangat besar bagi kami. Kehadiran Komunitas TBS membuat kami merasa diperhatikan sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat lansia di Kelurahan Mongkonai Induk,” ucap Lurah Hadiati Paputungan.

Hadiati Paputungan menambahkan, adanya kegiatan dari TBS mempererat hubungan antara komunitas dan warga.

“Serta diharapkan dapat terus berlanjut demi memperkuat sinergi yang telah terjalin, tidak hanya di Mongkonai Induk tetapi juga di seluruh wilayah Kota Kotamobagu,” tutup Hadiati Paputungan.

Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, Komunitas TBS semakin menegaskan peran aktifnya dalam membangun solidaritas sosial dan memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat Kota Kotamobagu.

Wali Kota Kotamobagu Instruksikan OPD Kooperatif dalam Pemeriksaan LKPD oleh BPK RI

Wali Kota Kotamobagu Instruksikan OPD Kooperatif dalam Pemeriksaan LKPD oleh BPK RI
Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib saat Mengadakan Pertemuan dengan BPK RI Perwakilan Sulut

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib, menginstruksikan kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemkot Kotamobagu untuk bersikap kooperatif dalam mendukung pelaksanaan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2024 oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).

“Dengan adanya pemeriksaan BPK ini, saya mengimbau kepada seluruh OPD untuk berada di tempat selama proses pemeriksaan berlangsung serta bekerja sama dengan baik, karena hal ini merupakan bagian dari upaya untuk mendukung pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat di Kota Kotamobagu,” tegas Weny Gaib, Jumat 11 April 2025.

Pernyataan tersebut disampaikan Wali Kota usai pertemuan tertutup dengan BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Utara, yang turut dihadiri oleh Inspektur Daerah Kotamobagu, Yusrin Mantali, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Pra Sugiarto Yunus, serta Ketua Tim Audit LKPD BPK RI Perwakilan Sulut, Andhy Winastono, beserta anggota tim pemeriksa.

Dalam kesempatan tersebut, Weny Gaib menjelaskan bahwa pemeriksaan ini merupakan bagian dari agenda rutin BPK RI dalam rangka melakukan evaluasi terhadap pengelolaan keuangan dan kinerja pemerintah daerah.

“BPK hadir untuk menyampaikan pemberitahuan dimulainya proses pemeriksaan, sebagaimana yang dilakukan setiap tahun, terkait dengan kinerja dan pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Kotamobagu pada tahun anggaran sebelumnya,” ujar Weny Gaib.

Lebih lanjut, Weny Gaib menyampaikan bahwa selain pemeriksaan administrasi, BPK RI juga akan melakukan pemeriksaan fisik di lapangan.

“Mereka juga menyampaikan rencana untuk melakukan pemeriksaan fisik di lapangan dan mengharapkan adanya sinergi dari pemerintah daerah. Kita menyambut baik kehadiran BPK RI, memberikan dukungan penuh, serta berkomitmen untuk membantu dengan menyediakan seluruh informasi yang dibutuhkan,” tutup Weny Gaib.

Adapun pemeriksaan atas LKPD Tahun Anggaran 2024 tersebut dimulai pada Jumat, 11 April 2025 hari ini, dan akan berlangsung selama 35 hari ke depan.

Palestina dan Luka Kolektif Kita

Palestina dan Luka Kolektif Kita
Palestina dan Luka Kolektif Kita

~Lagu “We Will Not Go Down” selalu terngiang setiap kali melihat keteguhan rakyat Palestina, bukan hanya memainkan emosi tetapi menyadarkan betapa benar setiap lirik yang dinyanyikan Michael Heart.~

Oleh: Udi Masloman

Opini, ZONABMR.COM – Setiap zaman melahirkan tragedinya sendiri. Tapi ada tragedi yang, alih-alih berakhir, justru diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya—seperti luka terbuka yang dibiarkan membusuk di tengah riuh dunia yang pura-pura tuli.

Itulah Palestina bagi kita hari ini: simbol penderitaan yang tak kunjung disembuhkan, jeritan kemanusiaan yang terlalu sering dikalahkan oleh kepentingan politik dan kekuasaan.

Di tanah yang oleh banyak agama disebut suci itu, manusia diperlakukan lebih rendah dari debu.

Rumah-rumah dihancurkan dalam sekejap, kebun zaitun—yang seharusnya menjadi lambang perdamaian—ditumbangkan dengan buldoser.

Anak-anak, yang baru belajar mengeja nama mereka sendiri, harus belajar juga bagaimana mengeja “pengungsian”, “blokade”, bahkan “kematian.”

Kita hidup di dunia yang seharusnya lebih sadar, lebih beradab, lebih berempati.

Namun ironisnya, kita menyaksikan genosida di Palestina berjalan di hadapan mata kita, sambil terus berdebat tentang istilah, tentang siapa yang lebih berhak atas rasa sakit.

Kita lupa bahwa, pada akhirnya, nyawa manusia tidak memiliki denominasi. Darah yang mengalir dari tubuh anak kecil di Gaza tidak bertanya: “Apakah aku layak dikabarkan?”

Darah itu hanya mengalir, menuntut keadilan yang entah kapan datangnya.

Apa artinya berbicara tentang hak asasi manusia, tentang perdamaian dunia, ketika kita membiarkan genosida ini berlangsung?

Apa gunanya resolusi, konferensi, pidato panjang, jika di lorong rumah sakit lapangan di Gaza, seorang ibu masih harus memilih anak mana yang mungkin bisa diselamatkan lebih dulu?

Palestina bukan sekadar isu politik, bukan semata konflik geopolitik.

Palestina adalah ujian kemanusiaan kita. Sejauh mana kita berani memihak pada yang tertindas?

Sejauh mana kita mau mengakui bahwa ketidakadilan, di mana pun ia terjadi, adalah ancaman bagi keadilan di mana pun?

Kita bisa memilih untuk diam, karena merasa kecil di hadapan kekuasaan besar.

Tapi sejarah akan mencatat bukan hanya para pelaku kejahatan itu, melainkan juga mereka yang memilih diam saat kejahatan berlangsung.

Palestina mengajarkan kita satu hal: bahwa kemanusiaan bukan sekadar kata, melainkan keberanian untuk berdiri, bahkan ketika dunia memilih untuk berpaling. ***

Udi Masloman
Udi Masloman

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif terlibat di aksi-aksi peduli Palestina. Saat ini penulis tercatat sebagai Ketua Organisasi Pers DPC Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong

Informasi Pelantikan Tahlis Gallang sebagai Sekprov Sulut Dipastikan Tidak Benar

Informasi Pelantikan Tahlis Gallang sebagai Sekprov Sulut Dipastikan Tidak Benar
Ilustrasi

Manado, ZONABMR.COM — Masyarakat Sulawesi Utara, khususnya di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR), dihebohkan dengan beredarnya kabar mengenai pelantikan Tahlis Gallang sebagai Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulawesi Utara pada Jumat, 11 April 2025.

Informasi tersebut menyebar luas melalui sejumlah akun dan grup media sosial seperti Facebook dan WhatsApp.

Tidak sedikit warganet yang bahkan telah mengucapkan selamat kepada mantan Sekretaris Daerah di tiga kabupaten/kota tersebut.

Namun, setelah dikonfirmasi, informasi tersebut dipastikan tidak benar.

Berdasarkan keterangan sumber resmi, hingga saat ini belum ada pelantikan Sekprov Sulut yang baru, dan Jabatan tersebut masih dijabat oleh Steve Kepel.

“Itu informasi tidak benar, hoaks,” tegas sumber tersebut.

Sumber tersebut juga menjelaskan, saat ini Tahlis Gallang belum memenuhi syarat untuk menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) atau Pelaksana Harian (Plh) Sekprov Sulut.

Menurutnya, Tahlis Galkang masih aktif sebagai Kepala Dinas Koperasi dan UKM, sekaligus menjabat sebagai Plt Asisten II di Pemerintah Provinsi Sulut.

“Hari ini, Gubernur tengah melaksanakan tugas di luar daerah, demikian pula dengan Tahlis Gallang yang sedang bertugas di wilayah lain. Oleh karena itu, informasi terkait pelantikan tersebut tidak berdasar,” tambahnya.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, serta selalu melakukan verifikasi melalui sumber-sumber resmi sebelum menyebarkannya lebih lanjut.

Mengenang Karya Emas Titiek Puspa, Sang Legenda yang Tak Pernah Padam

Mengenang Karya Emas Titiek Puspa, Sang Legenda yang Tak Pernah Padam
Cover Album Lawas Titiek Puspa

Jakarta, ZONABMR.COM – Bicara dunia musik Indonesia, rasanya tak lengkap tanpa menyebut nama Titiek Puspa.

Sosok yang satu ini bukan cuma penyanyi biasa, tapi juga pencipta lagu, aktris, dan figur seni yang karyanya hidup dari zaman dulu sampai sekarang.

Meskipun beliau sudah berpulang, karya-karya emasnya tetap begitu membekas di ingatan.

Perjalanan Panjang Seorang Titiek Puspa

Titiek Puspa mulai bersinar di era 50-an, di masa di mana musik Indonesia lagi bertumbuh pesat.

Suara khasnya, ditambah kepribadiannya yang kuat di atas panggung, bikin dia gampang banget dicintai banyak orang.

Tapi yang bikin beliau spesial, bukan cuma soal suara. Titiek Puspa juga jago banget nulis lagu.

Tema lagunya pun sangat bervariasi — ada tentang cinta, keluarga, sosial, bahkan realita hidup yang jarang disentuh penyanyi lain pada zamannya.

Lagu-Lagu yang Tak Lekang oleh Waktu

Siapa sih yang tak kenal lagu-lagu ini:

“Kupu-Kupu Malam” Lagu yang dalem banget. Tentang perempuan-perempuan yang harus bekerja di malam hari. Titiek Puspa menulisnya dengan penuh empati, tanpa menghakimi.

“Bing” Lagu ini dibuat buat mengenang sahabatnya, Bing Slamet. Simpel tapi ngena, bikin kita yang denger ikut merasa kehilangan.

“Apanya Dong” Lagu ini lucu tapi nyentil! Kritik sosial dibungkus dengan lirik yang jenaka dan catchy.

“Doa Seorang Ibu” Lagu penuh haru yang sering dinyanyikan waktu Hari Ibu. Tak heran, karena liriknya benar-benar mewakili cinta ibu yang tanpa batas.

Selain itu, beliau juga bikin banyak lagu anak-anak, acara TV, sampai main di teater. Multitalenta!

Warisan untuk Indonesia

Titiek Puspa mengajarkan kita satu hal penting: berkarya itu harus dari hati.

Dia selalu total di setiap karyanya, tanpa pernah setengah-setengah. Dan itu yang bikin karyanya tetep hidup sampai hari ini.

Walaupun beliau sudah tiada, semangat dan inspirasinya bakal terus ada di setiap nada, setiap lirik, dan setiap hati yang pernah tersentuh karyanya.

Terima kasih, Titiek Puspa. Warisanmu abadi.

Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

~Kadang yang paling menyakitkan bukan ketika dibohongi, tapi saat menyadari bahwa kita ikut menyebarkan kebohongan itu.~

Oleh: Udex Mundzir

Opini, ZONABMR.COM – Saya menulis ini sebagai wartawan yang pernah percaya. Bukan karena naif, tapi karena pada satu titik saya ingin percaya bahwa pemimpin bisa berubah, bahwa negara bisa jadi lebih baik lewat suara rakyat, bukan warisan dinasti.

Sepuluh tahun lalu, kami—media, seniman, influencer, akademisi—berlomba menyuarakan “harapan.” Kami menertawakan mobil Esemka karena polos dan lokal, bukan karena palsu. Kami mengangkat narasi “anak tukang kayu” dan membandingkannya dengan elit lama yang dikira penuh dosa. Kami bantu bentuk pencitraan yang sekarang justru mencemari logika publik.

Kini, saya bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya telah kami bantu bangun?

Hari ini kita tahu, Esemka tidak pernah benar-benar ada. Kita tahu, kebijakan yang digadang-gadang sebagai pro-rakyat, dari kartu-kartu sakti sampai bansos digital, ternyata jadi ladang korupsi baru. Kita tahu bahwa di balik senyum dan baju putih polos itu, ada kekuasaan yang senang bermain abu-abu.

Kita menyaksikan runtuhnya KPK, revisi UU, pengangkatan para buzzer jadi komisaris, dan hukum yang bengkok ke arah istana.

Dan ketika suara rakyat mulai kritis, kekuasaan membalas dengan kedap. Tak ada ruang untuk oposisi, bahkan di media. Kritik disebut hoaks, oposisi dijadikan lawakan.

Yang lebih menyakitkan, sebagian dari kami masih diam.

Banyak wartawan—maaf, rekan seprofesi saya—yang akhirnya memilih “netral,” padahal tahu apa yang sedang terjadi. Ada yang dibeli lewat proyek, ada yang dijinakkan lewat penghargaan, ada juga yang hanya ingin “aman.”

Saya tahu, karena saya pernah jadi salah satunya.

Kami wartawan dibesarkan dengan idealisme: “berpihak kepada kebenaran dan kepentingan publik.” Tapi di lapangan, kami dicekik oleh iklan, tekanan pemilik media, dan redaktur yang harus tunduk pada pemegang saham yang dekat kekuasaan.

Kini, kami hidup di negeri yang penuh ilusi.

Pemerintah bicara pertumbuhan ekonomi, tapi jutaan rakyat tak mampu mudik karena kehilangan kerja. Mereka bicara digitalisasi, tapi anak-anak di pedalaman masih berjalan 10 km untuk sinyal. Mereka bangga buka taman 24 jam, tapi masjid malah diminta sepi dan sunyi.

Mereka bangga proyek IKN dikunjungi wisatawan, padahal fungsinya untuk pusat pemerintahan, bukan taman safari beton.

Dan kini, ketika korupsi sudah telanjang di depan mata, Prabowo pun bicara soal “keadilan bagi anak dan istri koruptor.” Pernyataan itu terdengar simpatik, tapi mematikan.

Karena ia mengaburkan batas antara pelaku dan korban. Antara pencuri dan penadah. Antara empati dan pembiaran.

Lebih parah lagi, pernyataan itu mengungkap satu hal yang mengkhawatirkan: Prabowo cenderung lebih berempati pada koruptor dan keluarganya ketimbang kepada penderitaan rakyat.

Rakyat kecil yang kehilangan hak atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan, bahkan sekadar harga bahan pokok yang wajar, tak pernah mendapat empati sebesar itu.

Tak ada pidato menyentuh soal anak petani yang gagal panen, atau buruh yang di-PHK tanpa pesangon. Tapi untuk istri dan anak koruptor, negara diminta “berperasaan.”

Ini bukan hanya keliru secara moral. Ini pengkhianatan terhadap akal sehat.

Sebagai wartawan, saya paham kekuatan narasi. Narasi bisa membangkitkan perlawanan, atau meninabobokan rakyat. Dan kekuasaan sekarang sedang memainkan narasi yang licin: empati kepada elit, kekerasan kepada rakyat kecil.

Kita sudah menyaksikan rakyat miskin disita motornya karena telat bayar pajak. Tapi saat bicara keluarga koruptor, negara justru mengingatkan kita untuk “adil.” Di mana adilnya?

Lebih ironis lagi, saat media massa kini lebih sibuk menyoroti pesta pernikahan artis, drama influencer, atau jargon pejabat viral. Kita, wartawan, sedang kehilangan akal sehat kolektif.

Hari ini, negara tak lagi menunggu berita baik. Negara ingin berita yang dipesan.

Saya menulis ini sebagai pengakuan, dan mungkin penyesalan. Tapi juga sebagai seruan: mari berhenti pura-pura tidak tahu.

Kita semua tahu ini salah. Kita semua tahu ini busuk. Dan kalau kita diam, maka kita bagian dari kebusukan itu.

Sudah cukup kita tertawa atas kebohongan yang kita tahu tak lucu.

Sudah cukup kita diam karena takut kehilangan akses.

Sudah saatnya kita menulis dengan satu tujuan: menyuarakan kembali apa yang tersisa dari nurani publik.

Karena jika wartawan ikut bungkam, lalu siapa yang akan bicara? ***

Udex Mundzir
Udex Mundzir

*Penulis adalah wartawan di Onews.id