Ariono Potabuga dan Tim DisdagkopUMKM Kotamobagu bersama Pemilik SELEVEL Resto & Caffe
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disdagkop UMKM) Kotamobagu, Ariono Potabuga, memberikan apresiasi tinggi terhadap SELEVEL Resto & Caffe.
“Makanannya recommended, tempatnya recommended, menandakan kualitas sekaligus kenikmatan kuliner yang mampu memikat masyarakat lokal maupun pengunjung,” ucap Ariono, Kamis 21 Agustus 2025, saat mengunjungi SELEVEL bersama tim DisdagkopUMKM Kotamobagu.
Inisiatif Sosial: Memperkuat Ekosistem UMKM Lokal
Lebih dari sekadar restoran, SELEVEL Resto & Caffe turut mendukung pengembangan UMKM di sekitarnya.
Destinasi kuliner ini kini menjadi wadah bagi pelaku usaha mikro lokal, dengan menyediakan ruang penjualan bagi produk-produk mereka—seperti kue-kue dan snack—untuk dipasarkan melalui gerai mereka.
Langkah SELEVEL yang tidak hanya menjual menu sendiri, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM lain agar produknya dikenal dan diterima masyarakat menjadi perhatian khusus Ariono.
“Ini menunjukkan semangat kolaboratif yang nyata, memperkuat sinergi antar pelaku ekonomi lokal,” ujar Ariono.
Penyerapan Tenaga Kerja: Kontribusi Untuk Komunitas
Selain dukungan terhadap sesama UMKM, SELEVEL Resto & Caffe diapresiasi Ariono karena telah menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan.
“Restoran ini memberi kesempatan bekerja kepada warga sekitar—mulai dari pramusaji, koki, hingga staf pendukung lainnya—memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan serta pengurangan pengangguran di Kotamobagu,” kata Ariono.
Konteks Wilayah: Peran UMKM di Sulawesi Utara
Apresiasi ini datang di tengah tren pertumbuhan UMKM di Sulawesi Utara yang kuat.
Data BPS Sulut menunjukkan bahwa jumlah usaha mikro dan kecil meningkat dari 44.308 unit pada 2022 menjadi 60.961 unit pada 2023, sementara jumlah tenaga kerja sektor tersebut melonjak dari 78.643 menjadi 113.996 orang .
Kolaborasi antara SELEVEL Resto & Caffe dengan UMKM lokal, lanjut Ariono, serta penyerapan tenaga kerja setempat menunjukkan bahwa peran wirausaha tidak hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga memperkuat komunitas.
“Usaha seperti SELEVEL bisa menjadi contoh teladan dalam membangun ekosistem UMKM yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan,” tutup Ariono.
Inayah Warso dan Firman, Bersama Para Karyawan Selevel Resto & Cafe
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Di balik gemerlap lampu dan riuh suasana Selevel Resto & Caffe yang selama ini menjadi salah satu ikon tempat nongkrong di Kotamobagu, kini tersimpan kegelisahan yang mendalam.
Bukan soal kualitas makanan atau pelayanan, melainkan ancaman nyata dari hoaks yang datang dari sebuah postingan di media sosial.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sekadar status, sekadar “curahan hati” di jagat maya.
Namun, bagi puluhan karyawan Selevel, dampaknya begitu nyata: ancaman kehilangan pekerjaan.
Pengunjung Turun, Nasib Puluhan Karyawan Terancam
Inayah Warso, pemilik Selevel Resto & Caffe, mengaku dua hari terakhir usahanya mengalami penurunan jumlah pengunjung yang cukup signifikan.
Suaranya terdengar berat saat menyampaikan kemungkinan terburuk yang harus dihadapi.
“Akibat jari yang begitu ringan memposting hal negatif, padahal ada banyak orang yang menggantungkan penghasilannya kepada Selevel. Kalau keadaan ini terus berlanjut, saya tidak punya pilihan selain mengurangi karyawan hingga setengahnya,” ucap Inayah, Rabu, 20 Agustus 2025.
Selevel saat ini mempekerjakan 54 karyawan. Angka yang tidak kecil untuk sebuah usaha kuliner di kota kecil seperti Kotamobagu.
Inayah sadar, di balik angka itu ada puluhan keluarga yang mengandalkan keberadaan Selevel untuk tetap bertahan hidup.
“Saya sedih memikirkan jika terpaksa ada karyawan yang di-PHK. Banyak di antara mereka adalah tulang punggung keluarga, ada yang anak yatim piatu, ada pula mahasiswa yang bekerja demi biaya kuliahnya,” katanya.
Suara Harapan dari Para Karyawan
Kekhawatiran itu bukan hanya milik pemilik, tetapi juga para karyawan yang kini dihantui rasa cemas.
Syaulia Zafitri Ramadhani, karyawan asal Motoboi Kecil, tak kuasa menahan air mata ketika ditanya soal kemungkinan adanya PHK.
“Saya seorang piatu dan merupakan tulang punggung keluarga. Bagaimana nasib keluarga saya jika saya masuk daftar yang di-PHK?” katanya lirih tak kuasa menahan tetes air mata yang jatuh.
Ia berharap masalah ini cepat selesai, agar Selevel kembali ramai seperti biasa.
Nada serupa diungkapkan Ningsih Mamonto, karyawan asal Kotobangon. Baginya, bekerja di Selevel bukan sekadar mencari nafkah karena statusnya sebagai tulang punggung keluarga, tetapi juga tentang ikatan emosional dengan pemilik usaha.
Ningsih Mamonto, Salah seorang Karyawan Selevel Resto & Caffe, Berstatus Tulang Punggung Keluarga yang Berharap Agar Permasalahan Cepat Selesai
“Dengan bekerja di sini saya bisa membiayai kebutuhan keluarga. Apalagi Kak Inayah dan suaminya begitu peduli, mereka sering memberi bonus saat resto ramai pengunjung. Bahkan, mess pun disediakan bagi karyawan yang tidak punya tempat tinggal,” ungkap Ningsih.
Harapan Penyelesaian Kekeluargaan
Meski tengah dirundung masalah, Inayah masih membuka pintu untuk jalan damai. Ia berharap ada itikad baik dari Monica Elsa Dilapanga untuk meminta maaf dan menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan.
“Bagi kami, ini bukan sekadar soal nama baik usaha, tetapi tentang masa depan puluhan orang yang bekerja di sini,” tegasnya.
Di satu sisi, kasus ini memperlihatkan betapa besar pengaruh media sosial dalam kehidupan nyata.
Satu unggahan bisa berdampak pada keberlangsungan sebuah usaha, bahkan mengancam nasib banyak orang.
Kini, Selevel Resto & Caffe tengah berjuang bukan hanya untuk mempertahankan reputasi, tetapi juga untuk menjaga asa puluhan karyawannya yang menggantungkan harapan di sana.
Owner Selevel, Inayah Warso dan Firman bersama Wali Kota Weny Gaib, Kapolres AKBP Irwanto dan Dandim 1303 Letkol Inf. Fahmil Harris
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Bagi banyak warga Kotamobagu, nama SELEVEL Resto & Cafe sudah bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari gaya hidup.
Dari luar, resto ini tampak modern dengan sentuhan minimalis. Namun, daya tarik sesungguhnya terasa ketika kaki melangkah masuk.
Tempat yang nyaman dengan wangi hidangan hangat langsung menyapa, seakan mengundang siapa pun untuk duduk lebih lama.
Lampu-lampu gantung bernuansa hangat menerangi setiap sudut ruangan.
Ada meja panjang yang sering dipilih oleh keluarga besar, ada pula sudut-sudut kecil yang pas untuk pasangan atau sahabat berbagi cerita.
Di dinding, beberapa ornamen sederhana memberi sentuhan estetik yang menenangkan mata.
Pelayan-pelayan SELEVEL dikenal ramah dan sigap. Senyum mereka selalu hadir sejak langkah pertama pelanggan masuk.
Suasana itu yang juga dirasakan Kapolres Kotamobagu, AKBP Irwanto, SIK, MH, saat singgah di tempat ini.
Tanpa kesan kaku, beliau menikmati sajian yang dihidangkan dengan ekspresi puas. Hidangan berat, camilan renyah, hingga segelas es segar tersaji di meja.
Setelah mencicipi, komentarnya langsung terlontar dengan penuh antusias.
“Pelayanan mantap, makanannya enak, dan esnya enak-enak. Pokoknya recommended,” ucapnya sembari mengangkat dua jempol.
Bagi SELEVEL, pujian ini bukan sekadar kata-kata.
Owner SELEVEL, Inayah Warso, bahkan menyebutnya sebagai bentuk penghargaan yang begitu berarti.
“Alhamdulillah, apresiasi ini membuat kami semakin bersemangat. Semua karyawan bekerja dengan hati, dan dukungan dari Bapak Kapolres ini menjadi motivasi untuk terus menjaga pelayanan dan kualitas menu,” ungkapnya.
Keistimewaan SELEVEL bukan hanya terletak pada menunya yang beragam.
Ada pelanggan yang datang untuk makan malam keluarga, ada pula sekumpulan anak muda yang menjadikan tempat ini sebagai ruang nongkrong.
Beberapa pengunjung bahkan terlihat asyik membuka laptop, memanfaatkan suasana nyaman untuk bekerja sambil menyeruput kopi.
Semua itu membuat SELEVEL lebih dari sekadar resto—ia adalah ruang pertemuan, tempat cerita-cerita sederhana warga kota terjalin.
Dua jempol dari Kapolres hanyalah satu potret kecil dari banyak alasan mengapa SELEVEL terus menjadi magnet kuliner di Kotamobagu.
Di balik sajian yang lezat, ada keramahan, ada kenyamanan, dan ada rasa “pulang” yang membuat siapa pun betah berlama-lama.
Dan mungkin, di situlah letak rahasia mengapa setiap pujian yang datang selalu terdengar tulus.
Theresia Natalie Batara Randa, Putri SMA N 1 Kotamobagu Tahun 2024-2025
Kotamobagu, ZONABMR.COM – SMA Negeri 1 Kotamobagu kembali menorehkan prestasi membanggakan.
Pada upacara peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI tahun 2025, sejumlah siswanya dipercaya menjadi anggota Paskibraka Kota Kotamobagu.
Dari deretan nama itu, Theresia Natalie Batara Randa, yang dinobatkan sebagai Putri SMA Negeri 1 Kotamobagu Tahun 2024-2025, menjadi salah satu sorotan utama.
Theresia tampil sebagai pendamping pembawa baki pada upacara penaikan bendera pagi hari.
Malam harinya, ia kembali unjuk kebolehan dengan menyampaikan ucapan terima kasih mewakili rekan-rekan Paskibraka, menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.
Kepercayaan itu menjadi pengalaman berharga sekaligus bukti kemampuan siswi kelas XI ini.
Apresiasi Kepala Sekolah
Kepala SMA Negeri 1 Kotamobagu, Masyuri Podomi, S.Pd., MM., memberikan apresiasi tinggi kepada para siswanya yang berhasil lolos sebagai anggota Paskibraka.
Ia menyebut pencapaian ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga bukti kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
“Kami sangat bangga. Anak-anak ini telah menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan. Theresia dan teman-teman Paskibraka adalah teladan bagi generasi muda lainnya,” ujar Masyuri.
Selain Theresia, nama-nama lain dari SMA Negeri 1 Kotamobagu yang juga terpilih sebagai anggota Paskibraka adalah Nazril Alfarizi Olii, Rafi Al Albani Mokodompit, Muh. Cakra Pratama Salim, Ashraf Faisal Dondo Mogimpe, Chayla Syahira Amiranty Puteri dan Megrisa Hidayat Lasena.
Theresia, Putri SMA yang Berambisi Jadi Dokter Militer
Di balik prestasi yang diraihnya, Theresia menyimpan cita-cita besar: menjadi dokter militer.
Anak pertama dari pasangan Yohanis Batara Randa dan Ni Ketut Sayang ini bertekad memperdalam bahasa Inggris, bahkan berencana mengikuti tes TOEFL sebagai bekal untuk meraih mimpinya.
Selain itu, Theresia juga memiliki ambisi mengikuti ajang pemilihan uyo nanu Kotamobagu, sebuah kontestasi tahunan bergengsi yang mencari putra-putri daerah berprestasi.
Ajang ini bukan sekadar lomba penampilan, melainkan wadah untuk menampilkan kecerdasan, wawasan budaya, kemampuan komunikasi, dan kepedulian sosial.
Bagi generasi muda Kotamobagu, uyo nanu adalah simbol representasi anak daerah yang siap membawa nama kota di kancah yang lebih luas.
“Theresia ingin ikut pemilihan uyo nanu Kotamobagu. Itu menjadi motivasi tambahan baginya selain mengejar cita-cita sebagai dokter militer,” ungkap Yohanis penuh kebanggaan.
Generasi Harapan Kota Kotamobagu
Kehadiran Theresia—Putri SMA Negeri 1 Kotamobagu Tahun 2024 – 2025—dan rekan-rekannya di barisan Paskibraka menjadi bukti bahwa SMA Negeri 1 Kotamobagu terus melahirkan generasi unggul.
Dari lapangan upacara hingga panggung resepsi kenegaraan, langkah mereka bukan hanya sebuah seremoni, melainkan simbol harapan baru bagi daerah dan bangsa.
Pawai Pembangunan Meriahkan HUT ke-80 RI di Kotamobagu
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Suasana penuh warna mewarnai Kota Kotamobagu pada Selasa, 19 Agustus 2025.
Ribuan warga tumpah ruah di jalanan untuk menyaksikan Pawai Pembangunan yang digelar Pemerintah Kota Kotamobagu dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan ini dilepas langsung oleh Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib, di depan Rumah Dinas Wali Kota.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pawai ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan juga wujud kecintaan dan kebanggaan masyarakat terhadap perjuangan para pahlawan.
“Pawai karnaval bukan hanya perayaan, tetapi juga bentuk nyata rasa cinta, kebanggaan, serta penghormatan kita terhadap mereka yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya kemerdekaan bangsa,” ungkap Wali Kota.
Weny Gaib mengingatkan, kemerdekaan yang hari ini dinikmati seluruh rakyat adalah hasil dari pengorbanan besar para pendahulu.
Karena itu, generasi muda diharapkan mampu mengisinya dengan kerja keras, dedikasi, serta inovasi demi kemajuan bangsa dan daerah.
Mengusung tema nasional “Indonesia Emas 2045, Melaju dengan Semangat Persatuan dan Inovasi”, perayaan tahun ini disebut menjadi pengingat penting.
Persatuan menjadi fondasi kokoh bangsa, sementara inovasi menjadi kunci untuk bersaing di era yang terus berubah.
Pawai Pembangunan sendiri menghadirkan beragam penampilan. Anak-anak sekolah, organisasi kepemudaan, hingga komunitas masyarakat tampil dengan kostum meriah, seni kreasi, serta ekspresi budaya lokal yang memikat mata. Jalanan pun berubah menjadi panggung besar penuh warna dan keceriaan.
“Inilah bukti bahwa kebudayaan lokal tetap hidup, tumbuh, dan menjadi bagian penting dari identitas bangsa. Pawai ini juga memberi pesan, bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus kita rawat dalam bingkai persatuan,” tutur Wali Kota.
Ia menutup sambutannya dengan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda Kotamobagu, menjadikan semangat 17 Agustus sebagai api perjuangan dalam membangun daerah agar lebih maju, mandiri, dan sejahtera.
Apresiasi pun disampaikan kepada seluruh peserta karnaval, sekolah, organisasi, hingga masyarakat yang dengan antusias memeriahkan pawai tahunan ini.
“Semoga kebersamaan dan kekompakan ini terus terjaga, sehingga Kotamobagu selalu menjadi kota yang damai, rukun, dan penuh semangat gotong royong,” kata Wali Kota menutup pidatonya.
Pawai Pembangunan akhirnya menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia hadir sebagai pengingat akan arti kemerdekaan, sekaligus cermin semangat masyarakat Kotamobagu untuk terus melangkah bersama menuju masa depan.
Konferensi Pers yang Digelar Selevel Cafe and Resto (Foto: Udi)
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Pada 17 Agustus 2025, publik Kotamobagu dikejutkan oleh sebuah artikel yang tayang di salah satu media online dengan judul provokatif: “Baru & Lagi Naik Daun, Diduga Owner Selevel Resto Ancam Pelanggan.” Berita ini segera menyebar cepat, memantik perbincangan hangat di media sosial.
Namun, hanya sehari berselang, manajemen Selevel Cafe and Resto bersama kuasa hukumnya tampil di hadapan awak media untuk memberikan klarifikasi.
Mereka menegaskan, pemberitaan tersebut tidak lebih dari sebuah hoaks yang sarat tuduhan sepihak dan merugikan reputasi usaha.
Awal Mula: Reservasi yang Berubah Mendadak
Kejadian bermula ketika seorang pelanggan, Monica Elsa Dilapanga, melakukan reservasi ruang VIP dengan nama Playhouse untuk pukul 13.00 WITA, Ahad 17 Agustus 2025.
Namun tak lama kemudian, ia mengubah jadwal reservasi menjadi pukul 12.00 siang.
Saat Monica tiba pukul 11:59, ruangan yang ia pesan masih digunakan pelanggan lain.
Staf restoran segera bergerak membersihkan dan menyiapkannya kembali. Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, ruangan sudah siap dipakai.
“Semua ini terekam jelas dalam CCTV. Fakta menunjukkan pelanggan hanya menunggu sebentar, bukan berjam-jam,” jelas Jein Djauhari, SH, MH, kuasa hukum Selevel dari JD & Partners Law Firms.
Teguran Bernada Tinggi
Namun, alih-alih menerima penjelasan, Monica justru menunjukkan sikap tidak sabar.
Menurut keterangan staf, ia beberapa kali meninggikan suara, bahkan menunjuk waiter dengan nada marah. Padahal, di dapur, pesanan sedang diproses sesuai standar waktu.
Menu ayam bakar yang biasanya membutuhkan 35 menit untuk disajikan, misalnya, berhasil tiba di meja pada pukul 12:58. Artinya, tidak ada keterlambatan yang melampaui batas wajar.
“Berita yang menyebutkan Monica menunggu dua jam untuk pesanannya, itu jelas bohong. Semua pesanan datang tepat waktu,” tegas Jein.
Dugaan Persaingan Usaha
Di tengah kericuhan, muncul fakta lain: Monica sendiri mengaku sebagai pemilik kafe di Kotamobagu.
Dari sini, pihak Selevel menduga ada motif persaingan usaha tidak sehat di balik sikap emosional pelanggan tersebut.
“Dia membandingkan Selevel dengan usahanya. Itu jelas tidak etis, apalagi kalau ujungnya justru menjelekkan nama kami,” lanjut Jein.
Selain itu, lanjut Jein, Monica juga dicurigai masih berupaya melakukan provokasi.
“Dia juga menunjukkan upaya provokasi, dengan mengatakan kalau andai dirinya menjadi ASN yang diminta pindah karena tempat telah di-reservasi, pasti ia akan marah. Padahal para ASN tidak keberatan, bahkan meminta maaf karena tidak tahu jika tempat telah di-reservasi.”
Lebih mengejutkan lagi, setelah semua makanan tersaji, Monica memilih meninggalkan restoran dalam keadaan marah. Ia bahkan tidak membayar dua nota tagihan dengan total Rp270.000.
Upaya Restoran Meredakan Situasi
Owner Selevel, Inayah Warso, menyebut pihaknya sebenarnya sudah berusaha menghindari masalah sejak awal.
Mereka memberikan kompensasi berupa open bill serta menempatkan satu waiter khusus untuk melayani Monica.
“Namun, semua itu tetap tidak meredakan emosinya. Bahkan ada karyawan kami yang sampai trauma karena dimarahi dengan cara tidak pantas,” tutur Inayah.
Dari Salah Paham Menjadi Hoaks
Masalah yang sebenarnya bisa selesai di meja makan itu berubah jadi keributan besar ketika sebuah media online menurunkan berita sepihak.
Dalam artikel yang viral itu, pemilik Selevel disebut-sebut mengancam pelanggan, tuduhan yang langsung ditepis pihak restoran.
“Tidak pernah ada ancaman. Tidak fisik, tidak verbal. Tuduhan itu bohong total. Ini jelas hoaks yang sengaja disebarkan untuk merusak nama baik,” tegas Jein Djauhari.
Menurutnya, media yang menayangkan berita tersebut juga keliru karena tidak melakukan verifikasi atau meminta klarifikasi.
“Sebagai media yang mengaku profesional, seharusnya mereka konfirmasi dulu ke kami. Menyebarkan berita tanpa fakta, sama saja mempermalukan diri sendiri,” ujarnya.
Tuntutan Permintaan Maaf
Selevel kini menuntut dua pihak: Monica Elsa Dilapanga sebagai pelanggan yang memicu masalah, dan media online yang memuat berita sepihak itu.
Mereka diberi waktu 3×24 jam untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“Kalau tidak ada itikad baik, kami siap menempuh jalur hukum, pidana maupun perdata. Kami tidak akan tinggal diam,” tegas Jein.
Publik Diminta Lebih Bijak
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah insiden kecil bisa berubah besar ketika bercampur dengan informasi sepihak dan hoaks.
Reputasi usaha yang dibangun bertahun-tahun bisa tercoreng hanya dalam hitungan jam.
Baik kuasa hukum maupun manajemen Selevel berharap masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi.
“Hoaks bisa merugikan banyak pihak. Jangan mudah percaya sebelum ada klarifikasi. Kami akan terus menjaga integritas usaha kami, sekaligus menempuh langkah hukum jika diperlukan,” tutup Jein Djauhari.
Sahaya Mokoginta Bersama Para Personel Sat Pol PP yang Menjadi Jawara Lomba PBB Antar OPD Pemkot Kotamobagu (Foto: Udi)
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Lomba Peraturan Baris Berbaris (PBB) antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang digelar Pemerintah Kota Kotamobagu dalam rangka memeriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia menyisakan cerita menarik.
Pasalnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) tampil dominan dengan menempati posisi puncak daftar juara.
Kepala Dinas Sat Pol PP Kotamobagu, Sahaya Mokoginta, tak menutup rasa bangganya atas prestasi anak buahnya.
Dengan nada penuh percaya diri, Sahaya menyebut hasil ini sebagai pesan tegas bagi OPD lain yang mencoba menantang kemampuan Sat Pol PP di arena baris-berbaris.
“Ini pelajaran buat mereka yang berani menantang Sat Pol PP. Terbukti, kami menguasai daftar teratas dengan meraih juara 1 dan juara 2,” ujar Sahaya, Senin 18 Agustus 2025.
Tak hanya dua posisi teratas, Sahaya bahkan menilai juara 3 yang berhasil diraih Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM bersama Dinas Pendidikan hanyalah bentuk penghargaan untuk memberi ruang bagi peserta lain.
“Sejujurnya, juara 1, 2, bahkan 3 itu milik Sat Pol PP. Tapi demi kebersamaan, biarlah ada yang lain ikut naik podium,” tambahnya sambil tersenyum.
Dalam lomba ini, Sat Pol PP diketahui mengirim empat tim PBB sekaligus, menunjukkan keseriusan sekaligus kekompakan korps penegak Perda tersebut dalam ajang peringatan kemerdekaan.
Dengan hasil gemilang itu, Sat Pol PP kian meneguhkan diri bukan hanya sebagai garda terdepan dalam menjaga ketertiban, tapi juga sebagai “jawara” di lapangan baris-berbaris antar-OPD Pemkot Kotamobagu.
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Sebuah video berdurasi singkat yang menampilkan ketegangan antara sopir bentor (becak motor) dan sopir grab di Kotamobagu, mendadak viral di media sosial.
Rekaman tersebut pertama kali diunggah melalui akun Instagram @xii.ach1evers, dan langsung mengundang komentar warganet yang menyoroti persoalan transportasi di daerah itu.
Peristiwa tersebut disebut-sebut terjadi di depan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kotamobagu, Kelurahan Mongondow, Kecamatan Kotamobagu Selatan.
Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui pasti kapan insiden tersebut berlangsung.
Dalam video itu, terdengar seorang sopir bentor melontarkan kalimat dengan nada tinggi dan penuh ancaman kepada sopir grab yang sedang menjemput penumpang.
“Da bilang sudah Jo ba muat, ngana brani ba muat kang?! Tampa-tampa bentor sini,” ucap sopir bentor itu.
Namun, pernyataan bernada kasar tersebut segera mendapat bantahan dari sekelompok siswa dan siswi MAN 1 Kotamobagu yang berada di lokasi.
Mereka mengaku bahwa merekalah yang memesan layanan grab melalui aplikasi, sehingga sopir grab datang sesuai pesanan.
Salah seorang siswi bahkan terdengar menegaskan alasan mereka memilih grab. “Karena kami banyak, jadi tidak bisa pakai bentor,” ujarnya.
Ucapan itu sontak mematahkan klaim sang sopir bentor yang merasa wilayahnya “dikuasai” dan tidak boleh dimasuki transportasi berbasis aplikasi.
Kejadian ini pun menuai reaksi beragam. Sebagian warganet menyayangkan sikap arogansi oknum sopir bentor yang terkesan memaksakan kehendak.
Sementara sebagian lain menilai persoalan ini memperlihatkan masih adanya gesekan antara moda transportasi konvensional dan transportasi daring di daerah.
Fenomena persaingan tersebut bukanlah hal baru. Sejak kemunculan transportasi daring, benturan kepentingan kerap terjadi di banyak daerah, termasuk di Kotamobagu.
Persoalan ini semakin pelik ketika tidak ada regulasi jelas terkait “pembagian wilayah” antara bentor dan transportasi berbasis aplikasi.
Masyarakat pun berharap agar pihak pemerintah kota maupun aparat berwenang dapat segera turun tangan.
Tanpa langkah tegas, dikhawatirkan insiden serupa bisa memicu konflik lebih besar, bahkan mengganggu kenyamanan masyarakat yang berhak memilih layanan transportasi sesuai kebutuhan mereka.
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Kotamobagu yang semestinya menjadi momentum penuh sukacita, justru diwarnai ironi: listrik padam.
Bukan sekadar padam sebentar, tapi di pagi hari 17 Agustus 2025, saat masyarakat bersiap mengikuti upacara kemerdekaan, listrik tiba-tiba hilang.
Malam harinya, gangguan berlanjut hingga 18 Agustus dini hari, membuat suasana peringatan kemerdekaan terasa suram dan penuh keluhan warga.
Ketua Fraksi Hanura sekaligus Anggota DPRD Kota Kotamobagu, Agus Suprijanta, tak menutupi kekesalannya atas kejadian tersebut. Ia menilai kinerja PLN jauh dari kata profesional.
“Ini melanggar profesionalisme. Apalagi di HUT Kemerdekaan RI ke-80, kok bisa-bisanya listrik padam di tengah persiapan masyarakat merayakan kemerdekaan,” tegas Agus dengan nada geram, Senin 18 Agustus 2025.
Menurutnya, PLN seharusnya sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari, mengingat peringatan HUT RI adalah agenda rutin nasional yang jelas tanggalnya. Bukan agenda mendadak, apalagi tak terduga.
“PLN harus mengevaluasi kinerja mereka. Bagaimana mungkin di puncak hari bersejarah seperti ini, masih terjadi pemadaman listrik. Apa yang sebenarnya dikelola PLN jika kejadian semacam ini terus berulang?” tambahnya.
Peristiwa pemadaman listrik di momen sakral ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat atas layanan PLN yang kerap dianggap abai terhadap kebutuhan publik.
Bagi Agus, ini bukan lagi soal teknis semata, melainkan soal keseriusan PLN dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
“Kalau hal sepenting ini saja tidak bisa diantisipasi, bagaimana masyarakat bisa percaya PLN mampu memberikan layanan terbaik?” sindirnya.
Masyarakat pun menilai, alih-alih memberi energi pada semangat kemerdekaan, PLN justru “memadamkan” momentum.
Kritik tajam dari DPRD Kotamobagu ini sekaligus menjadi alarm keras bagi PLN: pelayanan listrik bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut hajat hidup orang banyak—termasuk momen paling bersejarah bagi bangsa.
Opini, ZONABMR.COM – Delapan puluh tahun setelah proklamasi dibacakan, bangsa ini masih berjuang untuk menafsirkan arti kemerdekaan.
Tapi di Kotamobagu, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-80, rakyat mendadak disadarkan bahwa ada satu bentuk penjajahan yang belum usai: ketergantungan pada PLN.
Pagi yang mestinya dipenuhi semangat nasionalisme berubah jadi kelabakan massal. Tanpa pemberitahuan, listrik padam. Entah keseluruhan atau hanya sebagian. Yang pasti di wilayah tempat saya tinggal, listrik padam sejak pagi.
Seolah saklar di kantor PLN lebih berdaulat daripada Sang Merah Putih yang hendak dikibarkan di lapangan upacara.
Dampaknya merembet ke mana-mana. Seorang ASN yang telah menyiapkan seragam dengan rapi sejak malam sebelumnya, tak bisa mandi karena pompa air berhenti bekerja.
Anak-anak sekolah yang semestinya berbaris gagah justru berangkat dalam kondisi setengah siap.
Bahkan kalangan media pun dibuat tak berdaya: agenda peliputan upacara terganggu hanya karena PLN memilih memadamkan lampu di hari paling sakral bangsa.
Ironisnya, PLN selalu menuntut pelanggan disiplin. Tagihan listrik yang telat sehari saja berisiko disegel, bahkan dicabut.
Tetapi ketika rakyat dirugikan, PLN kerap berlindung di balik kalimat klasik: “ada gangguan teknis” atau “sedang perbaikan jaringan.” Kalimat yang dingin, jauh dari rasa tanggung jawab.
Hari kemerdekaan mestinya menjadi catatan emas, tapi PLN justru menorehkan tinta hitam.
Perayaan 80 tahun kemerdekaan menjadi saksi betapa rapuhnya hajat hidup rakyat di bawah kendali satu-satunya penyedia listrik.
Monopoli yang, dengan segala keleluasaannya, bisa menentukan terang atau gelapnya kehidupan sehari-hari.
Mungkin inilah wajah kemerdekaan di era modern: merdeka dari penjajah asing, tapi tidak dari colokan listrik. Rakyat dipaksa belajar sabar setiap kali pemadaman terjadi, bahkan di hari kemerdekaan.
Kini masyarakat menunggu penjelasan. Bukan sekadar permintaan maaf atau alasan teknis, tapi jawaban yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Karena di negeri yang katanya sudah merdeka, rakyat setidaknya berhak mendapat kepastian bahwa perayaan kemerdekaan tidak akan lagi direduksi oleh satu tombol saklar.
Kalau listrik bisa padam di hari kemerdekaan, lalu apa arti 80 tahun merdeka?
Merdeka seharusnya terang, tapi PLN justru memilih merayakannya dengan lilin.
Fyi, saya menulis ini pada hari ini, Senin 18 Agustus 2025, pukul 03.00 WITA dalam keadaan gelap gulita karena pemadaman listrik terjadi lagi.
Bisa jadi ini niat baik PLN Cabang Kotamobagu agar saya bisa menulis dengan penuh penghayatan. Yah, mungkin saja.