Jainuddin Damopolii: Lulusan INJadi Harus Jadi Garda Terdepan Pelayanan Kesehatan Bermartabat
Kotamobagu, ZONABMR.COM – “Wisuda ini bukan sekadar seremoni, tapi amanah ilmu yang harus dijaga dengan integritas dan pengabdian.”
Pernyataan penuh makna ini disampaikan Ketua Yayasan 23 Maret Kotamobagu, Jainuddin Damopolii, saat memberikan sambutan pada Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Wisuda ke-2 Institut Kesehatan dan Teknologi Jainudin (INJadi), Rabu, 9 Juli 2025.
Bertempat di Ballroom Hotel Sutan Raja, momen ini menjadi tonggak penting bagi puluhan lulusan Program Studi Keperawatan dan Kebidanan jenjang Diploma III.
Di hadapan para wisudawan, orang tua, serta para undangan, Jainuddin menyampaikan harapan besarnya agar para lulusan tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan yang manusiawi dan bermartabat.
“Kami berharap lulusan Jainudin mampu menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan. Keilmuan kalian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Ia juga menegaskan komitmen yayasan dalam terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan, fasilitas, serta pembaruan kurikulum yang adaptif terhadap dinamika dunia kesehatan.
“Kami bertekad menjadikan INJadi sebagai pusat pendidikan kesehatan yang unggul di Bolaang Mongondow Raya bahkan Sulawesi Utara,” imbuhnya.
Hadir dalam acara tersebut mewakili Pemerintah Kota Kotamobagu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Nasli Paputungan.
Dalam sambutannya, Nasli mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan memberikan apresiasi tinggi kepada pihak institusi atas perannya dalam mencetak tenaga kesehatan profesional.
“Wisuda ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tantangan sesungguhnya. Di tengah masyarakat, kemampuan, sikap, dan dedikasi Anda akan diuji langsung. Dengan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, saya yakin para lulusan akan mampu memberi kontribusi nyata bagi kemajuan daerah,” ujar Nasli, mewakili Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib.
Kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh rasa syukur, menjadi momentum berharga bagi seluruh civitas akademika INJadi dan bukti nyata komitmen lembaga pendidikan dalam menjawab tantangan dunia kesehatan masa kini dan mendatang.
INJADI Gelar Sumpah Profesi Perawat dan Bidan, Cetak Tenaga Kesehatan Siap Pakai
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Institut Kesehatan dan Teknologi Jainuddin (INJADI) kembali melaksanakan prosesi pengambilan sumpah profesi bagi lulusan Program Studi Keperawatan dan Kebidanan, yang digelar di Sutanraja Hotel Kotamobagu, Selasa (8/7/2025).
Sebanyak 45 lulusan resmi diambil sumpahnya dalam kegiatan yang menandai kesiapan mereka untuk terjun langsung ke dunia kerja sebagai tenaga kesehatan profesional.
Para peserta sebelumnya telah dinyatakan lulus dari uji kompetensi yang menjadi syarat utama kelulusan.
Prosesi sakral ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di bidang kesehatan, di antaranya perwakilan Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sulawesi Utara, Ns. Suwirno Akolo, S.Kep., Ketua DPD PPNI Kotamobagu, Ns. Salni Saharman, S.Kep., M.Kep., serta pengurus cabang Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Kotamobagu, Bidan Yunita Kereh, S.ST., M.Kes.
Rektor INJADI, Ns. Eko Susilo, S.Kep., M.Kes., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para lulusan.
Ia menekankan bahwa sumpah profesi bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah komitmen moral dalam menjalankan tugas pelayanan kesehatan.
“Kami mengucapkan selamat kepada seluruh lulusan yang telah menyelesaikan studi dan mengikuti prosesi sumpah profesi. Momen ini menandai kesiapan kalian dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kami harap janji dan sumpah yang diucapkan benar-benar diinternalisasi dan dijadikan pedoman dalam praktik di lapangan,” ujar Eko Susilo.
Ia juga menyoroti peran strategis perawat dan bidan dalam menjawab berbagai tantangan kesehatan masyarakat, khususnya dalam penurunan angka stunting serta peningkatan kualitas pelayanan bagi ibu dan anak.
“Tenaga keperawatan dan kebidanan memiliki kontribusi besar dalam menekan angka stunting serta mendukung program kesehatan ibu dan anak. Diharapkan para lulusan ini dapat menjadi garda terdepan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera,” tambahnya.
Selain itu, Rektor INJADI turut menyuarakan harapan agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap mahasiswa dari keluarga kurang mampu, khususnya yang ingin menempuh pendidikan di bidang kesehatan.
Menurutnya, dukungan berupa beasiswa sangat penting untuk menunjang proses belajar mengajar dan mencetak lebih banyak tenaga kesehatan berkualitas.
Kegiatan pengambilan sumpah ini telah menjadi agenda rutin tahunan sejak pendirian INJADI, dan menjadi bagian integral dari tahapan akhir pendidikan Diploma III Keperawatan dan Kebidanan.
Prosesi ini tidak hanya menandai kelulusan, namun juga meneguhkan komitmen etika profesi para lulusan sebelum menjalani praktik di tengah masyarakat.
Pemuda Mabuk Bikin Ricuh di Mobuya, Tim Resmob Polres Kotamobagu Lakukan Penangkapan
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Seorang pemuda berinisial HM alias Hendrik (24), warga Desa Mobuya, Kecamatan Passi Barat, diamankan Tim Resmob Polres Kotamobagu usai mabuk dan membuat keributan sambil mengancam warga dengan senjata tajam, Minggu, 6 Juli 2025.
Aksi HM yang dalam pengaruh minuman keras itu terjadi di jalan raya Desa Mobuya.
Ia dilaporkan menghadang dan mengejar warga sambil membawa pisau, bahkan melempari kendaraan yang melintas dengan batu.
Salah satu korban, FT alias Fanly (40), warga Desa Wulurmaatus, Kecamatan Modoinding, Minahasa Selatan, menjadi sasaran pengancaman dan pelemparan oleh tersangka.
Menurut laporan korban yang tertuang dalam Laporan Polisi Nomor LP/356/VII/2025/SPKT/Polres Kotamobagu/Polda Sulut, kejadian bermula saat dirinya hendak melintasi Desa Mobuya.
Tiba-tiba, HM menghadang laju mobilnya dan menodongkan pisau ke arah korban.
Fanly sempat menghindar, namun kendaraan miliknya terkena lemparan batu oleh pelaku.
Aksi brutal tersebut sempat terekam kamera warga dan menyebar luas di media sosial. Setelah menerima laporan, Tim Resmob bergerak cepat ke lokasi dan langsung mengamankan pelaku untuk dibawa ke Mapolres Kotamobagu.
Kapolres Kotamobagu AKBP Irwanto SIK, MH melalui Kasi Humas AKP I Dewa Dwiadnyana membenarkan kejadian tersebut.
“Tersangka pengancaman dan pengrusakan di Desa Mobuya telah kami amankan untuk proses hukum selanjutnya,” ujarnya.
Hingga kini, tersangka HM masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Mapolres Kotamobagu.
Polisi juga mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila mendapati aksi kriminal serupa.
~Maka ketika ada orang-orang yang dengan tulus membuka pintu usaha mereka demi memberi ruang bagi suara-suara itu, patutlah kita memberi salam hormat~
Aksi Seru dari Penonton dan Musisi Lokal yang Terjadi di Salah satu Gigs di Log In Cafe
Opini, ZONABMR.COM – Di kota kecil seperti Kotamobagu dan kawasan Bolaang Mongondow Raya (BMR), semangat bermusik tak pernah benar-benar padam.
Ia mungkin tidak selalu terdengar keras, tapi selalu ada—menyala kecil di sudut-sudut kamar tidur, di studio seadanya, dan kini, semakin sering di panggung-panggung sederhana yang lahir dari inisiatif para pemilik kafe lokal.
Dalam diam, mereka membuktikan bahwa ruang berkarya bisa diciptakan dari niat, bukan sekadar modal.
Di tengah riuhnya industri musik nasional yang serba instan dan kompetitif, para musisi lokal berjuang untuk tetap hidup—bukan hanya secara ekonomi, tetapi secara batin.
Bagi mereka, musik adalah cara mengekspresikan isi kepala, keresahan, cinta, luka, dan semangat.
Namun sering kali, semangat itu terbentur realitas: tak ada panggung, tak ada ruang, tak ada dukungan.
Maka ketika ada orang-orang yang dengan tulus membuka pintu usaha mereka demi memberi ruang bagi suara-suara itu, patutlah kita memberi salam hormat.
Log In Cafe adalah satu di antara tempat yang kini menjadi simbol harapan baru bagi geliat musik lokal.
Bukan hanya karena desain interiornya yang nyaman atau kopinya yang enak, tapi karena keberpihakan sang pemilik terhadap komunitas kreatif.
Dalam setahun terakhir, Log In Cafe telah beberapa kali bekerja sama dengan musisi lokal untuk menggelar gigs, termasuk event F**klentine yang mendapat sambutan hangat dari komunitas.
Lebih dari itu, pada perayaan ulang tahun pertamanya, Log In bahkan menjadikan panggung musik lokal sebagai inti acaranya—bukan hiburan pelengkap.
“Kadang kita cuma butuh seseorang yang bilang, ‘ayo manggung di sini’. Dan itu artinya besar banget buat kami,” ujar Enzhu, gitaris Krayon INS dan Sine, dua band lokal yang telah malang melintang di berbagai panggung alternatif.
“Kafe-kafe seperti ini ibarat oase. Tempat kita bisa menyalakan lagi semangat yang kadang redup karena tak ada tempat tampil. Kita jadi punya tujuan lagi.”
Dari sudut lain kota, Holy Drip Cafe juga menjadi tempat yang tak terpisahkan dari perkembangan skena musik lokal.
Tak heran, sebab pemiliknya sendiri adalah bagian dari band lokal Undestroyed—band yang tidak hanya tampil, tapi juga konsisten merilis karya orisinal.
Holy Drip tak hanya menyediakan tempat, tapi menyuntikkan semangat: bahwa bermusik adalah jalan yang layak ditempuh.
Di tempat ini, pengunjung tak hanya datang untuk kopi, tapi juga untuk ikut menyaksikan dan merayakan proses kreatif para musisi.
Lalu ada Warkop Jarod, yang layak disebut sebagai ‘rumah panggung’ bagi musisi BMR.
Jarod Fest. Salah Satu Panggungan Bergengsi yang Menjaga Nyala Semangat Musisi Lokal Kotamobagu dan BMR
Dalam beberapa tahun terakhir, kafe ini menjadi tuan rumah dari sejumlah event penting seperti Jarod Fest, Bersuakarya, hingga Bersuanada.
Kegiatan-kegiatan ini bukan sekadar acara hiburan, tapi platform nyata untuk membangun mental tampil, memperkuat jejaring antar komunitas, dan membuktikan bahwa musisi lokal mampu menyuguhkan pertunjukan yang layak dihargai.
“Kalau bukan tempat-tempat seperti Jarod, kita tidak tahu lagi mau manggung di mana. Tapi yang bikin lebih spesial, mereka tak cuma kasih tempat. Mereka percaya sama karya kita,” ungkap Erik, vokalis Ampowplur, band lokal yang tengah naik daun dan mulai dikenal berkat lagu-lagu dengan lirik dan suara khas.
Bagi Erik dan banyak musisi lainnya, termasuk saya, ruang semacam itu bukan hanya tentang logistik atau teknis, tetapi soal pengakuan.
Ada satu momen yang selalu saya ingat, sederhana tapi membekas.
Sahabat ini menepuk bahu saya sambil tersenyum, lalu bertanya, “Kapan Krayon INS manggung lagi di sini?”
Pertanyaan itu terlontar bukan sekadar basa-basi, bukan juga demi mendatangkan keramaian ke tempat usahanya.
Ada ketulusan yang sulit diabaikan, ada antusiasme yang menyala di balik kalimat yang terdengar ringan itu.
Kafe itu bernama Red Corner, salah satu tempat nongkrong yang belakangan semakin sering terdengar di kalangan anak muda Kotamobagu.
Tapi bagi saya, Red Corner bukan sekadar kafe. Ia adalah ruang, tempat hangat yang memberi pelukan bagi kami—para musisi lokal yang terus mencari tempat untuk bersuara.
Pemilik Red Corner, sahabat lama saya itu, tak pernah lelah menunjukkan dukungan.
Ia tidak hanya mempersilakan panggungnya digunakan, tetapi juga menantikan dengan penuh semangat kapan kami akan kembali mengisi ruangannya dengan denting gitar, drum yang menggetarkan dada, dan lirik-lirik yang mungkin hanya dipahami oleh mereka yang tumbuh di tanah ini.
Baginya, musik lokal bukan selingan. Ia adalah bagian dari identitas tempat itu sendiri.
Ketika tempat usaha memberi panggung bagi musisi lokal, mereka sedang menyampaikan satu pesan penting: bahwa suara mereka pantas untuk didengar, bahwa karya mereka layak untuk dihargai.
Tak bisa dipungkiri, skena musik lokal sering kali terpinggirkan. Minim promosi, terbatas tempat, dan kerap hanya dinikmati segelintir orang.
Namun kini, dengan hadirnya tempat-tempat seperti Log In, Holy Drip, Warkop Jarod, Red Corner dan cafe-cafe lain yang tak sempat saya sebutkan, geliat itu mulai menemukan napas baru.
Dari gigs kecil yang sederhana, tumbuh keyakinan bahwa musik lokal bukan sekadar pelengkap suasana—ia adalah jantung dari daerah.
Lebih dari sekadar mendukung, para pemilik kafe ini sedang mewariskan nilai.
Bahwa musik lokal harus diberi ruang untuk tumbuh. Bahwa kreativitas harus dipelihara, bukan dikekang. Bahwa komunitas harus disatukan, bukan dibungkam.
Tentu saja, ini baru langkah awal. Masih banyak yang bisa dan harus dilakukan.
Tapi keberanian mereka untuk memulai, untuk memberi tanpa pamrih, sudah membuka jalan.
Kini tinggal bagaimana kita—sebagai komunitas, penikmat, bahkan pemerintah—menjaga jalan itu tetap terbuka.
Kotamobagu dan BMR butuh lebih banyak orang-orang seperti mereka.
Orang-orang yang memahami bahwa suara musisi lokal adalah suara daerah, adalah suara zaman.
Karena dari panggung kecil dan gigs sederhana itulah, kadang lahir suara yang mengubah segalanya.
Dan kepada mereka yang telah memberi tempat, semangat, dan harapan—kita tak hanya angkat topi. Kita bergandeng tangan, berdiri bersama, dan berkata: mari kita jaga musik lokal tetap hidup.
Jadi, jika hari ini ada yang bertanya kenapa musik lokal masih bertahan, salah satu jawabannya adalah karena ada orang-orang seperti pemilik Red Corner.
Yang tak lelah percaya, tak lelah mendukung, dan tak pernah berhenti bertanya:
“Kapan kalian manggung lagi di sini?” ***
Udi Masloman
*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif di pergerakan musik lokal daerah, frontman dan penulis lagu di band Krayon INS. Pernah memperjuangkan karya-karya musisi lokal BMR untuk didengar saat menjadi penyiar di stasiun radio lokal DC FM; saat ini menjabat sebagai Ketua DPC organisasi pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong
“Amartha Binangun” Jadi Tema Nobar Wayang Kulit Polres Kotamobagu di Hari Bhayangkara ke-79
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Malam yang sejuk di Foodsal Cafe, Kelurahan Kotobangon, Jumat (4/7/2025), terasa berbeda dari biasanya.
Alunan gamelan mengisi udara, mengiringi sorot lampu temaram yang menyinari kelir putih tempat bayangan para ksatria akan bertarung.
Di hadapan layar itu, Polres Kotamobagu mengajak masyarakat menyelami makna budaya lewat pagelaran wayang kulit bertema “Amartha Binangun”—sebuah kisah tentang pembangunan negeri yang adil, rukun, dan beradab.
Kegiatan nonton bareng (nobar) ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-79, dan telah menjadi tradisi tahunan selama tiga tahun terakhir atas inisiasi Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Dihadiri oleh jajaran pejabat utama Polres Kotamobagu serta unsur Forkopimda, suasana malam itu mencair dalam kehangatan yang hanya bisa dihadirkan oleh pertunjukan yang memadukan filosofi, hiburan, dan nilai-nilai luhur.
“Wayang kulit bukan hanya bentuk hiburan, tapi jendela nilai yang membentuk karakter bangsa. Tema Amartha Binangun ini selaras dengan semangat Hari Bhayangkara—membangun tatanan masyarakat yang harmonis, adil, dan sejahtera,” ujar Wakapolres Kotamobagu Kompol Romel Pontoh mewakili Kapolres, AKBP Irwanto, SIK, MH.
Amartha Binangun: Bangun Negeri, Rawat Nilai
Lakon Amartha Binangun bukan sekadar kisah pewayangan. Ia merupakan alegori tentang negara ideal—di mana pemimpin berlaku bijak, rakyat hidup dalam keteraturan, dan keadilan menjadi landasan hidup bersama.
Dalam cerita itu, para Pandawa membangun kembali negeri Amarta dari kehancuran, dengan semangat kebersamaan dan pengabdian.
Bagi Polri, kisah ini adalah cermin dari semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Amartha Binangun adalah simbol dari visi Bhayangkara yang melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat demi terwujudnya kehidupan berbangsa yang damai dan beradab,” ungkap Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam pernyataannya.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya seperti wayang kulit bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata Polri dalam merawat identitas bangsa dan memperkuat kedekatan dengan masyarakat.
Seni yang Menyatukan
Pertunjukan malam itu tidak hanya menghadirkan nostalgia, tetapi juga menyatukan lintas generasi.
Di barisan depan, penonton tampak antusias mengikuti kisah Arjuna dan Yudhistira, tertawa saat Semar melontarkan guyonan khasnya, dan terdiam ketika sang dalang menyelipkan petuah tentang keadilan, pengabdian, dan makna kepemimpinan.
Dalam era yang serba digital, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa tradisi lisan dan pertunjukan klasik masih punya tempat dan kekuatan untuk membentuk cara pandang, membangun rasa, dan menanamkan nilai.
Menjadi Bhayangkara yang Berakar
Hari Bhayangkara bukan sekadar peringatan institusional, tapi refleksi tentang peran Polri di tengah masyarakat.
Dan malam itu, di bawah kelir yang menari, Polres Kotamobagu menunjukkan bahwa menjaga ketertiban bisa sejalan dengan menjaga kebudayaan.
Dengan mengangkat lakon Amartha Binangun, Polres mengirimkan pesan kuat: bahwa Bhayangkara tak hanya berdiri di garda hukum, tapi juga di garda nilai—membangun negeri lewat keadilan, kebersamaan, dan kebudayaan.
Karena dalam bayangan wayang, kita menemukan terang: tentang siapa kita, apa yang kita jaga, dan untuk siapa kita mengabdi.
Lima Pencuri Kopra Dibekuk, Tim Resmob Ungkap Penjualan ke Penadah Rp15 Juta
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Tim Resmob Satreskrim Polres Kotamobagu berhasil mengungkap kasus pencurian kopra yang meresahkan warga.
Lima orang tersangka ditangkap setelah diketahui mencuri 10 karung kopra seberat 844 kilogram dari sebuah gudang di Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow.
Kelima pelaku yang diamankan berinisial RA (50), IP (36), RMN (30), SW (38), dan AB (29). Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai dari Gorontalo Utara hingga Kotamobagu.
Aksi pencurian ini dilakukan dengan memanfaatkan posisi mereka sebagai pekerja di gudang dan toko, memanfaatkan lengahnya pengawasan untuk mengangkut kopra keluar tanpa diketahui.
Setelah kopra dicuri, para pelaku menjual hasil curian tersebut ke seorang penadah berinisial FP (37) di Desa Kopandakan Satu. Nilai transaksi mencapai Rp15 juta.
Kasus ini terbongkar setelah warga melaporkan kehilangan kopra di gudang tempat para tersangka bekerja.
Laporan itu langsung ditindaklanjuti oleh Tim Resmob.
Dalam waktu singkat, petugas berhasil mengidentifikasi dan meringkus para pelaku di beberapa lokasi, termasuk rumah pribadi, tempat kos, hingga toko.
Salah satu pelaku bahkan memilih menyerahkan diri ke pihak berwajib.
Polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa uang tunai Rp5,4 juta dan tiga unit handphone.
Penadah kopra curian tersebut juga telah diamankan.
Kapolres Kotamobagu, AKBP Irwanto SIK MH, menyampaikan apresiasi kepada tim Resmob atas kerja cepat dan responsif terhadap laporan warga.
“Kami berkomitmen menindak tegas setiap kasus yang meresahkan masyarakat, termasuk pencurian komoditas. Terima kasih kepada tim yang telah bekerja keras mengungkap kasus ini,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar lebih waspada dan tidak ragu melapor jika menemukan aktivitas mencurigakan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan bisa terjadi di sekitar kita, bahkan melibatkan orang-orang yang dikenal atau bekerja di lingkungan sehari-hari.
Kasus Penikaman di Depan Kios Petot Terungkap, Pelaku Diamankan Tim Resmob Polres Kotamobagu
Kotamobagu, ZONABMR.COM — Kasus penganiayaan menggunakan senjata tajam yang sempat viral di depan kios Petot, Kelurahan Kotamobagu, akhirnya berhasil diungkap Tim Resmob Polres Kotamobagu.
Pelaku berinisial WL alias Wandi (27), warga Desa Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow, ditangkap pada Sabtu, 28 Juni 2025, di Jalan Agoan, Kelurahan Kotamobagu.
Dalam penangkapan tersebut, polisi turut mengamankan barang bukti berupa sebilah pisau yang digunakan pelaku untuk menikam korban.
Penganiayaan tersebut dilaporkan oleh korban berinisial AU alias Agus (35), warga Desa Lobong, melalui laporan polisi nomor: LP/B/274/VI/2025/SPKT/Res KTG/Polda Sulut.
Kejadian bermula pada Minggu (1/6/2025), saat korban turun dari mobil pickup-nya untuk membeli rokok di depan Toko Tita, yang berada tepat di seberang kios Petot.
Tanpa diduga, tersangka mendekati korban dan langsung menikam bagian paha korban saat korban masih berada di dalam mobil.
Akibatnya, korban mengalami luka serius dan mengeluarkan banyak darah.
Diketahui, aksi penikaman tersebut didasari kesalahpahaman antara korban dan pelaku yang sebelumnya sempat terlibat adu mulut dalam kondisi terpengaruh minuman keras di sekitar lokasi kejadian.
Aksi penikaman itu juga terekam kamera CCTV yang berada di sekitar area.
Kapolres Kotamobagu AKBP Irwanto SIK, MH menyampaikan apresiasi atas kinerja Tim Resmob dalam pengungkapan kasus ini.
“Tersangka kini telah diamankan bersama barang bukti untuk proses hukum lebih lanjut. Polres Kotamobagu akan menindak tegas setiap tindak pidana penganiayaan menggunakan senjata tajam di wilayah hukumnya demi memberikan rasa aman kepada masyarakat,” tegas Kapolres.
Kotamobagu, ZONABMR.COM — Menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-79 yang diperingati pada 1 Juli 2025, semangat pengabdian Polri tercermin kuat dalam tema nasional tahun ini: “Polri untuk Masyarakat.”
Di Kotamobagu, semangat ini hidup dalam sosok AKBP Irwanto SIK MH—Kapolres yang tak hanya menjalankan tugas sebagai penegak hukum, tetapi juga menjadi figur inspiratif dan inovatif di tengah kehidupan warga.
Sejak dipercaya memimpin Polres Kotamobagu, AKBP Irwanto terus melahirkan berbagai terobosan yang berpihak pada kepentingan masyarakat. Ia tidak hanya hadir sebagai pemimpin institusi, melainkan sebagai penggerak perubahan sosial yang nyata.
Inovasi yang Menyentuh Warga
Beragam inovasi dihadirkan dengan pendekatan yang langsung menyentuh kebutuhan publik.
Salah satu yang menonjol adalah pelayanan pengaduan berbasis digital—sebuah upaya modernisasi sistem pelaporan yang memberi ruang mudah dan cepat bagi masyarakat dalam menyampaikan aduan kamtibmas.
Selain itu, melalui Program MOTABI (Motivasi, Tatar, Bina), AKBP Irwanto memperkuat edukasi dan pencegahan sejak dini di berbagai lingkungan seperti sekolah, pasar, terminal, dan rumah ibadah.
Program ini tidak hanya menjadi ajang penyuluhan, tetapi juga sarana membangun kedekatan emosional antara Polri dan masyarakat.
Pendekatan Humanis dan Berpihak pada Rakyat Kecil
Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, pendekatan humanis menjadi warna utama dalam kepemimpinan AKBP Irwanto.
AKBP Irwanto, Kapolres Kotamobagu yang Dikenal Dekat dengan Masyarakat
Ia aktif menjalin komunikasi dengan kelompok rentan, komunitas pelaku usaha kecil, hingga generasi muda.
Tak jarang, ia turun langsung menyapa warga, mendengar keluhan mereka, dan mencari solusi bersama.
Keberpihakan terhadap korban premanisme, serta penguatan sinergi lintas sektor—baik dengan tokoh agama, adat, maupun lembaga pendidikan—mengukuhkan posisinya sebagai Bhayangkara yang tidak sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi juga pemimpin yang merangkul.
“Itoi” Masyarakat Adat
Salah satu bentuk penghargaan tertinggi masyarakat terhadap kepemimpinan AKBP Irwanto datang dari tokoh adat.
Ketua Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mongondow (AMABOM), Drs. H. Z. A Jemmy Lantong SH, menyebut Kapolres sebagai figur sepuh, atau “Itoi”, dalam kultur masyarakat adat Kotamobagu.
“Pandangan kami terhadap beliau bukan saja sebagai Kapolres yang bertugas melindungi dan mengayomi masyarakat. Tapi lebih dari itu, beliau adalah sosok pemimpin dengan sebutan ‘Itoi’ masyarakat adat Kotamobagu,” ujar Jemmy Lantong.
Sahabat Rakyat, Penggerak Perubahan
Keteladanan AKBP Irwanto SIK MH dalam menjalankan tugas sebagai Bhayangkara sejati menjadi refleksi bagaimana Polri dapat hadir sebagai sahabat rakyat.
Di bawah kepemimpinannya, institusi kepolisian di Kotamobagu tidak hanya semakin profesional, tetapi juga semakin dipercaya dan dicintai masyarakat.
Dalam momentum Hari Bhayangkara ke-79 ini, kehadiran AKBP Irwanto menjadi bukti bahwa pengabdian tulus, dedikasi, dan inovasi adalah kunci dalam membangun peradaban yang aman, damai, dan berkeadilan.
Ia bukan sekadar Kapolres, tetapi pemimpin yang menanamkan makna Bhayangkara dalam tindakan sehari-hari: untuk masyarakat, oleh masyarakat, dan bersama masyarakat.
Satresnarkoba Polres Kotamobagu Gulung Sindikat Narkotika dan Psikotropika di Lolayan (Foto: Udi)
Kotamobagu, ZONABMR.COM — Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotamobagu kembali mencetak prestasi dalam pemberantasan narkotika.
Dalam operasi yang digelar pada Sabtu dini hari, 28 Juni 2025, tim berhasil menggulung lima tersangka dalam dua kasus berbeda di Jalan Trans AKD, Kecamatan Lolayan, sekitar pukul 00.00 WITA.
Dalam penangkapan tersebut, polisi mengamankan barang bukti berupa 30 gram sabu-sabu dan 118 butir obat keras golongan B berlabel “Triple X”.
Selain itu, dari pengembangan penyelidikan, turut diamankan dua tersangka lain dalam kasus kepemilikan psikotropika golongan II dengan total 110 butir pil terlarang.
Tersangka Residivis dan Lintas Provinsi
Kapolres Kotamobagu AKBP Irwanto, SIK, MH dalam konferensi pers menyampaikan bahwa salah satu tersangka utama kasus sabu, AS (23), warga Desa Sibalayan, Palu, merupakan residivis yang telah beraksi lintas tiga provinsi.
“Ini bukan kali pertama kami melakukan penangkapan. Ini sudah yang ketiga kalinya, dan tentu saja masih ada tersangka lain. Tersangka sabu bahkan mengakui seluruh perbuatannya,” ungkap Kapolres.
Strategi Pengintaian Tiga Hari
Kasat Narkoba Polres Bolmong IPTU O Kaek Agung Uliana menjelaskan, penangkapan bermula dari informasi masyarakat tentang adanya kendaraan yang diduga membawa sabu-sabu akan melintas di wilayah Kotamobagu.
Setelah dilakukan pengintaian intensif selama tiga hari tiga malam, tim akhirnya menyergap para pelaku saat hendak memasuki wilayah Polsek Lolayan.
“Strategi ini dilakukan karena dari pengalaman sebelumnya, pelaku kerap membuang barang bukti sebelum sampai ke kantor Polres. Tapi kali ini kami berhasil,” ungkapnya.
Operasi Undercover untuk Psikotropika
Sementara itu, untuk kasus psikotropika, polisi melakukan metode undercover buy karena peredaran obat-obatan jenis ini sangat mudah didapat namun sulit untuk dilacak pengedarnya.
Tersangka yang ditangkap dalam kasus ini adalah pria berusia 25 tahun, seorang buruh yang belum menikah.
“Kedua tersangka psikotropika telah mengakui perbuatannya. Barang-barang tersebut rencananya akan dibawa ke Kotamobagu, namun untuk sebarannya masih akan kami dalami,” jelas petugas.
Ancaman Hukuman Berat
Para tersangka kini menghadapi ancaman hukuman berat. Untuk kasus sabu, pelaku dapat dijerat dengan hukuman maksimal 50 tahun penjara dan denda hingga Rp10 miliar.
Barang bukti yang diamankan telah diuji di laboratorium dan dipastikan positif mengandung zat narkotika.
Kerjasama dengan Ekspedisi
Mengingat kemudahan transaksi narkotika melalui platform daring, Kapolres juga mengungkapkan rencana kerja sama dengan perusahaan jasa pengiriman guna memperketat pengawasan terhadap paket yang mencurigakan.
“Dari kemudahan pembelian online, kami akan menjalin MoU dengan perusahaan ekspedisi untuk melakukan pengontrolan pengiriman bersama para pengusaha jasa kurir,” tegas Kapolres.
Kasus itu saat ini telah masuk dalam tahap penyidikan lebih lanjut.
Polres Kotamobagu Hadirkan Harapan Baru Lewat Bantuan Air Bersih di Desa Otam
Kotamobagu, ZONABMR.COM — Warga Dusun III, Desa Otam, Kecamatan Passi Barat, akhirnya bisa bernapas lega.
Di momen peringatan Hari Bhayangkara ke-79, Polres Kotamobagu memberikan bantuan sarana air bersih yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di wilayah pegunungan ini, Sabtu 28 Juni 2025.
Kapolres Kotamobagu, AKBP Irwanto, hadir langsung meresmikan fasilitas tersebut. Didampingi jajaran pejabat utama Polres, Kepala Desa Otam, serta tokoh-tokoh masyarakat, peresmian itu berlangsung hangat dan penuh keakraban.
Menurut AKBP Irwanto, bantuan tersebut merupakan hasil dari pemetaan kebutuhan warga berdasarkan laporan Bhabinkamtibmas di lapangan.
“Dusun III ini sering mengalami kekeringan saat musim kemarau. Karena itu, kami memilih lokasi ini sebagai penerima bantuan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan itu selaras dengan semangat Hari Bhayangkara ke-79 yang mengusung tema “Polri untuk Masyarakat.”
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membuktikan bahwa Polri hadir bukan hanya dalam penegakan hukum, tapi juga dalam upaya memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Kehadiran fasilitas air bersih itu pun disambut penuh sukacita oleh warga.
Di desa yang berada di kawasan perbukitan tersebut, air bersih selama ini menjadi komoditas langka, terutama saat musim kemarau tiba.
“Alhamdulillah, sekarang kami tidak perlu jauh-jauh lagi menimba air. Terima kasih Polres Kotamobagu,” ucap salah satu warga dengan mata berbinar.