Beranda blog Halaman 47

Visi Tanpa Akar Hingga Menafikan Keberadaan Masyarakat Adat, Akan Tetap Nyamankah Mereka di Halaman Sejarah?

Visi Tanpa Akar Hingga Menafikan Keberadaan Masyarakat Adat, Akan Tetap Nyamankah Mereka di Halaman Sejarah?
Visi Tanpa Akar Hingga Menafikan Keberadaan Masyarakat Adat, Akan Tetap Nyamankah Mereka di Halaman Sejarah?

Penulis: Farshah Paputungan

ZONABMR.COM – Debat kedua calon Wali Kota Kotamobagu yang digelar oleh KPU pada 2 November 2024 berhasil memancing perhatian publik, namun tak luput dari kontroversi.

Dalam sesi debat, salah satu pasangan calon menyampaikan pernyataan yang menimbulkan kegelisahan.

Paslon tersebut menyatakan, “Persoalan hak ulayat sudah tidak ada lagi sejak tahun 1950, ketika Bolaang Mongondow bergabung dengan NKRI. Jika hak ulayat masih ada, maka tidak akan ada perusahaan seperti JRBM, BDL, maupun Conch. Hak ulayat adalah kewenangan masyarakat adat untuk mengelola pertanian dan sumber daya di lingkup mereka.”

Pernyataan ini diakhiri dengan klaim bahwa masyarakat adat sudah tidak ada lagi di Kotamobagu.

Pernyataan ini diberikan sebagai respons atas pertanyaan moderator terkait hak masyarakat adat yang sering kali berbenturan dengan kepentingan pembangunan, serta bagaimana para calon wali kota dan wakil wali kota menyikapi persoalan ini agar tidak ada pihak yang dirugikan.

Mendengar pernyataan tersebut, serasa ada yang mengganjal bercampur sedih dan gelisah dalam benak saya perihal eksistensi diri, yang merasa bahwa saya bagian dari masyarakat hukum adat bolaang mongondow karena berusaha hidup dengan nilai-nilai adat-nya.

Hal ini pun memunculkan pertanyaan, apakah kami benar-benar hilang?

Ternyata pengalaman dan perasaan seperti itulah yang sering dirasakan oleh beberapa masyarakat adat yang sering berbenturan dengan pemerintah terkait pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak mereka sebagai masyarakat hukum adat.

Oleh karena itu, saya merasa perlu menuliskan sebuah catatan kecil untuk calon penguasa, dengan harapan menambah wawasan mereka tentang kami-kami yang hidup dan mati dengan adat.

Sedikit Wawasan Baru Bagi Calon Penguasa Yang Menganggap Kami Telah Hilang

Pandangan tanpa dasar yang mengatakan masyarakat hukum adat Bolaang Mongondow sudah tidak ada lagi ketika kerajaan bolaang mongondow bergabung dengan NKRI, mencerminkan sikap yang mengabaikan pengakuan negara terhadap masyarakat adat yang secara tegas dijamin dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945, yang menyatakan bahwa negara mengakui dan menghormati masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya.

Kehilangan pengakuan ini sama saja dengan menghilangkan bagian penting dari warisan budaya yang selama ini menjadi identitas masyarakat lokal.

Hal ini dapat dianggap sebagai bentuk penolakan dan pengabaian terhadap identitas masyarakat adat Bolaang Mongondow.

Masyarakat adat di Indonesia, di dalamnya termasuk masyarakat Bolaang Mongondow, telah lama eksis dengan sejarah, budaya, dan sistem hukum yang kuat, jauh sebelum terbentuknya NKRI.

Mereka merupakan pewaris kebudayaan dengan ikatan yang mendalam terhadap wilayah geografis dan lingkungan hidup, sebagaimana diakui dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 1 ayat (31), yang mendefinisikan masyarakat hukum adat sebagai kelompok masyarakat yang bermukim turun-temurun di wilayah tertentu, dengan ikatan asal-usul leluhur dan sistem nilai yang menentukan pranata sosial, politik, dan ekonomi mereka.

Mengutip tulisan seorang peneliti asal Belanda, J.C. Kielstra dalam artikelnya yang berjudul De Bewoners Van Noord Celebes dalam buku De Volken Van Nederlandche Indie, bahwa “fakta bahwa Kesultanan Bolaang Mongondow merupakan kekaisaran paling kuat di Sulawesi Utara.”

Sebuah bukti sejarah bahwa masyarakat adat di Kotamobagu dan sekitarnya merupakan pewaris kebudayaan yang berakar kuat.

Maka, pernyataan yang menyebut masyarakat adat sudah tidak ada, sama dengan menghapus eksistensi kebudayaan yang hingga kini masih dipegang teguh.

Pengakuan terhadap masyarakat adat adalah bentuk penghormatan terhadap identitas budaya, bahasa, dan tradisi yang membentuk karakter unik setiap kelompok adat.

Sebagai calon penguasa, seharusnya memahami kondisi daerah kekuasaannya.

Penting bagi para kandidat kepala daerah untuk memiliki pemahaman yang lebih dalam dan menghargai keberadaan masyarakat adat, khususnya masyarakat Bolaang Mongondow.

Penghargaan ini bukan hanya mencerminkan komitmen pada keragaman budaya, tetapi juga pada keutuhan bangsa.

Sekedar Wawasan Kecil Bagi Penguasa Tentang Hak Ulayat

Argumentasi yang mengatakan bahwa persoalan hak ulayat sudah tidak ada sejak bergabungnya bolaang mongondow kedalam NKRI tak berdasar dan spekulatif, terkesan tidak seharusnya dikatakan oleh seorang calon pemimpin.

Padahal negara menjamin lewat peraturan perundang-undangan tentang adanya tanah adat/ulayat itu sendiri.

UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) Pasal 3 dikatakan bahwa Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi. 

Pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 32 Tahun 2015 Pasal 1 ayat (10) menjebarkan secara rinci tentang jaminan hak ulayat bagi masyarakat hukum adat dengan bunyi pasal yakni, Hak Ulayat dan yang serupa itu dari masyarakat hukum adat, yang selanjutnya disebut hak ulayat, adalah hak milik bersama masyarakat hukum adat yang diakui oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dari dua landasan peraturan tersebut kita bisa melihat bahwa argumentasi yang disampaikan oleh Nayodo Koerniawan sebagai calon wali kota Kotamobagu bertentangan dengan apa yang diatur di negara kesatuan republik Indonesia.

Pernyataan calon Wali Kota Kotamobagu, Nayodo Koerniawan, yang menyebut bahwa hak ulayat sudah tidak ada sejak bergabungnya Bolaang Mongondow dengan NKRI, terlihat sangat spekulatif dan tak berdasar.

Entah darimana pandangan ini berasal, Pandangan ini terkesan mengabaikan aturan hukum yang menjamin keberadaan hak ulayat.

Seharusnya, seorang calon pemimpin lebih memahami peraturan perundang-undangan yang mengakui dan melindungi tanah adat di Indonesia khususnya Kota Kotamobagu.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) Pasal 3 dengan jelas menyatakan bahwa hak ulayat dan hak-hak serupa dari masyarakat hukum adat tetap diakui sepanjang masih ada dan harus disesuaikan dengan kepentingan nasional, tanpa bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi. 

Demikian pula, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 32 Tahun 2015 Pasal 1 ayat (10) menjelaskan bahwa hak ulayat adalah hak milik bersama masyarakat hukum adat yang diakui oleh pemerintah pusat atau daerah sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Dari dua landasan hukum tersebut, terlihat jelas bahwa argumen Nayodo Koerniawan sebagai calon pemimpin bertentangan dengan ketentuan yang ada dalam NKRI.

Masyarakat adat Bolaang Mongondow memiliki hak yang diakui oleh negara, dan mengesampingkan hak tersebut sama saja dengan mengabaikan komitmen konstitusi untuk melindungi masyarakat hukum adat.

Pandangan yang kurang tepat ini menimbulkan keprihatinan bagi saya terhadap kualitas beliau.

Di sisi yang lain perlu kita ketahui Bersama bahwa masyarakat hukum adat di Bolaang Mongondow Raya terus berupaya dalam pelestarian budaya dan berusaha adanya pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat hukum adat Bolaang Mongondow Raya.

Salah satu contoh kecil dari banyaknya peran masyarakat hukum adat Bolaang Mongondow raya adalah dengan penetapan lokasi berdirinya Makam Bogani Tudu In Passi sebagai tanah adat dan situs sejarah kebudayaan Bolaang Mongondow.

Hal ini tentu berdampak langsung pada upaya untuk melestarikan budaya masyarakat adat Bolaang Mongondow khususnya masyarakat adat Passi.

Di lain sisi pun pada tahun 2023, aliansi masyarakat adat bolaang mongondow (AMABOM) melaksanakan Bakid Moloben (Musyawarah Besar) yang menghasilkan beragam rekomendasi yang berorientasi pada terpenuhinya hak masyarakat adat Bolaang Mongondow.

Diantaranya adalah mendesak kepada Pemerintah Kabupaten dan DPRD se-Bolaang Mongondow Raya (BMR) membuat PERDA tentang Lembaga dan Masyarakat Adat dan Mendesak kepada seluruh Pemerintah Kab/Kota se-BMR segera melaksanakan Permendagri No. 52/2014 tentang Tata Cara Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat.

Harapan dengan terbitnya tulisan ini mulai memantik penulis dan pembaca untuk lebih memperhatikan lagi tentang pentingnya pelestarian budaya dan sebagai tujuan khusus untuk menyadarkan para calon penguasa di bolaang mongondow raya tentang keberadaan masyarakat hukum adat Bolaang Mongondow.

Tulisan kali ini hadir sebagai niat baik untuk menambah wawasan calon penguasa supaya lebih berdasar dalam berkata.

 

*Penulis adalah anak muda asal Kota Kotamobagu yang saat ini berstatus mahasiswa semester 7 di Universitas Negeri Gorontalo

Petani Kopandakan I: Pe Bagus dokter Weny Gaib Masih Suka Datang di Kobong

Awali Kampanye Dialogis di Perkebunan Kakao, Petani Kopandakan I: Pe Bagus dokter Weny Gaib Masih Suka Datang di Kobong
Weny Gaib Awali Kampanye Dialogis di Perkebunan Kakao, Petani Kopandakan I

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Mengawali kampanye dialogis dengan menjumpai para petani kakao di desa Kopandakan I, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kamis, 26 September 2024 sore, dokter Weny Gaib buat para petani terkesan.

Pe Bagus dokter Weny dari masih suka datang di kobong,” ucap Amat Mokolintan petani kakao warga desa Kopandakan I saat diwawancarai media ini.

Amat Mokolintan juga mengaku terkesan dengan program yang ditawarkan pasangan the Winner (Weny Gaib – Rendy V. Mangkat), yang mengakomodir kebutuhan petani.

“Program yang ditawarkan the Winner membuktikan adanya perhatian ke kami para petani,” kata Amat Mokolintan.

Program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sentra Tani yang digagas Paslon nomor urut 2 tersebut, disambut gembira Jepri Kobandaha pemilik lahan kakao yang menjadi tempat pertemuan sore itu.

Jepri Kobandaha meyakini adanya BUMDes dapat membantu petani menghadapi fluktuasi harga komoditas pertanian, yang sering kali membuat petani mengalami kerugian.

“Dengan adanya program ini, akan benar-benar mempermudah kami jika harga anjlok,” imbuh Jepri Kobandaha.

Awali Kampanye Dialogis di Perkebunan Kakao, Petani Kopandakan I: Pe Bagus dokter Weny Gaib Masih Suka Datang di Kobong
Weny Gaib bersama Petani Kakao Desa Kopandakan I

Dengan program-program yang berkualitas, Efendi Dako petani warga Kopandakan I menegaskan siap mendukung untuk memenangkan the Winner di Pilwako nanti.

“Kami siap mendukung dan memenangkan dokter Weny dan pak Rendy,” tegas Efendi Dako yang diiyakan rekan-rekannya.

Sementara, saat berdialog dengan para petani, Weny Gaib menegaskan ia dan Rendy V. Mangkat akan memperhatikan kepentingan para petani.

Dijelaskan Weny Gaib, the Winner juga berkomitmen untuk memberikan pendampingan yang lebih intensif kepada petani, yang selama ini dinilai tidak berjalan optimal.

“Pendampingan itu bukan sekadar teori di atas kertas. Kami akan memastikan pemerintah hadir di tengah-tengah petani, memberikan solusi yang langsung terasa manfaatnya,” kata Weny Gaib. (*)

Ratusan Milenial Siap Menangkan The Winner di Pilwako 2024

Ratusan Milenial Siap Menangkan The Winner di Pilwako 2024
Ratusan Milenial Siap Menangkan The Winner di Pilwako 2024

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Ratusan milenial siap mendukung Paslon Weny Gaib – Rendi V. Mangkat atau the Winner di kontestasi Pilwako Kotamobagu 2024.

Hal itu terlihat saat Weny Gaib menghadiri Pelantikan Milenial bertempat di Kelurahan Pobundayan, Jumat (6/9/2024).

Ketua Milenial Kelurahan Pobundayan Desi Mamonto dalam sambutan singkatnya  memberikan permintaan untuk dibuatkan sekretariat pemenangan WG-RVM.

“Wadah ini akan kami gunakan sebagai sarana anak-anak milenial yang ada di Kelurahan Pobundayan,” ucap Desi.

Desi menambahkan kegiatan itu diinisiasi langsung oleh seluruh kamu milenial yang ada di Kelurahan Pobundayan.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kecintaan dan kebangaan serta apresiasi kami kepada dr. Weny Gaib yang sudah memberikan ruang kepada salah satu perwakikan kami kaum milenial untuk berkesempatan memimpin sebagai wakil walikota kotamobagu,” kata Desi.

Di tempat yang sama, Weny Gaib Mengatakan bahwa keberadaan kaum milenial jangan dianggap remeh.

“Karena mereka mempunyai daya serap informasi dengan cepat. Kenapa saya mengambil wakil dari kalangan milenial karena saya yakin mereka mampu memberikan warna kepemimpinan tersendiri dengan baik, saya percaya bahwa kaum milenial mampu menjadi pemimpin yang andal di masa yang akan datang,” ujar Weny.

Ditegaskan Weny, dirinya hadir dengan niat bukan untuk menjadi penguasa melainkan seorang sebagai seorang pemimpin.

“Saya seorang dokter yang selalu mengutamakan kebersamaan tanpa memandang derajat, itu merupakan bentuk komitmen yang akan saya lakukan apabila diberi amanah untuk memimpin kotamobagu kedepan,” tegas Weny.

Salah satu program yang ditawarkan kepada masyarakat, imbuh Weny, ditinjau dari sudut pandang Kotamobagu sebagai kota jasa adalah mengutamakan pendidikan dan UMKM.

Diketahui, yang hadir dalam kegiatan pelantikan tersebut tak hanya dari kalangan milenial saja tetapi juga masyarakat setempat yang mengaku karena kecintaan mereka kepada Paslon the Winner untuk membawa harapan baru untuk Kotamobagu. (*)

Weny Tegaskan Komitmen Perlakukan Masyarakat Setara

Weny Tegaskan Komitmen Perlakukan Masyarakat Setara
Weny Gaib bersama Jemaat GMIBM Kolom 22 Kotamobagu

 

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Weny Gaib tegaskan komitmen untuk memperlakukan seluruh kalangan masyarakat Kotamobagu setara tanpa memandang perbedaan, jika kelak dipercaya memimpin kota tersebut.

Hal itu ditegaskan Weny saat menghadiri pengucapan syukur Jemaat GMIBM kolom 22 Kotamobagu.

“Agar tetap memberikan hak-hak yang sama seperti halnya kami, tanpa memandang perbedaan.semua tetap akan diperlakukan sama baik itu SDM ataupun pembangunannya,” tegas Weny.

Dalam penyampaiannya, Weny juga mengungkapkan rasa syukur dan harapannya agar kebersamaan dan persatuan jemaat serta masyarakat terus terjaga, sehingga dapat bersama-sama membangun masa depan Kotamobagu yang lebih baik.

“Saya berharap kita semua agar tetap menjaga persaudaraan dan keutuhan umat beragama yang ada di kotamobagu,” harap Weny.

Kehadirannya dalam kegiatan itu, menurut Wenny, merupakan wujud dukungan dan kebersamaannya dengan masyarakat setempat.

Kepada para Jemaat GMIBM Kolom 22 Weny menyampaikan, bahwa dirinya sudah dua kali berkunjung ke kantor pusat GMIBM hanya untuk bersilaturahmi dengan Ketua Sinode bersama Pak Yulius Stevanus Komaling yang juga Calon Gubernur Sulut.

Teddy, salah satu Jemaat GMIBM kolom 22 Kotamobagu mengungkapkan rasa hormat dan bangga serta menyambut hangat kehadiran salah satu calon Wali Kota itu.

“Saya rasa ini salah satu pemimpin yang bisa memberikan kedamaian bagi seluruh Umat Beragama yang ada di Kotamobagu,” kata Teddy. (*)

The Winner: Jadikan Kotamobagu Daerah dengan Toleransi Terbaik di Indonesia

The Winner: Jadikan Kotamobagu Daerah dengan Toleransi Terbaik di Indonesia
The Winner: Jadikan Kotamobagu Daerah dengan Toleransi Terbaik di Indonesia

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Paslon Wali Kota – Wakil Wali Kota Kotamobagu the Winner (Weny Gaib – Rendy V. Mangkat), berjanji akan menjadikan Kotamobagu salah satu daerah dengan toleransi terbaik di Indonesia.

Hal itu berulang kali ditegaskan keduanya setiap kali berdiskusi, berbicara maupun dalam orasi politik di berbagai kesempatan.

“Kami akan jadikan Kotamobagu salah satu daerah dengan toleransi terbaik di Indonesia,” janji Weny Gaib.

Menurut calon Wali Kota dari Paslon dengan nomor urut 2 itu, the Winner tidak akan pernah membeda-bedakan setiap warga Kotamobagu.

“Sebagaimana kami memperlakukan pasien kami, seperti itulah kami akan memperlakukan masyarakat Kotamobagu. Tidak memandang SARA, semua sama berhak mendapat perlakuan yang adil,” tegas Weny Gaib.

Bahkan Weny Gaib juga menyebut bahwa di bawah the Winner kelak jika terpilih nanti, tak ada lagi topik terkait klan Passi-Lolayan.

“Tidak ada lagi cerita Passi-Lolayan, itu hanya menghambat kemajuan. Semua sama, sudah saatnya kita bersatu, berjuang bersama memajukan kota kita tercinta,” kata Weny Gaib.

Sementara, calon Wakil Wali Kota Kotamobagu, Rendy V. Mangkat juga berulangkali menyatakan hal serupa.

“Istri saya berasal dari Minahasa, tepatnya di Amurang. Jadi saya kira, kita bisa dibilang Matuari Waya (semua bersaudara) kan?!” ucap Rendy setiap kali berbicara di hadapan warga Kotamobagu beretnis Minahasa.

The Winner: Jadikan Kotamobagu Daerah dengan Toleransi Terbaik di Indonesia
Weny Gaib dan Rendy V. Mangkat saat bersama masyarakat Genggulang

Pernyataan sikap Paslon the Winner tersebut, mendapat sambutan baik dari seluruh kalangan masyarakat.

Terbukti dengan dukungan masyarakat dari berbagai etnis pun kepercayaan agama yang berbeda terus mengalir untuk keduanya.

Teranyar, dukungan datang dari warga Sampana lingkungan IV dan dari kerukunan keluarga Karundeng-Kaligis.

“Masyarakat Kotamobagu memang multi-etnis, sehingga butuh pemimpin yang inklusif dan mampu merangkul semuanya tanpa membedakan. Dan itu ada pada dokter Weny Gaib dan Rendy Mangkat,” ucap Toliu Sambuaga, warga Sampana. (*)

The Winner Kuasai Debat Kedua, Tegaskan Keterlibatan Milenial dan Gen Z untuk Pengembangan Pertanian

The Winner Kuasai Debat Kedua, Tegaskan Keterlibatan Milenial dan Gen Z untuk Pengembangan Pertanian
The Winner Kuasai Debat Kedua, Tegaskan Keterlibatan Milenial dan Gen Z untuk Pengembangan Pertanian

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Pasangan calon Wali Kota dan wakil Wali Kota the Winner (Weny Gaib – Rendy V. Mangkat), tampil percaya diri dalam debat kedua yang diadakan di Hotel Sutan Raja, Sabtu 2 November 2024.

Dalam debat tersebut, the Winner kembali menegaskan komitmen untuk melibatkan kaum milenial dan Gen Z dalam pengembangan sektor pertanian sebagai salah satu program unggulan mereka.

Debat yang mengusung tema Peningkatan Pelayanan Masyarakat Penyelesaian Persoalan Daerah itu menyentuh berbagai isu.

Mulai dari kesejahteraan masyarakat ,hingga pemberdayaan ekonomi berbasis lokal.

Di hadapan para pendukung dan audiens, pasangan the Winner menyampaikan visi mereka untuk membangkitkan sektor pertanian dengan cara yang lebih modern dan relevan bagi generasi muda.

“Generasi milenial dan Gen Z adalah masa depan Kotamobagu. Kami percaya bahwa melalui pelibatan mereka di sektor pertanian, kita bisa menciptakan peluang kerja baru, meningkatkan produktivitas, dan yang terpenting, memastikan ketahanan pangan yang lebih baik di masa depan,” tegas Weny Gaib.

Dalam debat tersebut, pasangan nomor urut 2 itu memaparkan program pertanian berbasis teknologi yang diadaptasi agar sesuai dengan minat dan keterampilan generasi muda.

Seperti penggunaan teknologi digital untuk pemantauan lahan, sistem pertanian berkelanjutan, dan pemasaran produk melalui platform e-commerce.

The Winner juga menekankan pentingnya pelatihan dan dukungan modal untuk wirausaha muda yang tertarik membangun bisnis di sektor pertanian.

Menurut Paslon tersebut, langkah itu akan mendorong tumbuhnya ‘pertanian milenial,’ sebuah konsep yang menggabungkan inovasi dan praktik pertanian ramah lingkungan.

Dengan penguasaan mereka dalam debat kedua itu, pasangan the Winner tampak semakin menarik perhatian masyarakat.

Terutama dari kalangan muda yang mendambakan perubahan dan peningkatan ekonomi lokal melalui pendekatan-pendekatan yang segar dan berbasis teknologi.

Terkait Pagar RSUD Kotamobagu, The Winner Janji Carikan Solusi Terbaik

Terkait Pagar RSUD Kotamobagu, The Winner Janji Carikan Solusi Terbaik
Terkait Pagar RSUD Kotamobagu, The Winner Janji Carikan Solusi Terbaik

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Terkait permasalahan pagar RSUD Kotamobagu, Calon Walikota dan Wakil Walikota Kota the Winner (Weny Gaib – Rendy V. Mangkat) berjanji akan Carikan solusi terbaik.

Hal itu sebagaimana disampaikan Paslon the Winner saat berdialog dengan sejumlah warga Kelurahan Pobundayan, Kecamatan Kotamobagu Selatan yang terdampak masalah pagar RSUD Kotamobagu, Jumat 1 November 2024.

Kehadiran Paslon Nomor Urut 2 itu mendapat sambutan baik dari warga sekitar.

Khususnya warga yang terdampak masalah pagar RSUD Kotamobagu yang sekaligus menceritakan kronologis kejadian pemagaran dua tahun lalu.

Salah satu warga Ismail Damopolii, berharap agar bisa mendapatkan solusi.

Karena pasca dua tahun pagar tersebut berdiri, keberadaannya sangat menganggu aktivitas masyarakat.

Bahkan menurut Ismail, sejumlah usaha warga terpaksa gulung tikar karena mengalami kerugian yang diakibatkan oleh pagar tersebut.

“Kami dizolimi dalam hal ini, sehingga kami sangat membutuhkan solusi seperti apa jika nanti dokter Weny dan Rendy terpilih menjadi pemimpin di Kota Kotamobagu,” pinta Ismail.

Menanggapi hal tersebut, Weny Gaib dan Rendy V. Mangkat mengungkapkan keprihatinannya atas kejadian yang menimpa warga.

“Insya Allah, kami akan berusaha mencari solusi seperti apa, dan ini akan menjadi perhatian serius bagi kami,” ujar Weny Gaib.

Meski begitu, Weny tetap meminta warga untuk tidak merusak pagar yang berdiri sejak tahun 2022 karena statusnya fasilitas milik negara.

“Kita akan cari solusinya seperti apa, tapi jangan dirusak karena pagar ini dibangun mengunakan uang rakyat,” ucap Weny Gaib.

Lebih lanjut dikatakan Weny, permasalahan itu akan jadi prioritas untuk diselesaikan jika ia dan Rendy V. Mangkat terpilih menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kotamobagu.

“Ini masukan bagus sekali dan akan kita jadikan prioritas ke depan, karena ini menyangkut kenyamanan untuk masyarakat Kota Kotamobagu,” kata Weny Gaib.

Target Sapu Rata, Kelurahan Upai Siap Menangkan The Winner

Target Sapu Rata, Kelurahan Upai Siap Menangkan The Winner
Target Sapu Rata, Kelurahan Upai Siap Menangkan The Winner

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Target sapu rata, masyarakat Kelurahan Upai siap menangkan paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota  Kotamobagu the Winner (Weny Gaib – Rendy V. Mangkat).

Target sapu rata di Kelurahan Upai itu, sebagaimana disampaikan tokoh masyarakat, Mujono Mokoginta saat berorasi dalam kampanye dialogis the Winner, Rabu 30 Oktober 2024 di wilayah tersebut.

“Upai ini kampungnya dokter Weny, kami yakin the Winner akan menang di sini. Sapu rata!” yakin Mujono disambut gemuruh mengiyakan masyarakat yang memenuhi lokasi kampanye.

Lebih lanjut, dikatakan Mujono, the Winner merupakan pasangan ideal untuk memimpin Kota Kotamobagu.

“Ini dua tokoh muda yang sudah sangat berpengalaman. Kapasitas dua tokoh ini sudah tidak perlu diragukan dalam membangun Kotamobagu untuk lebih baik dan lebih maju,” ujar Mujono yang juga merupakan mantan Lurah Upai.

Mujono juga berharap dunia pendidikan dan kesehatan akan mengalami kemajuan bila the Winner terpilih nanti.

“Mudah-mudahan di bawah kepemimpinan The Winner nanti akan ada Universitas Negeri di Kotamobagu. Dan, rumah sakit yang ada saat ini dapat menjadi rumah sakit rujukan se-Bolmong Raya,” pinta Mujono.

Di tempat yang sama, calon Wali kota Weny Gaib dalam orasinya sangat mengapresiasi kehadiran ribuan pendukungnya tersebut.

“Malam ini saya di tanah kelahiran saya. Saya sangat bangga,” ungkap Weny Gaib.

The Winner, lanjut Weny Gaib, berkomitmen untuk memajukan dunia pendidikan di Kotamobagu, termasuk meningkatkan kapasitas perguruan tinggi yang ada.

“Kita akan membangun semua perguruan tinggi di Kotamobagu. Biar anak-anak kita sudah tidak harus belajar di luar,” ujar Weny Gaib.

Selain itu, Weny Gaib meyakinkan bahwa dirinya dan Rendy V. Mangkat juga akan menjadikan Rumah Sakit Kotamobagu sebagai rumah sakit rujukan dengan melakukan peningkatan di semua sisi, baik dari sisi SDM maupun fasilitas.

Bahkan, akan dibangun fasilitas rumah sakit untuk penyakit jantung serta fasilitas untuk bayi dan lansia.

“Saya ingin membangun fasilitas rumah sakit yang ramah anak dan lansia. Lansia harus diperlakukan dengan sangat hormat dan baik. Sedangkan, anak-anak rentan terhadap semua penyakit sehingga perlu dibangun fasilitas tersendiri agar supaya menjaga anak-anak dari hal yang tidak diinginkan,” janji Weny Gaib.

Fokus Kurangi Pengangguran, The Winner Akan Maksimalkan BLK sebagai Pusat Pelatihan

Fokus Kurangi Pengangguran, The Winner Akan Maksimalkan BLK sebagai Pusat Pelatihan
Fokus Kurangi Pengangguran, The Winner Akan Maksimalkan BLK sebagai Pusat Pelatihan

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Fokus untuk mengurangi pengangguran di Kotamobagu,  Paslon the Winner (Weny Gaib – Rendy V. Mangkat) akan memaksimalkan fungsi Balai Latihan Kerja (BLK) untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, terutama bagi generasi milenial dan Gen Z.

“Kami berkomitmen untuk mempersiapkan tenaga kerja yang berkualitas dan siap bersaing melalui pelatihan yang berfokus pada keahlian dan sertifikasi profesi, Sehingga pengangguran akan berkurang,” ujar calon Wakil Wali Kota the Winner, Rendy V. Mangkat.

Diungkapkan Rendy V. Mangkat, the Winner berencana untuk membangun kolaborasi antara pendidikan dan industri.

“Agar kurikulum pelatihan lebih relevan dengan kebutuhan lapangan kerja,” ungkap Rendy V. Mangkat.

Hal itu, dijelaskan Rendy V. Mangkat, bertujuan agar lulusan BLK memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan pasar tenaga kerja saat ini.

Lebih lanjut, dikatakan Rendy V. Mangkat, dalam sektor UMKM, the Winner menargetkan UMKM Kotamobagu agar dapat naik kelas dengan memperluas jangkauan pasar.

“Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan dalam bentuk pelatihan dan akses pasar yang lebih luas, serta mempermudah proses sertifikasi produk UMKM agar bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” kata Rendy V. Mangkat.

The Winner Tawarkan Program Edukasi dan Pusat Layanan Terpadu Untuk Perempuan dan Anak

The Winner Tawarkan Program Edukasi dan Pusat Layanan Terpadu Untuk Perempuan dan Anak
The Winner Tawarkan Program Edukasi dan Pusat Layanan Terpadu Untuk Perempuan dan Anak

Kotamobagu, ZONABMR.COM – Bagian dari program perlindungan perempuan dan anak, paslon Wali Kota – Wakil Wali Kota Kotamobagu the Winner (Weny Gaib – Rendy V. Mangkat) berkomitmen untuk membangun pusat layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan.

“Kami akan menyediakan tempat yang aman dan layanan pendukung bagi mereka yang membutuhkan,” ucap Calon Wali Kota the Winner, Weny Gaib.

The Winner, diungkapkan Weny Gaib, jika terpilih memimpin Kotamobagu, mereka berencana untuk meluncurkan program edukasi terkait gender dan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah.

“Program ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang pentingnya kesetaraan gender dan kesehatan reproduksi yang baik,” ungkap Weny Gaib.

Selain itu, dikatakan Weny Gaib, kampanye anti-kekerasan terhadap anak dan perempuan juga menjadi salah satu program unggulan mereka.

“ini untuk menggencarkan edukasi publik guna mencegah kekerasan domestik dan melindungi kelompok rentan dari segala bentuk kekerasan,” kata Weny Gaib.