Komunitas TBS bersama Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib memberikan apresiasi tinggi kepada Komunitas Torang Baku Sayang (TBS) atas dedikasi dan konsistensinya dalam menjalankan kegiatan sosial sejak resmi terbentuk pada 4 Januari 2025.
Dalam kegiatan Halalbihalal yang digelar di TCW Bintang, Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat pada Senin 21 April 2025, Weny Gaib menyampaikan kekagumannya terhadap aksi nyata komunitas yang dipenuhi anak-anak muda tersebut.
“Pertanyaannya, apakah kita sudah berbagi? Apakah kita mampu melakukan hal seikhlas ini, mampu berbagi seperti ini?” ucap Weny Gaib dalam sambutannya.
Weny Gaib menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki keikhlasan untuk berbagi, dan apa yang dilakukan oleh Komunitas TBS patut dijadikan teladan.
Menurut Weny Gaib, jika seluruh anak muda di Kotamobagu terinspirasi melakukan aksi sosial seperti yang dilakukan komunitas tersebut, maka beban pemerintah akan jauh lebih ringan.
“Pemerintah tidak mampu melakukan semua ini karena keterbatasan anggaran. Pemerintah tidak punya dana yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat,” tambah Weny Gaib.
Dokter spesialis mata itu juga melihat potensi besar kolaborasi antara komunitas seperti TBS dengan pemerintah untuk memberi manfaat nyata dan membawa kemajuan bagi masyarakat.
Sementara, Ketua Komunitas TBS Michael Sholat Bibisa dalam sambutannya mengatakan komunitas TBS terbentuk secara alami.
“Saat kongkow-kongkow muncul ide untuk membantu sesama,” ujar Iqel sapaan akrabnya.
Awalnya, ungkap Iqel, mereka hanya sekadar berkumpul untuk melepas penat dan mempererat persahabatan. Namun, dari kebersamaan itu tumbuh kepedulian yang nyata terhadap lingkungan sekitar.
“Alhamdulillah, komunitas ini tak hanya dikenal sebagai kumpulan sahabat, tetapi juga sebagai penggerak aksi sosial yang aktif. Dari kegiatan berbagi makanan hingga penggalangan dana untuk mereka yang membutuhkan, kami membuktikan bahwa persahabatan bisa menjadi kekuatan besar untuk perubahan positif,” tutup Iqel.
Dalam momen Halalbihalal tersebut, turut dibuka open donasi yang akan disalurkan kepada masyarakat miskin ekstrem di Kotamobagu.
Donasi itu menjadi bagian dari komitmen Komunitas Torang Baku Sayang dalam memperluas jangkauan kegiatan sosial mereka.
Komunitas TBS terus menunjukkan bahwa dengan semangat gotong royong dan kepedulian, perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil dan ketulusan hati.
Sejumlah Kepala OPD di lingkup Pemkot Kotamobagu, Wakil Ketua DPRD Kotamobagu Jusran Mokolanot, anggota DPRD Kotamobagu Jayadi Paputungan dan undangan, turut hadir dalam giat tersebut.
Sulut, ZONABMR.COM – Konferensi Wilayah (Konferwil) XIII Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Utara (Sulut) menetapkan Muliadi Paputungan sebagai Ketua PW GP Ansor Sulut periode 2025–2029 secara aklamasi.
Muliadi merupakan calon tunggal yang diusulkan oleh sembilan Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor se-Sulut.
Penetapan ini menandai estafet kepemimpinan dari Yusra Alhabsyi, yang selama masa jabatannya telah membawa banyak perubahan signifikan bagi GP Ansor Sulut.
Muliadi Paputungan menyatakan akan berusaha membawa GP Ansor Sulut lebih baik lagi ke depannya.
Dalam pemaparannya Muliadi mengatakan akan kembali mengaktifkan kembali Rijalul Ansor, memperluas kepengurusan hingga ke tingkat ranting, serta mendistribusikan kader-kader terbaik ke level pusat.
Muliadi pun menargetkan peningkatan representasi kader GP Ansor di berbagai lini pemerintahan.
“Kalau hari ini kita punya satu anggota DPRD provinsi, ke depan kita bisa sepuluh atau bahkan lebih. Kalau hari ini dua kepala daerah, ke depan bisa lima,” tambahnya optimistis.
Lebih dari itu, anggota DPRD Provinsi Sulut dari dapil Bolmong Raya itu juga mencetuskan program Badan Usaha Milik Ansor guna mengurangi ketergantungan pada proposal untuk setiap kegiatan organisasi dan meningkatkan ekonomi anggotanya.
“Di masa Yusra Alhabsyi, sudah ada bukti. Insya Allah, di masa kami nanti, kamilah yang akan menjadi bukti,” ujar Muliadi.
Diketahui, selain mendapat dukungan penuh dari para peserta Konferwil, Muliadi Paputungan juga mendapat diskresi khusus dari Pengurus Pusat.
Namun, tetap diwajibkan mengikuti Pendidikan Kader Nasional (PKN) sebagai syarat mutlak pengukuhan.
Momentum ini pun bertepatan dengan 19 Syawal 1446 H, menjadi catatan penting dalam perjalanan organisasi Islam terbesar di kalangan pemuda Sulawesi Utara tersebut.
GP Ansor Bolmong Tegaskan Dukung Kader Asli BMR di Konferwil GP Ansor Sulut 2025
Bolmong, ZONABMR.COM – Menjelang Konferensi Wilayah (Konferwil) XIII Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Utara tahun 2025, GP Ansor Bolaang Mongondow (Bolmong) mengambil sikap tegas soal arah dukungan politik organisasinya.
Dalam Rapat Kerja Cabang (Rakercab) yang digelar di lantai dua Cafe Korot, Kotamobagu, Kamis (17/04/2025), GP Ansor Bolmong menyuarakan harapan besar agar kepemimpinan GP Ansor Sulut berikutnya dipegang oleh figur dari tanah Bolaang Mongondow Raya (BMR).
Ketua GP Ansor Bolmong, Rudi Satria Mandala Bonuot, menyampaikan langsung sikap tersebut di hadapan jajaran pengurus Pimpinan Anak Cabang se-Bolmong.
“Sudah waktunya kader dari BMR diberi kepercayaan memimpin Ansor Sulut. Kami yakin, banyak kader di BMR yang punya kapasitas dan pengalaman untuk membawa organisasi ini lebih maju,” ujar Rudi.
Ia pun menegaskan, meski belum menyebutkan nama, pilihan GP Ansor Bolmong sudah jelas.
“Yang pasti, calon yang kami dukung nanti adalah putra asli BMR. Soal siapa, akan kami rekomendasikan secara resmi. Tapi sikap kami tidak berubah: harus dari BMR,” tegasnya.
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Anggota DPRD Kota Kotamobagu, Jayadi Paputungan, menyampaikan apresiasinya terhadap Komunitas Torang Baku Sayang (TBS).
Kiprah di berbagai aksi sosial yang dilakukan, membuat Jayadi melabeli bahwa TBS bukan sekadar komunitas tapi juga harapan bagi sesama.
Menurut Jayadi, yang akrab disapa Jaya, gerakan sosial seperti yang dilakukan TBS memberikan dampak langsung kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan.
“Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkuat solidaritas antaranggota komunitas, tetapi juga menunjukkan peran aktif mereka sebagai agen perubahan di tengah masyarakat,” ujar Jayadi Paputungan, Rabu 16 April 2025.
Politisi dari Partai Hanura itu menambahkan, di tengah situasi ekonomi yang sedang lesu dan daya beli masyarakat yang menurun, aksi nyata seperti ini sangat tepat sasaran.
“Kita sedang menghadapi kondisi ekonomi yang tidak mudah. Apa yang dilakukan Komunitas TBS sangat relevan dan berarti bagi mereka yang terdampak, terutama warga dari kalangan ekonomi lemah,” jelas anggota Komisi II DPRD itu.
Jayadi, yang juga dikenal sebagai salah satu anggota dewan termuda, berharap kegiatan serupa dapat memicu semangat berbagi dari komunitas lainnya.
“Inisiatif positif ini bisa menjadi contoh bagi kelompok atau komunitas lain. Apalagi di era digital seperti sekarang, kegiatan sosial bisa dengan cepat menyebar lewat media sosial dan menginspirasi lebih banyak orang,” ucap Jayadi.
Gorontalo, ZONABMR.COM – Duka menyelimuti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) setelah insiden tragis menimpa sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-NPKM) saat melaksanakan kegiatan pemetaan di Desa Dunggilata, Kecamatan Bulawa, Kabupaten Bone Bolango, Selasa 15 April 2025.
Para mahasiswa yang berjumlah 10 orang dari Jurusan Teknik Geologi itu terseret arus sungai saat melaksanakan kegiatan pemetaan geologi di wilayah pegunungan.
Dalam kejadian tersebut, dua mahasiswa dilaporkan meninggal dunia, sementara satu lainnya masih dalam pencarian.
Kepala Pusat KKN LPPM UNG, Rosbin Pakaya, menyampaikan informasi resmi lewat video yang beredar luas di media sosial terkait peristiwa itu dalam pernyataan terbuka yang ditujukan kepada warga UNG dan keluarga korban.
“Mahasiswa yang berjumlah sepuluh orang ini naik gunung pada pukul 10 pagi untuk melakukan kegiatan pemetaan. Setelah selesai, mereka turun sekitar pukul 3 atau 4 sore,” jelas Rosbin.
Namun nahas, saat dalam perjalanan turun, mereka dihantam oleh air bah yang datang secara tiba-tiba.
Akibatnya, kelompok tersebut terpencar. Sebagian sempat bertahan di atas batu, namun lainnya terseret arus deras.
Dua mahasiswa perempuan dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian.
Lima orang lainnya telah berhasil dievakuasi, meski mengalami luka-luka, dan satu orang lagi -juga seorang mahasiswi- masih dalam proses pencarian.
Salah satu korban selamat adalah Koordinator Desa (Kordes) kelompok tersebut, yang meskipun mengalami luka berat, berhasil diselamatkan dan kini tengah mendapat perawatan.
Tim gabungan dari UNG, Lembaga KKN, tenaga medis, dan pihak terkait kini tengah bekerja keras untuk mengevakuasi korban lainnya serta melakukan pencarian terhadap satu mahasiswi yang masih hilang.
Pihak kampus menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban serta berharap proses pencarian dan evakuasi dapat segera tuntas dengan lancar.
Suasana Audiensi di Ruang Kerja Wali Kota Kotamobagu
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat menerima kunjungan silaturahim dan audiensi dari Komisaris PT. Fabolous Argo Mandiri (FARM) sekaligus Direktur F Corp, Aditya Anugrah Moha (ADM) di ruang kerja Wali Kota, Selasa 15 April 2025.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai agenda strategis dibahas untuk mendukung pembangunan daerah, antara lain:
1. Penguatan Iklim Investasi: Mendorong terciptanya iklim investasi yang ramah dan berkelanjutan untuk menarik minat investor ke wilayah Kotamobagu.
2. Transformasi Digital: Menjadikan Kotamobagu sebagai Digital City melalui digitalisasi layanan publik dan pengembangan infrastruktur teknologi informasi.
3. Pengentasan Kemiskinan Berbasis Digital: Implementasi program-program pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan teknologi.
4. Integrasi Good Governance: Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, transparan, dan akuntabel di semua sektor.
5. Program dan Pelayanan Terpadu: Penguatan layanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, hukum, serta sosial kemasyarakatan.
Kepada Zonabmr.com, ADM menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat dari Pemerintah Kota Kotamobagu.
“Alhamdulillah, kami bisa berdiskusi, berbagi informasi, dan berkolaborasi demi Kotamobagu yang lebih maju. Terima kasih atas penerimaan dan sambutan baik dari Pemkot Kotamobagu,” ungkap ADM.
Dengan semangat kebersamaan dan nilai-nilai lokal Motobatu Molintak Kon BMR, ADM berharap Pemkot Kotamobagu bersama para pemangku kepentingan dapat terus bersinergi dan berkontribusi dalam agenda-agenda kerakyatan.
“InsyaAllah, dengan semangat bersama, kolaborasi, sinergi, dan persatuan, kita dapat menghadirkan Kotamobagu yang maju, inklusif, dan berdaya saing,” tutup ADM.
~ Mereka berkarya, bukan karena ingin dikenal, tapi karena ingin didengar. ~
Ironi Musisi Daerah: Dihargai di Luar, Diabaikan di Rumah Sendiri
Opini, ZONABMR.COM – Lembaran kertas penuh tulisan dan coretan, lantunan alat musik dan senandung dari bibir yang coba menyesuaikan harmoni sembari berusaha keras mencari nada yang sekiranya pantas; sesekali berhenti untuk menyesap asupan air hitam pekat. Belum lagi waktu yang entah butuh berapa banyak – sebuah proses yang sering diabaikan banyak orang – mengiringi karya itu lahir.
Senyap menyelimuti para pemilik suara. Musisi daerah. Mereka yang mengukir nada dari bilik sempit dan menulis lirik dari luka yang tak dilihat siapa-siapa. Mereka yang berkarya, bukan karena ingin dikenal, tapi karena ingin didengar.
Namun sayang, mereka lebih sering disambut tepuk tangan di tempat asing, daripada di tempat yang mereka sebut rumah.
Ironi itu terus berulang: yang dekat dianggap biasa, yang jauh dielu-elukan. Padahal, karya-karya mereka tak kalah merdu, tak kurang tulus, tak sedikit pun kehilangan nyawa.
Lucunya, dunia hari ini lebih cepat jatuh cinta pada suara yang menyanyikan ulang lagu orang lain. Musisi cover dengan pencahayaan pas dan estetika kekinian dihujani pujian dan dibanjiri tayangan.
Sedang musisi yang menulis dari nol – dengan getar jari dan degup hati – harus menunggu waktu lebih lama, atau bahkan tak pernah cukup dianggap.
Mereka tidak punya lagu yang sudah viral untuk dijadikan umpan. Mereka hanya punya kejujuran yang kadang terlalu asing untuk didengar.
Tidak, saya tidak pernah bermasalah dengan musisi cover, – saya pernah juga menjadi bagian dari itu demi sedikit pundi-pundi cuan untuk bertahan hidup di perantauan – dan saya memiliki hubungan yang cukup baik dengan mereka.
Ini bukan soal siapa yang lebih layak, tapi soal siapa yang berani menciptakan dari ruang sunyi. Mereka yang melahirkan karya dari ketiadaan seharusnya jadi pondasi ekosistem musik yang sehat.
Namun apa daya, perhatian kita kadang terlampau silau oleh nama-nama besar, hingga lupa bahwa bintang pun pernah redup di tanahnya sendiri.
Dan lebih menyakitkan lagi—dukungan yang paling dibutuhkan, justru tak datang dari yang paling dekat. Keluarga yang diam, teman yang pura-pura lupa, tetangga yang hanya mengintip dari balik layar.
Mereka tahu lagunya enak, mereka tahu karyanya niat, tapi untuk membagikan? Untuk datang saat tampil? Untuk memberi semangat sederhana? Tak banyak yang tergerak.
Terlebih di kota kecil ini, mereka yang punya kemampuan lebih untuk turut mempromosikan, nyatanya tak bisa diharapkan.
Mereka yang mengaku pernah menjadi bagian dari pergerakan musik lokal, nyatanya mungkin hanya dijadikan batu loncatan untuk meraup simpati.
Atau mungkin faktor gengsikah? Faktor merasa harusnya mereka lebih besar, lebih hebat, lebih berkemampuan? Atau mungkin ada faktor lain? Entahlah.
Musisi daerah tak butuh karpet merah. Mereka hanya ingin didengar sebelum terlambat. Mereka hanya ingin diyakini, sebelum dunia melakukannya lebih dulu.
Jangan sampai ketika mereka berdiri di panggung besar, kita baru sibuk mengklaim, “Itu orang sini,” padahal dulu kita sendiri yang tak pernah hadir di barisan penontonnya.
Saatnya kita di BMR ubah cara pandang. Mulailah dengarkan yang belum populer. Sebarkan karya yang lahir dari tanah para Bogani ini. Hargai musisi yang menulis, bukan hanya yang mengulang.
Karena di balik setiap lagu yang belum viral, ada jiwa yang menanti pengakuan. Dan barangkali, lewat dukungan kecil kita, sebuah karya besar sedang tumbuh.
Bila bukan kita yang lebih dulu percaya, maka kita pun tak pantas ikut bangga saat dunia menyambutnya. ***
Udi Masloman
*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif di pergerakan musik lokal daerah, frontman dan penulis lagu di band Krayon INS. Pernah menjadi penyiar di stasiun radio lokal DC FM; saat ini menjabat sebagai Ketua DPC organisasi pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong
RVM Resmi Buka Seleksi Paskibra Kota Kotamobagu Tahun 2025
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Wakil Wali Kota Kotamobagu, Rendy Virgiawan Mangkat (RVM) secara resmi membuka tahapan seleksi pembentukan Pasukan Pengibar Bendera Paskibra tingkat Daerah Kota Kotamobagu Tahun 2025.
Acara pembukaan tersebut dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan Kota Kotamobagu pada hari Senin, 14 April 2025, dan dihadiri oleh unsur pemerintah, panitia seleksi, serta para peserta seleksi dari berbagai sekolah tingkat menengah atas se-Kotamobagu.
Dalam sambutannya, RVM menegaskan bahwa seleksi Paskibra bukan hanya menjadi bagian dari rutinitas tahunan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, namun memiliki makna yang sangat mendalam dalam rangka pembinaan karakter generasi muda bangsa.
“Menjadi bagian dari Paskibra bukan hanya soal baris-berbaris, tapi juga tentang semangat kebangsaan dan kepemimpinan. Ini adalah wadah strategis untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme, kedisiplinan, dan integritas kepada para pelajar yang merupakan calon-calon pemimpin bangsa di masa depan,” ungkap RVM
RVM menyampaikan harapan besar kepada para peserta seleksi agar mengikuti seluruh tahapan dengan penuh semangat, kejujuran, dan dedikasi tinggi.
“Kami berharap, anak-anak kita yang mengikuti seleksi ini mampu menunjukkan dedikasi, semangat, dan kecintaan pada Tanah Air. Jadikan ini sebagai pengalaman berharga yang akan membentuk kalian menjadi generasi yang kuat, cinta tanah air, dan siap memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara,” tutur RVM.
Tak lupa, mantan anggota DPRD Kotamobagu itu juga menegaskan pentingnya profesionalisme dan transparansi dalam proses seleksi.
“Bagi panitia seleksi, kami titipkan tugas mulia ini agar dilakukan secara objektif, profesional, dan transparan. Kita ingin menghasilkan calon-calon Paskibra yang benar-benar layak dan siap mewakili Kota Kotamobagu, baik di tingkat daerah maupun hingga ke Tingkat Nasional jika terpilih. Seleksi ini bukan hanya tentang siapa yang terbaik secara fisik, tapi juga menyangkut keteguhan sikap, mental, dan kecintaan terhadap bangsa,” tegas RVM.
Seleksi Paskibra tingkat daerah akan menjadi dasar dalam memilih peserta terbaik yang nantinya akan mewakili Kota Kotamobagu dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 yang akan diselenggarakan pada bulan Agustus 2025 mendatang.
Para peserta yang lolos seleksi akan menjalani pelatihan intensif, baik dalam hal keterampilan teknis baris-berbaris maupun dalam pembinaan mental dan wawasan kebangsaan.
Dengan terlaksananya kegiatan seleksi itu, PemKot Kotamobagu menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya cakap secara fisik, namun juga memiliki karakter yang kuat, nasionalisme tinggi, serta mampu menjadi panutan dan teladan bagi sesama.
Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat saat Audiensi dengan Komunitas TBS
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Komunitas Torang Baku Sayang (TBS) menyatakan dukungan penuh terhadap program-program strategis Pemerintah Kota Kotamobagu.
Dukungan tersebut disampaikan saat audiensi dan silaturahmi dengan Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Kotamobagu, Rendy Virgiawan Mangkat yang berlangsung di ruang kerja Wali Kota, Senin, 14 April 2025.
Dalam pertemuan yang berlangsung akrab itu, Ketua TBS, Michael Sholat Bibisa, menegaskan komitmen komunitasnya untuk menjadi mitra strategis pemerintah, terutama dalam mendukung pembangunan daerah melalui penyebaran informasi yang konstruktif dan berintegritas.
Weny Gaib – Rendy V. Mangkat menyambut baik kehadiran TBS sebagai mitra strategis.
Dalam dialog tersebut, mereka juga membahas sejumlah isu penting, salah satunya pengembangan sektor pertanian, khususnya pada komoditas kakao.
Selain menyatakan dukungan, TBS juga memaparkan rencana pelaksanaan kegiatan halalbihalal sebagai sarana mempererat hubungan antara komunitas dan pemerintah. Michael menambahkan bahwa acara tersebut bertujuan memperkokoh sinergi dalam membangun daerah.
Weny Gaib – Rendy Virgiawan Mangkat pun berjanji akan menghadiri kegiatan Halal Bi Halal yang akan digelar oleh komunitas TBS.
Audiensi tersebut diakhiri dengan kesepahaman untuk terus memperkuat kerja sama antara komunitas dan Pemerintah Kota Kotamobagu ke depan.
~ Karena seperti kata eyang Titiek, “Hidup itu indah, kalau kita mau menciptakannya.” ~
Berkarya di Tengah Badai: Belajar dari Eyang Titiek Puspa
Opini, ZONABMR.COM – Di kota kecil ini, di antara riuh rendah harapan dan pesimisme yang kadang terasa menyesakkan, saya memilih tetap berkarya.
Tidak selalu mudah, memang. Kadang semangat naik turun seperti nada dalam lagu yang belum selesai ditulis. Tapi setiap kali hati mulai ragu, bayangan eyang Titiek Puspa muncul dalam benak saya.
Bagi saya, beliau bukan hanya musisi legendaris – beliau adalah cahaya kecil yang terus menyala di tengah gelap, pengingat bahwa berkarya itu soal ketulusan, bukan semata soal sorak sorai dunia.
Eyang Titiek Puspa, dalam pandangan saya, adalah versi perempuan dari almarhum Hi. Benyamin Sueb: sosok multi-talenta yang tak pernah kehilangan senyumnya, bahkan ketika hidup menantangnya habis-habisan.
Seperti Bang Ben, eyang Titiek tidak hanya menyanyi; beliau bercerita, menghidupkan rasa, menyulam suara menjadi bagian dari napas kehidupan.
Sebagai vokalis dan penulis lagu di Krayon INS, saya belajar dari mereka. Bahwa menjadi musisi itu bukan hanya soal mengejar ketenaran, tetapi soal menjadi penggerak. Saya ingin – meskipun kecil – menjadi bagian dari angin yang mendorong kapal-kapal kecil bernama “musisi daerah” untuk berlayar lebih jauh.
Bukan hanya menyanyikan ulang lagu orang lain, tapi berani menyanyikan kisahnya sendiri. Menulis nadanya sendiri. Membunyikan mimpi-mimpinya sendiri.
Karena karya orisinal itu seperti sidik jari – tidak ada dua yang benar-benar sama.
Dan di dalam karya itu, ada keberanian, ada kegembiraan, ada luka, ada tawa, semua berbaur menjadi satu dalam harmoni yang mungkin sederhana, tapi sangat bermakna.
Pengalaman saya sebagai penyiar di DC FM pun saya manfaatkan untuk memperjuangkan mimpi ini.
Dimana saat itu, lewat program kecil yang saya beri nama OK’D (Orang Kota Do’eh), saya mengundang teman-teman musisi daerah yang sudah berani punya lagu sendiri. Saya beri mereka ruang – sekecil apapun itu – untuk bersuara, untuk dikenal lebih luas.
Bagi saya, setiap lagu mereka adalah potongan jiwa yang patut dirayakan, bukan dilupakan.
Jejak Luka dan Mimpi Seorang Musisi dari Pelosok
Namun, tidak semua perjalanan mulus.
Saya sempat menyayangkan pernyataan dari seorang kenalan sekaligus juga tokoh yang cukup berpengaruh di daerah kami, yang pernah berkata,
“Ngoni ini (musisi daerah) datang-datang suka tampil mar minta bayar. Sapa ngoni? Nda terkenal! (Kalian ini datang ingin diberi panggung, tapi minta dibayar. Kalian siapa? Tidak terkenal!)”
Kalimat itu sempat terasa menampar. Seperti ombak dingin yang menghantam perahu kecil di tengah laut.
Dan tentunya amat sangat disayangkan, ketika kalimat itu keluar dari lisan seseorang yang punya kapasitas – dan kalau tidak salah ingat, beliau sempat menjadi host salah satu pagelaran musik kolektif lokal – mendorong masyarakat untuk lebih mengapresiasi musisi daerah.
Sangat kontras dengan tokoh muda di daerah sebelah yang bahkan ketika memegang posisi lebih tinggi di provinsi, tetap berusaha memberi panggung untuk musisi dari daerahnya.
Tapi sudahlah, saya memilih tidak tenggelam dalam kekecewaan. Karena tentunya jalan pemikiran dan pemahaman seseorang tak mungkin untuk selalu selaras dengan kita.
Saya jadikan itu sebagai bahan bakar untuk berkarya lebih keras, lebih baik, dengan harapan suatu hari nanti, akan ada musisi daerah yang bukan hanya dikenal di tanah sendiri, tapi juga mengharumkan nama di tingkat nasional, bahkan internasional.
Toh saya sudah pernah membuktikan, bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, saya bersama Krayon INS mampu membawa pulang kebanggaan: peringkat 3 nasional dalam ajang pencarian bakat yang disponsori salah satu produk rokok ternama 13 tahun silam.
Dan tentu saja meski mungkin hanya segelintir, ketika lagu-lagu Krayon INS dibawakan ada saja di antara penonton ikut bernyanyi.
Pun tak cukup itu, beberapa sahabat musisi dari kota kecil ini saya tahu persis punya pencapaian yang membanggakan; hanya karena keterbatasan akses informasi dan perkembangan medsos belum seperti sekarang saja hingga tidak terekspos.
Itu adalah bukti-bukti kecil, bahwa dari daerah pun kita bisa bersuara nyaring, sepanjang kita mau bertahan, belajar, dan percaya.
Saya percaya, meski perlahan, perubahan akan datang.
Saya percaya, bahwa di balik ragu, ada asa.
Saya percaya, bahwa musisi daerah, dengan semua keterbatasannya, bisa menjadi api kecil yang suatu hari nanti membakar langit.
Dan setiap kali saya mulai merasa lelah, saya kembali mengingat eyang Titiek Puspa – perempuan tangguh yang menulis hidupnya dalam nada, yang membuktikan bahwa usia, situasi, bahkan zaman, tidak pernah benar-benar bisa memadamkan semangat berkarya.
Berkarya itu keputusan. Berkarya itu doa. Berkarya itu janji, kepada diri sendiri – untuk tidak menyerah.
Maka, biarlah saya tetap di sini, di panggung kecil ini, menyanyikan lagu-lagu yang lahir dari hati, dengan harapan suatu hari gema kecil ini akan menemukan hatinya yang lain, di tempat-tempat yang belum saya jamah.
Dan saya percaya, musik adalah salah satu cara terindah untuk menciptakan hidup itu. ***
Udi Masloman
*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif di pergerakan musik lokal daerah, frontman dan penulis lagu di band Krayon INS. Pernah menjadi penyiar di stasiun radio lokal DC FM; saat ini menjabat sebagai Ketua DPC organisasi pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong