PJS Sulawesi Utara Siap Mengawal Program Prabowo – Gibran
Manado, ZONABMR.COM – Organisasi pers DPD Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Sulawesi Utara menegaskan komitmennya untuk mengawal pelaksanaan program-program yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sulawesi Utara.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua DPD PJS Sulut, Butje Lengkong, dan Sekretaris DPD PJS Sulut, Steven Pande-iroot, setelah melakukan rapat koordinasi dengan pengurus dan anggota DPC PJS Kota Manado pada Sabtu, 12 April 2025, di Komplek Lapangan KONI Sulut.
Steven Pande-iroot menyampaikan bahwa pers memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pembangunan bangsa. Selain berfungsi sebagai penyebar informasi, pers juga berperan sebagai kontrol sosial untuk memastikan kebijakan pemerintah berjalan dengan baik.
Menurut Steven Pande-iroot, hal itu sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tentang Pers yang mengamanatkan media sebagai sarana transparansi dan akuntabilitas.
“Pers memiliki peran yang sangat vital dalam pembangunan negara. Tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan pemerintah dilaksanakan secara tepat dan transparan,” kata Steven Pande-iroot.
Sementara itu, Butje Lengkong menambahkan bahwa pers tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai wahana edukasi bagi masyarakat.
Ia menekankan bahwa pers harus berperan aktif dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai program-program pemerintah, agar masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan.
“Program-program yang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sulawesi Utara wajib didukung dan dikawal. Pers akan terus berperan untuk memastikan program tersebut terlaksana dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Butje Lengkong.
Rapat koordinasi itu sendiri menegaskan keseriusan PJS Sulut dalam mendukung pemerintah pusat serta memperkuat peran pers dalam menciptakan pembangunan yang lebih baik dan lebih transparan di Sulawesi Utara.
Dengan komitmen tersebut, PJS Sulut siap memastikan setiap program pemerintah berjalan dengan baik demi kesejahteraan masyarakat.
Yasti Soepredjo Mokoagow berbincang Akrab bersama para Kepala Daerah
Kotamobagu, ZONABMR.COM — Dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban, Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib bersama Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat, serta Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) Yusra Alhabsyi didampingi Wakil Bupati Doni Lumenta, bersilaturahmi ke kediaman anggota DPR RI yang juga mantan Bupati Bolmong, Yasti Soepredjo Mokoagow.
Kegiatan ini berlangsung di kediaman pribadi Yasti Soepredjo Mokoagow di Kelurahan Matali, Kecamatan Kotamobagu Timur, pada Sabtu, 12 April 2025. Silaturahmi ini digelar dalam rangka mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus merayakan Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah.
Dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut, Yasti Soepredjo Mokoagow menerima langsung kunjungan para kepala daerah beserta rombongan dengan sambutan hangat. Silaturahmi ini menjadi momentum penting dalam mempererat tali persaudaraan, sekaligus membangun komunikasi yang harmonis antara pemerintah daerah di kawasan Bolaang Mongondow Raya.
Dalam kesempatan itu, Yasti Soepredjo Mokoagow menyampaikan apresiasi atas kehadiran para kepala daerah. Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan baik demi kelanjutan pembangunan daerah.
“Silaturahmi ini bukan hanya dalam rangka Idulfitri, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kita bersama menjaga kekompakan, mempererat hubungan emosional, dan membangun sinergi untuk kemajuan Bolaang Mongondow Raya,” ujar Yasti Soepredjo Mokoagow.
Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib, dalam kesempatan tersebut mengungkapkan rasa terima kasih atas undangan yang diberikan oleh Yasti Soepredjo Mokoagow.
“Kami merasa terhormat dapat bersilaturahmi langsung dengan Ibu Yasti. Ini adalah momentum yang sangat baik, di mana kita tidak hanya saling bermaaf-maafan, tetapi juga mempererat kebersamaan yang menjadi modal penting dalam membangun daerah ke depan,” kata Weny Gaib.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Bolmong, Yusra Alhabsyi, menambahkan bahwa tradisi silaturahmi saat Idulfitri harus terus dilestarikan sebagai bagian dari budaya bangsa.
“Melalui silaturahmi seperti ini, kami bisa membangun komunikasi yang lebih erat, memperkuat kerja sama lintas wilayah, serta menciptakan suasana harmonis dalam mendukung program-program pembangunan yang ada,” ujar Yusra Alhabsyi.
Suasana penuh keakraban tampak selama berlangsungnya silaturahmi.
Acara silaturahmi itu menegaskan pentingnya membangun kebersamaan di tengah dinamika politik dan pemerintahan, sekaligus menunjukkan bahwa semangat Idulfitri menjadi momentum memperkuat solidaritas antar-pemimpin dan masyarakat.
Dengan adanya kegiatan seperti itu, diharapkan hubungan antar-pemerintah daerah di wilayah Bolaang Mongondow Raya semakin solid dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.
Diketahui, giat tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi untuk masyarakat Bolmong Raya dengan Yasti Soepredjo Mokoagow.
Komunitas TBS Hadir untuk Lansia di Kotamobagu Barat
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Masih dalam nuansa perayaan Idul Fitri yang sarat makna, Komunitas Torang Baku Sayang (TBS) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat.
Melalui aksi berbagi sembako kepada lansia di Kelurahan Mongkonai Induk, Sabtu 13 April 2025, komunitas ini membuktikan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada berbagi dan mempererat rasa kemanusiaan.
Menurut Ketua Komunitas TBS, Michael Solat Bibisa, aksi itu sebagai wujud nyata dari kontribusi positif Komunitas TBS kepada warga sekitar.
“Inisiatif berbagi sembako ini telah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap bulan. Pada kesempatan ini, momentum Hari Raya Idul Fitri semakin memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap orang tua di Kelurahan Mongkonai Induk,” ujar lelaki yang akrab disapa Iqel.
Diungkapkan Iqel, Komunitas TBS berkomitmen untuk terus berkontribusi secara positif bagi masyarakat.
“Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban para saudara kita yang membutuhkan, khususnya para lansia, serta menambah kebahagiaan dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri,” harap Iqel.
Pelaksanaan aksi tersebut, turut didukung oleh jajaran pemerintah kelurahan setempat.
Dimana Lurah Mongkonai Induk, Hadiati Paputungan, didampingi Ketua RT Mitti Potabuga, berperan aktif dalam proses pendistribusian bantuan kepada warga.
“Inisiatif ini memiliki arti yang sangat besar bagi kami. Kehadiran Komunitas TBS membuat kami merasa diperhatikan sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat lansia di Kelurahan Mongkonai Induk,” ucap Lurah Hadiati Paputungan.
Hadiati Paputungan menambahkan, adanya kegiatan dari TBS mempererat hubungan antara komunitas dan warga.
“Serta diharapkan dapat terus berlanjut demi memperkuat sinergi yang telah terjalin, tidak hanya di Mongkonai Induk tetapi juga di seluruh wilayah Kota Kotamobagu,” tutup Hadiati Paputungan.
Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, Komunitas TBS semakin menegaskan peran aktifnya dalam membangun solidaritas sosial dan memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat Kota Kotamobagu.
Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib saat Mengadakan Pertemuan dengan BPK RI Perwakilan Sulut
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib, menginstruksikan kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemkot Kotamobagu untuk bersikap kooperatif dalam mendukung pelaksanaan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2024 oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).
“Dengan adanya pemeriksaan BPK ini, saya mengimbau kepada seluruh OPD untuk berada di tempat selama proses pemeriksaan berlangsung serta bekerja sama dengan baik, karena hal ini merupakan bagian dari upaya untuk mendukung pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat di Kota Kotamobagu,” tegas Weny Gaib, Jumat 11 April 2025.
Pernyataan tersebut disampaikan Wali Kota usai pertemuan tertutup dengan BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Utara, yang turut dihadiri oleh Inspektur Daerah Kotamobagu, Yusrin Mantali, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Pra Sugiarto Yunus, serta Ketua Tim Audit LKPD BPK RI Perwakilan Sulut, Andhy Winastono, beserta anggota tim pemeriksa.
Dalam kesempatan tersebut, Weny Gaib menjelaskan bahwa pemeriksaan ini merupakan bagian dari agenda rutin BPK RI dalam rangka melakukan evaluasi terhadap pengelolaan keuangan dan kinerja pemerintah daerah.
“BPK hadir untuk menyampaikan pemberitahuan dimulainya proses pemeriksaan, sebagaimana yang dilakukan setiap tahun, terkait dengan kinerja dan pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Kotamobagu pada tahun anggaran sebelumnya,” ujar Weny Gaib.
Lebih lanjut, Weny Gaib menyampaikan bahwa selain pemeriksaan administrasi, BPK RI juga akan melakukan pemeriksaan fisik di lapangan.
“Mereka juga menyampaikan rencana untuk melakukan pemeriksaan fisik di lapangan dan mengharapkan adanya sinergi dari pemerintah daerah. Kita menyambut baik kehadiran BPK RI, memberikan dukungan penuh, serta berkomitmen untuk membantu dengan menyediakan seluruh informasi yang dibutuhkan,” tutup Weny Gaib.
Adapun pemeriksaan atas LKPD Tahun Anggaran 2024 tersebut dimulai pada Jumat, 11 April 2025 hari ini, dan akan berlangsung selama 35 hari ke depan.
~Lagu “We Will Not Go Down” selalu terngiang setiap kali melihat keteguhan rakyat Palestina, bukan hanya memainkan emosi tetapi menyadarkan betapa benar setiap lirik yang dinyanyikan Michael Heart.~
Oleh: Udi Masloman
Opini, ZONABMR.COM – Setiap zaman melahirkan tragedinya sendiri. Tapi ada tragedi yang, alih-alih berakhir, justru diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya—seperti luka terbuka yang dibiarkan membusuk di tengah riuh dunia yang pura-pura tuli.
Itulah Palestina bagi kita hari ini: simbol penderitaan yang tak kunjung disembuhkan, jeritan kemanusiaan yang terlalu sering dikalahkan oleh kepentingan politik dan kekuasaan.
Di tanah yang oleh banyak agama disebut suci itu, manusia diperlakukan lebih rendah dari debu.
Rumah-rumah dihancurkan dalam sekejap, kebun zaitun—yang seharusnya menjadi lambang perdamaian—ditumbangkan dengan buldoser.
Anak-anak, yang baru belajar mengeja nama mereka sendiri, harus belajar juga bagaimana mengeja “pengungsian”, “blokade”, bahkan “kematian.”
Kita hidup di dunia yang seharusnya lebih sadar, lebih beradab, lebih berempati.
Namun ironisnya, kita menyaksikan genosida di Palestina berjalan di hadapan mata kita, sambil terus berdebat tentang istilah, tentang siapa yang lebih berhak atas rasa sakit.
Kita lupa bahwa, pada akhirnya, nyawa manusia tidak memiliki denominasi. Darah yang mengalir dari tubuh anak kecil di Gaza tidak bertanya: “Apakah aku layak dikabarkan?”
Darah itu hanya mengalir, menuntut keadilan yang entah kapan datangnya.
Apa artinya berbicara tentang hak asasi manusia, tentang perdamaian dunia, ketika kita membiarkan genosida ini berlangsung?
Apa gunanya resolusi, konferensi, pidato panjang, jika di lorong rumah sakit lapangan di Gaza, seorang ibu masih harus memilih anak mana yang mungkin bisa diselamatkan lebih dulu?
Palestina bukan sekadar isu politik, bukan semata konflik geopolitik.
Palestina adalah ujian kemanusiaan kita. Sejauh mana kita berani memihak pada yang tertindas?
Sejauh mana kita mau mengakui bahwa ketidakadilan, di mana pun ia terjadi, adalah ancaman bagi keadilan di mana pun?
Kita bisa memilih untuk diam, karena merasa kecil di hadapan kekuasaan besar.
Tapi sejarah akan mencatat bukan hanya para pelaku kejahatan itu, melainkan juga mereka yang memilih diam saat kejahatan berlangsung.
Palestina mengajarkan kita satu hal: bahwa kemanusiaan bukan sekadar kata, melainkan keberanian untuk berdiri, bahkan ketika dunia memilih untuk berpaling. ***
Udi Masloman
*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Zonabmr. Aktif terlibat di aksi-aksi peduli Palestina. Saat ini penulis tercatat sebagai Ketua Organisasi Pers DPC Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Bolmong
Manado, ZONABMR.COM — Masyarakat Sulawesi Utara, khususnya di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR), dihebohkan dengan beredarnya kabar mengenai pelantikan Tahlis Gallang sebagai Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulawesi Utara pada Jumat, 11 April 2025.
Informasi tersebut menyebar luas melalui sejumlah akun dan grup media sosial seperti Facebook dan WhatsApp.
Tidak sedikit warganet yang bahkan telah mengucapkan selamat kepada mantan Sekretaris Daerah di tiga kabupaten/kota tersebut.
Namun, setelah dikonfirmasi, informasi tersebut dipastikan tidak benar.
Berdasarkan keterangan sumber resmi, hingga saat ini belum ada pelantikan Sekprov Sulut yang baru, dan Jabatan tersebut masih dijabat oleh Steve Kepel.
“Itu informasi tidak benar, hoaks,” tegas sumber tersebut.
Sumber tersebut juga menjelaskan, saat ini Tahlis Gallang belum memenuhi syarat untuk menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) atau Pelaksana Harian (Plh) Sekprov Sulut.
Menurutnya, Tahlis Galkang masih aktif sebagai Kepala Dinas Koperasi dan UKM, sekaligus menjabat sebagai Plt Asisten II di Pemerintah Provinsi Sulut.
“Hari ini, Gubernur tengah melaksanakan tugas di luar daerah, demikian pula dengan Tahlis Gallang yang sedang bertugas di wilayah lain. Oleh karena itu, informasi terkait pelantikan tersebut tidak berdasar,” tambahnya.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, serta selalu melakukan verifikasi melalui sumber-sumber resmi sebelum menyebarkannya lebih lanjut.
Jakarta, ZONABMR.COM – Bicara dunia musik Indonesia, rasanya tak lengkap tanpa menyebut nama Titiek Puspa.
Sosok yang satu ini bukan cuma penyanyi biasa, tapi juga pencipta lagu, aktris, dan figur seni yang karyanya hidup dari zaman dulu sampai sekarang.
Meskipun beliau sudah berpulang, karya-karya emasnya tetap begitu membekas di ingatan.
Perjalanan Panjang Seorang Titiek Puspa
Titiek Puspa mulai bersinar di era 50-an, di masa di mana musik Indonesia lagi bertumbuh pesat.
Suara khasnya, ditambah kepribadiannya yang kuat di atas panggung, bikin dia gampang banget dicintai banyak orang.
Tapi yang bikin beliau spesial, bukan cuma soal suara. Titiek Puspa juga jago banget nulis lagu.
Tema lagunya pun sangat bervariasi — ada tentang cinta, keluarga, sosial, bahkan realita hidup yang jarang disentuh penyanyi lain pada zamannya.
Lagu-Lagu yang Tak Lekang oleh Waktu
Siapa sih yang tak kenal lagu-lagu ini:
“Kupu-Kupu Malam” Lagu yang dalem banget. Tentang perempuan-perempuan yang harus bekerja di malam hari. Titiek Puspa menulisnya dengan penuh empati, tanpa menghakimi.
“Bing” Lagu ini dibuat buat mengenang sahabatnya, Bing Slamet. Simpel tapi ngena, bikin kita yang denger ikut merasa kehilangan.
“Apanya Dong” Lagu ini lucu tapi nyentil! Kritik sosial dibungkus dengan lirik yang jenaka dan catchy.
“Doa Seorang Ibu” Lagu penuh haru yang sering dinyanyikan waktu Hari Ibu. Tak heran, karena liriknya benar-benar mewakili cinta ibu yang tanpa batas.
Selain itu, beliau juga bikin banyak lagu anak-anak, acara TV, sampai main di teater. Multitalenta!
Warisan untuk Indonesia
Titiek Puspa mengajarkan kita satu hal penting: berkarya itu harus dari hati.
Dia selalu total di setiap karyanya, tanpa pernah setengah-setengah. Dan itu yang bikin karyanya tetep hidup sampai hari ini.
Walaupun beliau sudah tiada, semangat dan inspirasinya bakal terus ada di setiap nada, setiap lirik, dan setiap hati yang pernah tersentuh karyanya.
~Kadang yang paling menyakitkan bukan ketika dibohongi, tapi saat menyadari bahwa kita ikut menyebarkan kebohongan itu.~
Oleh: Udex Mundzir
Opini, ZONABMR.COM – Saya menulis ini sebagai wartawan yang pernah percaya. Bukan karena naif, tapi karena pada satu titik saya ingin percaya bahwa pemimpin bisa berubah, bahwa negara bisa jadi lebih baik lewat suara rakyat, bukan warisan dinasti.
Sepuluh tahun lalu, kami—media, seniman, influencer, akademisi—berlomba menyuarakan “harapan.” Kami menertawakan mobil Esemka karena polos dan lokal, bukan karena palsu. Kami mengangkat narasi “anak tukang kayu” dan membandingkannya dengan elit lama yang dikira penuh dosa. Kami bantu bentuk pencitraan yang sekarang justru mencemari logika publik.
Kini, saya bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya telah kami bantu bangun?
Hari ini kita tahu, Esemka tidak pernah benar-benar ada. Kita tahu, kebijakan yang digadang-gadang sebagai pro-rakyat, dari kartu-kartu sakti sampai bansos digital, ternyata jadi ladang korupsi baru. Kita tahu bahwa di balik senyum dan baju putih polos itu, ada kekuasaan yang senang bermain abu-abu.
Kita menyaksikan runtuhnya KPK, revisi UU, pengangkatan para buzzer jadi komisaris, dan hukum yang bengkok ke arah istana.
Dan ketika suara rakyat mulai kritis, kekuasaan membalas dengan kedap. Tak ada ruang untuk oposisi, bahkan di media. Kritik disebut hoaks, oposisi dijadikan lawakan.
Yang lebih menyakitkan, sebagian dari kami masih diam.
Banyak wartawan—maaf, rekan seprofesi saya—yang akhirnya memilih “netral,” padahal tahu apa yang sedang terjadi. Ada yang dibeli lewat proyek, ada yang dijinakkan lewat penghargaan, ada juga yang hanya ingin “aman.”
Saya tahu, karena saya pernah jadi salah satunya.
Kami wartawan dibesarkan dengan idealisme: “berpihak kepada kebenaran dan kepentingan publik.” Tapi di lapangan, kami dicekik oleh iklan, tekanan pemilik media, dan redaktur yang harus tunduk pada pemegang saham yang dekat kekuasaan.
Kini, kami hidup di negeri yang penuh ilusi.
Pemerintah bicara pertumbuhan ekonomi, tapi jutaan rakyat tak mampu mudik karena kehilangan kerja. Mereka bicara digitalisasi, tapi anak-anak di pedalaman masih berjalan 10 km untuk sinyal. Mereka bangga buka taman 24 jam, tapi masjid malah diminta sepi dan sunyi.
Mereka bangga proyek IKN dikunjungi wisatawan, padahal fungsinya untuk pusat pemerintahan, bukan taman safari beton.
Dan kini, ketika korupsi sudah telanjang di depan mata, Prabowo pun bicara soal “keadilan bagi anak dan istri koruptor.” Pernyataan itu terdengar simpatik, tapi mematikan.
Karena ia mengaburkan batas antara pelaku dan korban. Antara pencuri dan penadah. Antara empati dan pembiaran.
Lebih parah lagi, pernyataan itu mengungkap satu hal yang mengkhawatirkan: Prabowo cenderung lebih berempati pada koruptor dan keluarganya ketimbang kepada penderitaan rakyat.
Rakyat kecil yang kehilangan hak atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan, bahkan sekadar harga bahan pokok yang wajar, tak pernah mendapat empati sebesar itu.
Tak ada pidato menyentuh soal anak petani yang gagal panen, atau buruh yang di-PHK tanpa pesangon. Tapi untuk istri dan anak koruptor, negara diminta “berperasaan.”
Ini bukan hanya keliru secara moral. Ini pengkhianatan terhadap akal sehat.
Sebagai wartawan, saya paham kekuatan narasi. Narasi bisa membangkitkan perlawanan, atau meninabobokan rakyat. Dan kekuasaan sekarang sedang memainkan narasi yang licin: empati kepada elit, kekerasan kepada rakyat kecil.
Kita sudah menyaksikan rakyat miskin disita motornya karena telat bayar pajak. Tapi saat bicara keluarga koruptor, negara justru mengingatkan kita untuk “adil.” Di mana adilnya?
Lebih ironis lagi, saat media massa kini lebih sibuk menyoroti pesta pernikahan artis, drama influencer, atau jargon pejabat viral. Kita, wartawan, sedang kehilangan akal sehat kolektif.
Hari ini, negara tak lagi menunggu berita baik. Negara ingin berita yang dipesan.
Saya menulis ini sebagai pengakuan, dan mungkin penyesalan. Tapi juga sebagai seruan: mari berhenti pura-pura tidak tahu.
Kita semua tahu ini salah. Kita semua tahu ini busuk. Dan kalau kita diam, maka kita bagian dari kebusukan itu.
Sudah cukup kita tertawa atas kebohongan yang kita tahu tak lucu.
Sudah cukup kita diam karena takut kehilangan akses.
Sudah saatnya kita menulis dengan satu tujuan: menyuarakan kembali apa yang tersisa dari nurani publik.
Karena jika wartawan ikut bungkam, lalu siapa yang akan bicara? ***
Sang Diva Tiga Zaman, Almh.Titiek Puspa (Foto: IG Titiekpuspa_official
Jakarta, ZONABMR.COM – Dunia musik dan hiburan Indonesia kembali berduka. Penyanyi senior sekaligus musisi legendaris, Titiek Puspa, meninggal dunia pada Kamis (10/4/2025) pukul 16.30 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta
Titiek Puspa mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 87 tahun.
Kabar duka ini disampaikan oleh label musik Musica Studio melalui akun resmi Instagram mereka, @musicastudios.
“Selamat jalan eyang @titiekpuspa_official. Terima kasih atas segala cinta dan kasih. Selamat beristirahat dengan tenang, eyang. Salam cinta dan doa,” tulis Musica Studio dalam unggahannya.
Hj Sudarwati, yang lebih dikenal dengan nama panggung Titiek Puspa, lahir di Tanjung, Kalimantan Selatan, pada 1 November 1937. Selama lebih dari enam dekade, ia dikenal sebagai salah satu sosok paling berpengaruh dalam dunia musik, seni, dan budaya Indonesia.
Julukan “Diva Tiga Zaman” pun disematkan kepadanya karena eksistensinya yang melintasi generasi.
Perjalanan Karier
Karier musik Titiek Puspa dimulai pada tahun 1950-an. Bakat musiknya yang luar biasa membawanya berpartisipasi dalam berbagai ajang pencarian bakat, hingga akhirnya dikenal luas di kancah nasional.
Ia tidak hanya dikenal sebagai penyanyi bersuara emas, tetapi juga sebagai pencipta lagu produktif yang karya-karyanya menjadi hits besar.
Di luar musik, Titiek Puspa juga aktif di dunia perfilman dan teater. Ia tampil dalam sejumlah film nasional yang turut memperkaya khazanah perfilman Indonesia pada masa keemasannya.
Diskografi Pilihan Titiek Puspa
Kupu-Kupu Malam (1977)
Bimbi (1980)
Cinta (1983)
Apanya Dong (1995)
Adinda (1997)
Kisah Hidup (2005)
Bahtera Asmara (2008)
Banyak lagunya yang menjadi lagu abadi dan dinyanyikan lintas generasi, seperti “Kupu-Kupu Malam”, “Bimbi”, “Marilah Kemari”, dan “Doa Untukmu Anakku”.
Daftar Film yang Pernah Dibintangi
Minah Gadis Dusun (1964)
Di Balik Dinding Sekolah (1965)
Bunga Putih (1966)
Manusia Berilmu Gaib (1972)
Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969, soundtrack)
Mer’s Lips (1992)
Madre (2013, sebagai cameo)
Selain film layar lebar, Titiek Puspa juga beberapa kali tampil di panggung teater musikal dan acara televisi, memperlihatkan multitalentanya.
Warisan untuk Dunia Seni Indonesia
Titiek Puspa tak hanya meninggalkan karya, tetapi juga nilai-nilai ketekunan, kreativitas, dan cinta tanah air melalui seni. Banyak penyanyi dan musisi muda yang menjadikannya inspirasi dalam berkarya.
Sejumlah publik figur, musisi, dan masyarakat luas turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian Titiek Puspa. Ucapan duka membanjiri media sosial, mengenang betapa besar kontribusinya terhadap musik dan budaya Indonesia.
Kepergian Titiek Puspa meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan seni yang abadi untuk bangsa.
Selamat jalan, Eyang Titiek Puspa. Karyamu akan terus hidup dalam hati kami.
Wakil Wali Kota Kotamobagu, Rendy Virgiawan Mangkat
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Wakil Wali Kota Kotamobagu, Rendy Virgiawan Mangkat (RVM), menegaskan pentingnya kedisiplinan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Daerah Kota Kotamobagu.
Penegasan itu disampaikan RVM saat memimpin apel kerja perdana ASN Pemkot Kotamobagu pasca libur nasional Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah dan Cuti Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947, di Alun-alun Boki Hontinimbang Kotamobagu, Rabu 9 April 2025.
Dalam sambutannya, RVM menekankan bahwa disiplin merupakan kunci utama dalam keberhasilan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai ASN.
“Masalah disiplin perlu saya ingatkan kepada seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah, mengingat disiplin merupakan kunci utama suksesnya pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang ASN. Tidak hanya sebatas kehadiran, akan tetapi disiplin dalam artian etos kerja, perilaku, sikap dan etika sebagai ASN, baik di dalam maupun di luar kedinasan, termasuk dalam bermedia sosial,” tegas RVM.
Apel perdana tersebut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kotamobagu, Sofyan Mokoginta, para asisten, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, lurah, sangadi, perangkat desa se-Kota Kotamobagu, serta seluruh ASN dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemkot Kotamobagu.
Dengan penekanan terhadap kedisiplinan tersebut, diharapkan seluruh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Kotamobagu dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.