Kondisi jalan menuju pabrik gula semut di Desa Moyag.
ZONA KOTAMOBAGU – Akses jalan masuk Pabrik Gula Semut butuh perbaikan. Pasalnya, jalan menuju pabrik yang selesai dibangun pada 2016 lalu di Desa Moyag itu rusak parah dan sulit dilalui kendaraan.
“Kita harap dinas terkait bisa mengalokasikan anggarannya, karena kita (Pemerintah Desa) tak bisa menganggarkan lewat Dana Desa, karena ini masuk jalan kabupaten,” kata Sekretaris Desa (Sekdes) Moyag, Maskur Gumalangit.
Ia mengatakan, infrastruktur jalan yang memadai akan sangat membantu pengoperasian pabrik tersebut. “Ada sekitar 300 meter yang sulit dilalui,” ungkapnya.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), mengatakan belum ada penganggaran untuk akses jalan menuju pabrik tersebut. Sebab sisa jalan yang masih rusak memang belum ada penanganan, karena jalan yang ditangani pada tahun 2016 kondisinya masih baik.
“Untuk sementara ini belum ada. Kita masih menunggu petunjuk, apakah masuk APBD-P atau seperti apa, karena masih terkait dengan batas wilayah administrasi antara Kotamobagu dan Boltim,” katanya.(guf)
ZONA KOTAMOBAGU – Sumarni Sechmat (64) warga Desa Tabang, Kecamatan Kotamobagu Selatan, terus mempertahankan dan melestarikan budaya Mongondow lewat usaha Lapi-lapi’nya sejak tahun 1960-an.
Untuk usaha ini, Sumarni tak membatasinya. Ia tak hanya menerima permintaan per paket saja, tapi juga menerima pesanan terpisah. “Bisa untuk dekorasi pelaminan saja, bisa juga untuk rias pengantin, tapi kalau paket juga lebih baik,” kata Rinto Mokoginta, menantu Mami Ep –sapaan akrab Sumarni Sechmat–.
Menurut Rinto, bertahannya usaha Lapi-lapi’ ini bisa menjadi angin segar, terutama bagi kalangan muda untuk dijadikan pintu masuk dalam mempelajari lebih jauh budaya orang Mongondow.
“Banyak masyarakat yang sudah tidak tahu terutama kaum muda, karena mulai mengalami pergeseran budaya dan beralih ke modern. Sudah jarang yang bergerak pada usaha serupa. Bahkan kaum muda sudah tidak bisa membuat Lapi-lapi’ itu sendiri,” ujar Rinto.
Padahal dengan mempelajari cara membuat Lapi-lapi’ akan ada efek dominonya. Peralihan budaya membuat Lapi-lapi’ menjadi mulai jarang ditemui, kelangkaan ini justru turut mempengaruhi harga. Tak tanggung-tanggung, per meter Lapi-lapi’ ini dihargai Rp300 ribu dan dalam penggunaannya, paling sedikit untuk kebutuhan duka, harus dibutuhkan paling tidak 3 meter. Sehingga dari usaha ini, Mami Ep selain bisa terus melestarikan budaya, juga bisa meraup omset jutaan rupiah.
“Untuk pemesanan, tata rias, pelaminan, atau Lapi-lapi’ bisa menghubungi nomor telepon 085240751789,” singkat Rinto.
Lapi-lapi’ adalah ornamen penting dalam setiap perayaan Suku Mongondow, berbentuk kain panjang yang dijahit sedemikian rupa, dengan warna dasar hitam dan dipadupadankan dengan beberapa warna mencolok, seperti kuning emas, merah, dan hijau. Diatas permukaan ditambah dengan manik-manik, bersamaan pola yang telah dibentuk untuk direkatkan pada dasar kain.
Lapi-lapi’ ini sering ditemui pada dekorasi Puade atau pelaminan, dan atau tempat duduk pengantin. Selain itu bagi suku Mongondow, Lapi-lapi’ juga digunakan pada Tonggoluan atau tempat tidur mayat sebelum dikuburkan, tempat tidur ini biasanya ditutupi kain putih dan dihias sedemikian rupa, termasuk diberi Lapi-lapi’ pada setiap sudut pun lingkaran kain putih tersebut. (guf)
ZONA KOTAMOBAGU – Egie Kurniawan dari Red Home Industri Kotamobagu, menciptakan varian kopi yang diberi nama Kopi Binuang yang memiliki cita rasa tersendiri bagi para penikmatnya.
Menurut Egie, Kopi Binuang merupakan kopi robusta dari Perkebunan Binuang Motoboi Besar. “Ciri khas Kopi Binuang memiliki aroma coklat dan coklat sugar serta mengeluarkan rasa buah,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan, proses produksi Kopi Binuang mulai dari perkebunan diambil dan disortir hanya biji kopi berwarna merah, kemudian dilakukan proses secara natural, lalu digiling untuk kupas kulit, kemudian kembali disortir.
“Dalam proses sortiran biji kopi masih ada tiga tahapan yakni paling bagus, bagus dan kurang bagus. Nah, Kopi Binuang ini merupakan biji kopi yang paling bagus,” ungkapnya.
Meski Kopi Binuang terbilang baru diproduksi november 2019, namun permintaan atau pembeli tidak hanya dari Kotamobagu saja melainkan sudah dikirim di luar kota seperti Manado dan Gorontalo.
“Target pasar kami, Kopi Binuang ini akan dipasarkan di seluruh Indonesia agar kopi asal Kotamobagu ini juga bisa terkenal dan dikenal,” jelasnya.
Selain terus mempromosikan Kopi Binuang, dirinya juga berharap kepada Pemerintah Daerah untuk turut mendukung produksi Kopi Binuang asal Kotamobagu ini. “Kopi Binuang untuk kemasan pouch 125 gram dijual dengan harga Rp35 ribu,” pungkasnya. (guf)
ZONA KOTAMOBAGU – Ketersediaan air mendesak untuk menunjang pengoperasian Pabrik Gula Semut di Desa Moyag.
Pemerintah Desa (Pemdes) setempat sudah beberapa kali melakukan penggalian sumur bor, namun belum berhasil.
Sekretaris Desa (Sekdes), Maskur Gumalangit, mengatakan pihaknya akan memanfaatkan sumber mata air yang berada sekira 1 kilo meter dari lokasi pabrik.
“Sudah berapa kali menggali sumur bor, tapi tidak menemukan mata air. Tapi ada sumber mata air yang lokasinya agak jauh dari pabrik. Itu akan kita coba maksimalkan,” katanya. (guf)
Sekretaris Daerah, Dr Drs Hi Asripan Nani MSi, memberi sambutan saat membuka kegiatan Musrenbang Kecamatan Bolangitang Timur.
ZONA BOLMUT – Sekretaris Daerah (Sekda), Dr Drs Hi Asripan Nani MSi, membuka Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) RKPD Tahun 2020 Kecamatan Bolangitang Timur, Senin (2/3).
Dalam sambutannya, Sekda menyampaikan, Musrembang Kecamatan pada intinya menghimpun aspirasi masyarakat sebagai bahan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2021 yang sebelumnya telah merumuskan program dan kegiatan prioritas Kecamatan melalui Musrembang Desa dan Pra Musrembang Kecamatan.
“ini sangat penting karena akan memberikan kepastian dan arah pembangunan Tahun 2021 yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, berdasarkan hasil kesepakatan bersama,” kata Sekda.
Pada kesempatan itu, Sekda juga menyentil soal penggunaan Dana Desa (Dandes) yang harus selalu berorientasi pada program dan kegiatan bidang pemberdayaan masyarakat, dan dialokasikan untuk mendanai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pembangunan wirausaha, peningkatan pendapatan, serta perluasan skala ekonomi individu atau kelompok.
“Ini perlu diperhatikan, karena program dan kegiatan yang dibiayai melalui Dana Desa tidak perlu lagi diusulkan untuk dianggarkan dalam APBD,” ujar Sekda. (Rendi)
ZONA KOTAMOBAGU – Pabrik gula semut yang dibangun di Desa Moyag, Kecamatan Kotamobagu Timur, belum bisa difungsikan. Pasalnya, beberapa sarana pendukung belum ada. Padahal, sejumlah fasilitas termasuk peralatan mesin sudah tersedia dan siap digunakan.
“Masih terkendala air. Karena di sini wilayah ketinggian sehingga agak kesulitan. Tapi kita sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa, bahwa ada sumber mata air di sekitar lokasi ini yang bisa digunakan,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker), Imran Golonda, saat ditemui di pabrik gula semut, Senin (2/3).
Selain terkendala air, ia mengungkapkan proses pengolahan gula sedikit terkendala karena sistem pengapian pada mesin pengolahan gula yang belum sesuai standar yang dibutuhkan.
“Pernah diuji coba, tapi gulanya tidak seperti yang dimasak manual karena pengapiannya yang kurang. Solusinya adalah akan dibangun lima tungku di bagian luar. Nanti proses pemasakan gula melalui tungku itu baru dipindahkan ke dalam (mesin produksi),” ungkapnya.
Rumah produksi yang dibangun pemerintah itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama para pengrajin gula. “Sasaran kita adalah bagaimana masyarakat bisa sejahtera. Jika semua fasilitas dan sarana penunjang lainnya sudah lengkap, maka bisa langsung bisa dioperasikan,” ujarnya. (guf)
ZONA POLITIK — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kotamobagu mengelar rapat Badan Musyawarah (Banmus).
Agenda yang dipimpin langsung Wakil Ketua DPRD Kota Kotamobagu, Syarif Mokodongan ini, dilaksanakan di ruang Banmus, Senin (2/3), sekitar pukul 15.00 Wita.
Sekertaris Dewan (Sekwan) Agung Adati, mengatakan Banmus merupakan salah satu alat kelengkapan DPRD yang memegang peranan penting. “Bahkan bisa dikatakan Banmus adalah miniatur DPRD, sebab sebagian besar keputusan penting yang diambil oleh DPRD harus melalui Banmus terlebih dahulu,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Syarifuddin Mokodongan, mengungkapkan agenda Banmus ini untuk membahas sejumlah agenda dewan bulan Maret ini.
“Setiap awal bulan, dewan selalu melaksanakan agenda Banmus untuk membahas agenda bulanan, dan untuk Banmus kali ini, untuk membahas agenda dewan bulan ini,” katanya. (guf)
Wakil Wali Kota Nayodo Koerniawan saat membuka rakor Dinas Sensus Penduduk 2020.
ZONA KOTAMOBAGU – Wakil Wali Kota Nayodo Koerniawan membuka kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Dinas Sensus Penduduk 2020, bertempat di Restoran Lembah Bening, Kelurahan Sinindian, Senin (2/3).
Dalam rakor tersebut, Wawali meminta seluruh OPD, ASN dan THL yang bertugas di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu untuk melakukan sensus penduduk secara online di tahun 2020.
“Saat ini Kotamobagu memasuki periode pertama tahapan sensus penduduk 2020. Untuk itu, mengingat ini betapa pentingnya serta suksesnya sensus penduduk tahun ini, saya atas nama pemerintah menginstruksikan kepada seluruh OPD, ASN, dan THL yang untuk melakukan sensus penduduk secara online,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Wawali juga mengajak masyarakat untuk melakukan sensus penduduk secara online. “Masyarakat juga harus melakukan sensus penduduk secara online di tahun 2020. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil harus mensosialisasikan hal ini,” ujarnya.
Tak hanya ASN dan Masyarakat, Wawali juga meminta pimpinan BUMD dan BUMN yang ada di Kotamobagu untuk mengarahkan pegawainya guna melakukan sensus penduduk.
“Juga kepada seluruh pimpinan instansi, BUMD, BUMN diharapkan agar secara bersama-sama mengarahkan pegawai, karyawan di instasi masing-masing untuk segera melaksanakan sensus penduduk online,” ujarnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kotamobagu Didik Tjahjawinardi menambahkan, bahwa pelaksanaan sensus tahun 2020 dilakukan dalam dua tahapan.
“Sensus ini dilakukan secara dua tahap, yakni online dan verifikasi di lapangan. Dimana untuk secara online, penduduk bisa melakukan sensus secara mandiri melalui halaman website sensus.bps.go.id mulai tanggal 15 febuari hingga 31 maret. Sedangkan Tahap kegiatan verifikasi dan pendataan dilapangan dimulai 1 april hingga 31 juli 2020,” tambahnya. (guf)
ZONA KOTAMOBAGU – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kotamobagu mengikuti Rakor Sinergi Media Sosial Aparatur Negara dan Bimtek Peningkatan Kapasitas Pengelola Media Wilayah Indonesia Timur, yang dilaksanakan di Hotel Aryadhuta Manado, Jumat (28/2).
Kegiatan yang dibuka oleh Dirjen IKP Kemenkominfo, Prof. DR. Widodo Muktiyo tersebut bertujuan untuk mensinergikan seluruh pengelola media sosial (Medsos) pemerintah dalam rangka mengantisipasi dan menangkal penyebaran Hoax dan ujaran kebencian di medsos serta mengelola dan memantau penggunaaan medsos oleh ASN.
Kepala Dinas Kominfo Kotamobagu melalui Kabid SIKP, Muhammad Fahmi mengatakan, kegiatan tersebut sangat penting dalam rangka menangkal penyebaran hoax di Media Sosial (Medsos).
“Tentu ini juga sangat bagus dan memberikan banyak manfaat khususnya bagi pengelola media sosial pemerintah. Nah, Kami diberikan materi mengenai cara mengelola media sosial pemerintah dengan baik dan yang terpenting adalah bagaimana cara menangkal penyebaran hoax di medsos,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan itu juga sebagai penyatuan visi mengenai program kehumasan dimana pada tahun ini Tugas Pokok dan Fungsinya (Tupoksi) akan berada di Diskominfo.
Pelaksana kegiatan yakni Dirjen Informasi & Komunikasi Publik Kemenkominfo dengan mengundang Pemateri Direktur Pengembangan Sistem Informasi Kepegawaian BKN, DR. Muh. Ridwan. Ketua Tim Pakar Siman, DR.M.Fariza Y. Irawady, SE,ME, Direktur Tata Kelola Kemitraan Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Drs. Selamatta Sembiring, Manajer Kemitraan Publik Untuk Pemerintahan dan politik Facebook Indonesia, Putu Suatijaya Yudha. (guf)
ZONA KOTAMOBAGU – Kualitas beras hasil produksi petani di Kota Kotamobagu cukup baik dan bisa bersaing dengan beras dari daerah lain. Tak heran, jika beras asal daerah ini paling banyak dicari. Kelompok Tani (Poktan) Inanipon Jaya adalah salah satu distributor beras segar dalam kemasan lima kilo gram.
“Sementara ini produksi kami baru untuk didistribusikan ke beberapa tempat, termasuk Toko Tani Indonesia yang ada di wilayah Kota Kotamobagu. Tapi target kita tahun ini bisa memproduksi dalam jumlah besar untuk menjangkau permintaan dari pasar luar daerah, seperti Manado, Bitung dan daerah sekitar lainnya,”kata Sekretaris Kelompok Tani Inanipon Jaya, Lii Bambuena.
Aktivitas Poktan Inanipon Jaya dalam memproduksi beras sangat membantu Pemerintah Kota (Pemkot) dalam menjaga ketersediaan beras di Kota Kotamobagu.
Soal kualitas, ia menjamin beras yang diproduksi kelompok tani tempatnya bernaung itu cukup baik dan bisa bersaing dengan beras asal daerah lain. “Beras kami ini diproduksi dari sawah yang kami olah sendiri. Setelah proses produksi, kita kemas sebaik mungkin kemudian didistribusikan,” ujarnya.
Untuk menggarap lahan persawahan, ia mengungkapkan pihaknya mengandalkan perlatan mesin pertanian yang diberikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut). “Kami dapat bantuan dari Pemprov berupa dana untuk menunjang operasional kelompok dalam menggarap lahan. Kemudian adajuga bantuan peralatan, seperti timbangan elektrik, vacum sealer, box dryer atau mesin pengering dan beberapa peralatan lainnya. Bantuan yang diberikan itu, sangat membantu kami mulai dari proses tanam sampai produksi,” ungkapnya. (guf)