Boltim, ZONABMR.COM – Anggota DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Rahman Salehe, berencana memberangkatkan sebanyak 44 imam masjid di Kecamatan Kotabunan untuk melaksanakan ibadah umroh ke Mekah pada Juni atau Juli 2026 mendatang.
Rencana tersebut disampaikan Rahman Salehe usai menggelar reses di Desa Bulawan Dua, Selasa (07/04/2026). Saat ini, proses keberangkatan tengah memasuki tahap pengurusan administrasi oleh pihak travel.
“Insyaallah, bersama 44 imam masjid di Kecamatan Kotabunan akan berangkat umroh ke tanah suci Mekah. Jika semua persiapan administrasi selesai, diperkirakan bulan Juni atau Juli 2026 akan berangkat,” ujar Rahman.
Sebelumnya, pada Februari 2026, Rahman juga telah memberangkatkan tiga imam masjid dari wilayah yang sama untuk menunaikan ibadah umroh.
Ia menegaskan bahwa imam masjid memiliki peran strategis dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam menciptakan ketentraman, kedamaian, serta menjadi pusat pembinaan nilai-nilai spiritual keagamaan.
Selain itu, program pemberangkatan ini disebut sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan dan rezeki yang diterimanya.
“Niat ini semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT, sekaligus sebagai bentuk penghargaan kepada para imam dan pegawai syar’i yang telah mengabdikan diri melayani umat,” ungkapnya.
Sementara itu, warga Kecamatan Modayag, Yono Mamonto (57), menyampaikan apresiasi atas langkah tersebut. Ia menilai, inisiatif Rahman Salehe merupakan bentuk penghargaan tinggi terhadap dedikasi imam dalam menjaga kemakmuran masjid dan membina umat.
“Insyaallah ke depan, Rahman Salehe bisa memberangkatkan lebih banyak pemuka agama di seluruh wilayah Kabupaten Boltim,” harapnya.***
Kotamobagu, ZONABMR.COM – “Kumura nabar? Uremo rei minatoanla?”
Sapaan dalam bahasa Jaton itu berulang terdengar di sudut-sudut ruangan Hotel Sutan Raja, Kotamobagu, Ahad (5/4/2026) malam.
Sekitar 150-an peserta yang hadir dalam Halal Bi Halal Kerukunan Keluarga Jawa Indonesia (KKJI) larut dalam suasana hangat, saling bersalaman, berpelukan, dan berbincang akrab, menghadirkan nuansa kampung halaman di tanah perantauan.
Para patuari-patuari Jaton tampak saling menyapa dengan logat khas. Ada yang tertawa lepas, ada pula yang terdiam sejenak, larut dalam kenangan pertemuan yang lama tertunda.
Di ruang itu, bahasa Jaton bukan sekadar alat komunikasi. Ia menjadi pengikat identitas dan rasa kebersamaan.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua KKJI BMR dan Kotamobagu Farid Asimin, Ketua Dewan Pembina Ali Nurhamidin, Sekretaris KKJI Abu Bakar Masloman, serta sejumlah tokoh Jawa Tondano (Jaton) dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari mantan kepala dinas, pejabat eselon III/IV dari berbagai pemerintah daerah di Bolaang Mongondow Raya, Wakil Ketua Pengadilan Agama, dokter ahli, politisi, pengusaha, jurnalis, hingga ketua RW.
Ketua Panitia, Cicilia Lendeon Nurhamidin, menyampaikan apresiasi atas soliditas seluruh elemen yang terlibat.
“Terima kasih atas kerja sama KKJI Kotamobagu dan arisan KKJI Kotamobagu serta seluruh patuari-patuari yang telah menyempatkan diri hadir. Semoga silaturahmi ini terus terjaga ke depannya,” ujarnya.
Hikmah Halal Bi Halal disampaikan Kasubag TU Kementerian Haji dan Umroh Kotamobagu, Muhammad Zaini Kyai Demak, S. Ag, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan, memperkuat persaudaraan, serta menjadikan momen Idul fitri sebagai titik kembali kepada nilai kebersamaan.
Sementara itu, Koordinator KKJI Bolaang Mongondow Raya (BMR) sekaligus Ketua KKJI Kotamobagu, Farid Asimin—yang juga merupakan mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow—mengajak seluruh hadirin untuk merenung.
“Alhamdulillah, tahun ini kita masih bisa bersilaturahmi. Al-Fatihah untuk patuari-patuari kita yang sudah tidak sempat lagi bersama kita tahun ini,” ucapnya.
Suasana sejenak hening.
Farid menegaskan, kekuatan komunitas Jaton tidak terletak pada jumlah, melainkan nilai yang diwariskan.
“Ada tiga yang kita pegang. Kesungguhan dalam beragama, semangat juang, dan guyub. Kita mungkin tidak banyak, tapi kita kuat karena itu,” katanya.
Ia juga mengapresiasi peran kaum ibu dalam menjaga keberlangsungan kegiatan dan nilai-nilai budaya Jaton.
“Luar biasa ibu-ibu. Persiapan acara ini menunjukkan bahwa nilai Jaton itu benar-benar hidup,” tambahnya.
Di antara ratusan peserta yang hadir, interaksi berlangsung cair tanpa sekat jabatan. Semua larut dalam suasana kekeluargaan, saling menyapa dengan bahasa Jaton, memperkuat rasa persaudaraan di tengah keberagaman latar belakang.
Salah satu peserta, Yutni Waridin, menilai momen seperti ini sangat penting bagi warga Jaton di perantauan.
“Momentum seperti ini sangat berarti, karena di sinilah kita bisa saling mengenal satu sama lain. Di perantauan, silaturahmi seperti ini yang menjaga kita tetap dekat,” ujarnya.
Malam itu bukan sekadar pertemuan tahunan. Ia menjadi ruang temu identitas, tempat bahasa, budaya, dan rasa kebersamaan tetap hidup.
Di tengah perubahan zaman, Halal Bi Halal KKJI Kotamobagu menjadi pengingat sederhana—bahwa sejauh apa pun merantau, ada nilai yang tetap pulang: guyub, persaudaraan, dan rasa memiliki sebagai satu keluarga besar Jaton.
Sejarah Singkat Suku Jawa Tondano (Jaton)
Suku Jawa Tondano (Jaton) merupakan komunitas etnis hasil perjumpaan sejarah antara orang Jawa dan masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Akar sejarah Jaton bermula pada awal abad ke-19, tepatnya setelah berakhirnya Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan pemerintah kolonial Belanda.
Pasca kekalahan Perang Jawa, Belanda mengasingkan sejumlah pengikut dan laskar Pangeran Diponegoro ke berbagai wilayah Nusantara, salah satunya ke daerah Tondano, Minahasa. Para pengasingan ini kemudian menetap, berbaur, dan membangun kehidupan baru bersama masyarakat lokal Minahasa, termasuk melalui perkawinan dan interaksi sosial-budaya.
Dari proses inilah lahir komunitas Jawa Tondano, yang kemudian dikenal dengan sebutan Jaton. Secara kultural, Jaton memiliki identitas khas yang memadukan unsur tradisi Jawa dengan adat Minahasa, serta nilai-nilai keislaman yang kuat. Bahasa, seni, dan tradisi Jaton berkembang sebagai identitas unik yang berbeda dari Jawa di Pulau Jawa maupun Minahasa secara umum.
Hingga kini, komunitas Jaton tersebar di beberapa wilayah Sulawesi Utara dan Bolaang Mongondow Raya, termasuk Kotamobagu, dan tetap menjaga tradisi, seni, serta nilai-nilai leluhur sebagai bagian penting dari jati diri dan sejarah mereka.
Semangat Papa Ibal Mulai dari Mengolah Kompos hingga Menyemai Harapan Baru di Desa Bakan (Foto: Ji)
Bolmong, ZONABMR.COM — Tangan Insanu, atau yang akrab disapa Papa Ibal, tampak cekatan mengaduk campuran bahan di halaman rumah produksi PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM).
Sesekali ia berhenti, memperhatikan tekstur, lalu bertanya kepada pendamping sebelum kembali melanjutkan proses. Keringat yang membasahi wajahnya tak mengurangi fokus, justru menunjukkan keseriusan seorang warga yang tengah belajar sesuatu yang diyakininya akan membawa perubahan.
Di tengah pelatihan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) yang digelar di Desa Bakan sejak 28 Maret 2026, Papa Ibal bukan sekadar peserta. Ia adalah gambaran dari semangat warga yang ingin beranjak dari kebiasaan lama menuju cara baru yang lebih mandiri.
“Ini ternyata bukan hanya soal bikin pupuk biasa. Ada ilmunya, ada nilai ekonominya juga,” ujarnya sambil tersenyum ringan.
Sebagai Ketua Kelompok POP Desa Bakan, Papa Ibal merasakan langsung bagaimana pelatihan ini mengubah cara pandangnya. Ia mulai melihat bahwa kegiatan sederhana yang selama ini dianggap sepele, justru bisa menjadi peluang untuk meningkatkan penghasilan masyarakat.
Namun, di balik optimisme itu, ia tidak menutup mata terhadap tantangan. Menjaga konsistensi anggota kelompok menjadi pekerjaan tersendiri. “Sebagian masih fokus di pekerjaan utama seperti berkebun, jadi belum semua bisa aktif. Tapi saya merasa punya tanggung jawab untuk tetap menggerakkan mereka,” katanya.
Bagi Papa Ibal, peran ketua bukan sekadar mengatur, tetapi juga memastikan semangat kelompok tetap hidup. Ia menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi sekaligus, melainkan harus dibangun perlahan, dari kesadaran hingga kebiasaan baru.
Pelatihan yang memadukan teori dan praktik menjadi kunci dalam proses ini. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi langsung terlibat dalam pembuatan POP, mulai dari mengenal bahan hingga proses pengolahan.
Dengan sekitar 11 jenis bahan yang sebagian besar mudah ditemukan di lingkungan sekitar, metode ini dinilai cukup realistis untuk diterapkan secara mandiri. Bahkan, dalam satu siklus produksi, kelompok ini berpotensi menghasilkan hingga 30 ton pupuk dalam waktu sekitar tiga bulan.
“Kalau lihat prosesnya, kami sebenarnya sudah bisa lanjut sendiri. Tinggal bagaimana kami konsisten,” ungkap Papa Ibal.
Optimisme itu semakin menguat ketika peluang pasar mulai terlihat. Saat praktik berlangsung, sudah ada pihak yang menunjukkan ketertarikan untuk membeli hasil pupuk yang diproduksi.
“Jadi ini bukan cuma untuk dipakai sendiri. Ada peluang untuk dijual juga,” tambahnya.
Dari sisi pemerintah desa, pelatihan ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi warga, khususnya di sektor pertanian.
Sekretaris Desa Bakan, Subagio Mokoagow, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal.
Sementara itu, bagi JRBM, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. General Manager Eksternal Relation and Security JRBM, Andreas Saragih, menegaskan bahwa program ini lahir dari inisiatif masyarakat yang kemudian didukung oleh perusahaan.
“Harapannya, masyarakat tidak lagi terlalu bergantung pada pupuk kimia yang mahal. Dengan POP, mereka punya alternatif yang lebih terjangkau dan bisa diproduksi sendiri,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pelatihan, tetapi oleh komitmen bersama untuk terus menjalankannya.
Di Desa Bakan, pelatihan ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun bagi Papa Ibal dan kelompoknya, ini adalah awal dari perjalanan panjang, dari sekadar mengaduk bahan kompos, menuju upaya membangun kemandirian yang tumbuh dari tangan mereka sendiri. *****
Bolmong, ZONABMR.COM – Perkembangan terbaru mencuat dalam kasus dugaan pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang menyeret PT Xinfeng Gemah Semesta di Desa Oboy, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).
Di tengah proses hukum yang telah berjalan dan pelimpahan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Negeri Kotamobagu, aktivitas tambang di lokasi tersebut justru dilaporkan kembali beroperasi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kegiatan pertambangan kembali terlihat di area yang sebelumnya telah dipasangi garis polisi oleh Polres Bolaang Mongondow. Bahkan, police line yang menjadi tanda penghentian aktivitas hukum itu diduga telah dibuka secara paksa oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kondisi ini memicu tanda tanya besar terhadap efektivitas penegakan hukum di lapangan. Pasalnya, lokasi tersebut sebelumnya telah menjadi bagian dari proses penyidikan atas dugaan aktivitas ilegal yang melibatkan PT Xinfeng.
Sebagaimana diketahui, Polres Bolaang Mongondow telah menyita tiga unit alat berat jenis ekskavator dari lokasi tersebut dan menyerahkan SPDP ke Kejaksaan Negeri Kotamobagu. Proses hukum pun tengah berjalan dan menunggu kelengkapan berkas untuk tahap selanjutnya.
Namun, dengan munculnya kembali aktivitas PETI di titik yang sama, publik mempertanyakan komitmen penindakan terhadap praktik tambang ilegal yang seolah tidak menimbulkan efek jera meski telah tersentuh proses hukum.
Sejumlah sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, aktivitas yang kembali berlangsung ini diduga melibatkan pihak-pihak yang sama.
“Kami lihat alat sudah mulai bergerak lagi. Padahal sebelumnya sudah dipasang garis polisi. Kalau begini, masyarakat jadi bertanya-tanya, sebenarnya dihentikan atau tidak,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Bolaang Mongondow belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pembukaan paksa police line maupun aktivitas terbaru di lokasi tersebut.
Situasi ini mempertegas tantangan besar dalam pemberantasan PETI di wilayah Bolaang Mongondow. Di satu sisi, proses hukum telah berjalan hingga tahap pelimpahan awal, namun di sisi lain, aktivitas di lapangan diduga terus berlangsung tanpa hambatan berarti.
Jika benar police line dibuka paksa dan aktivitas ilegal kembali berjalan, maka hal ini berpotensi menjadi pelanggaran hukum baru yang serius, sekaligus mencoreng wibawa aparat penegak hukum di mata publik.
Kini, sorotan kembali tertuju pada aparat kepolisian untuk segera mengambil langkah tegas, memastikan penghentian total aktivitas ilegal, serta menindak pihak-pihak yang diduga berupaya mengabaikan proses hukum yang sedang berjalan.***
Reses di Bulawan, Rahman Salehe Tampung Aspirasi Infrastruktur hingga Ketenagakerjaan (Foto: RS)
Boltim, ZONABMR.COM – Anggota DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Rahman Salehe, menggelar reses masa persidangan kelima tahun 2026 di Daerah Pemilihan (Dapil) I, yang dipusatkan di Desa Bulawan Satu, Kecamatan Kotabunan, Rabu (1/4/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana hangat pasca perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, dengan dihadiri perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga dari Desa Bulawan dan wilayah Kecamatan Kotabunan.
Dalam forum dialog terbuka itu, masyarakat secara langsung menyampaikan berbagai aspirasi dan keluhan kepada wakil rakyat mereka. Sejumlah isu strategis mengemuka, mulai dari pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan, pendidikan, kondisi sosial ekonomi, hingga persoalan ketenagakerjaan.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa persoalan lapangan kerja menjadi perhatian serius masyarakat, khususnya terkait peluang kerja bagi warga lokal.
“Kami berharap ada perhatian lebih terhadap tenaga kerja lokal. Jangan sampai kami hanya jadi penonton di daerah sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi infrastruktur yang dinilai masih perlu mendapat perhatian pemerintah, terutama akses jalan yang digunakan masyarakat sehari-hari.
“Kalau jalan bagus, aktivitas kami juga lancar. Ini sangat berpengaruh ke ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Rahman Salehe menegaskan bahwa reses merupakan bagian penting dari tugas anggota DPRD dalam menyerap aspirasi masyarakat secara langsung di daerah pemilihan.
“Tujuan utama reses adalah menjaring, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi serta pengaduan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, reses juga menjadi sarana komunikasi dua arah antara masyarakat dan legislatif, sekaligus bentuk pertanggungjawaban kepada konstituen.
Ia menjelaskan, seluruh aspirasi yang disampaikan warga akan menjadi bahan dalam penyusunan pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD yang nantinya diusulkan dalam program pembangunan daerah.
“Aspirasi masyarakat ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan kebijakan di DPRD, agar pembangunan benar-benar sesuai kebutuhan warga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rahman menyebut hasil reses tersebut juga akan menjadi masukan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Daerah (RPD), sehingga program pemerintah dapat lebih tepat sasaran.
“Insya Allah seluruh aspirasi yang disampaikan hari ini akan kami kawal dan perjuangkan demi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Pelestarian Alat Musik Rambabo Dimulai: Dokumentasi, Sosialisasi dan Pameran (Foto: ind)
Kotamobagu, ZONABMR.COM — Pelestarian alat musik Rambabo telah dimulai, ditandai dengan digelarnya Rapat Persiapan untuk Pendokumentasian Alat Musik Rambabo pada Selasa (31/03/2026) bertempat di Gedung Bontean, Desa Bilalang I.
Pelestarian alat musik Rambabo tersebut merupakan bagian dari Program Indonesiana Kementerian Kebudayaan untuk Dokumentasi Karya Maestro atau Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah.
Budayawan Bolaang Mongondow (Bolmong) Chairun Mokoginta yang merupakan penerima manfaat program tersebut, menyampaikan, Rambabo merupakan satu dari beberapa kesenian tradisonal Bolmong yang terancam punah.
Dari hasil penelitian yang dilakukan pihaknya, terdapat kurang lebih ada 31 jenis kesenian tradisional Bolmong. 16 di antaranya telah punah, 8 kesenian hampir punah, dan 6 kesenian lainnya masih eksis hingga kini.
“Yang telah punah itu maksudnya tidak pernah ditampilkan dalam dua dasawarsa, dan yang hampir punah itu masih tampil tapi tinggal sesekali,” terangnya.
Chairun berkisah, Rambambo sempat tak pernah ditampilkan dalam waktu yang cukup lama karena alat musik tersebut tak dapat ditemukan lagi.
“Saya masih sempat bermain Rambabo pada tahun 1980. Tapi setelah itu, saya cari sudah tidak ada alat musiknya. Dan tahun 1993, saya mulai melakukan restorasi,” tambahnya.
Sejak Direstorasi itulah, rambabo mulai ditampilkan kembali meski hanya sesekali dalam acara-acara kebudayaan.
Teranyar, sebelum menerima pendanaan dari Kementerian, Chairun secara mandiri telah melakukan pengenalan sekaligus pengenalan alat musik Rambabo kepada siswa-siswi di beberapa sekolah yang ada di Bolmong Raya.
Rambabo, alat musik tradisional Bolaang Mongondow yang saat ini berstatus rawan punah (Foto: Ind)
Di sisi lain, ia pun mengakui, salah satu faktor penghambat pelestarian kesenian adalah pendanaan. Sehingga dengan adanya Program Dana Indonesiana menjadi pelecut pemajuan berbagai kebudayaan yang ada di Bolmong.
“Pendanaan dari Kementerian ini sangat membantu dalam pelestarian kesenian tradisional,” tegasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kotamobagu, Siti Rafiqa Bora juga menyampaikan pentingnya pelestarian kesenian tradisional.
“Musik tradisional wajib dilestarikan,” tambahnya.
Hal yang sama juga diucapkan Sangadi Desa Bilalang I, Badaria Mokoginta. Menurutnya, pelestarian kesenian tradisional merupakan hal yang urgen saat ini.
“Musik-musik tradisional harus kita perhatikan dan lestarikan,” ucapnya.
Sementara, Staf Khusus Wali Kota Kotamobagu, Syarif Rahmat Mokoginta menyampaikan, pelestarian kesenian tradisional sejalan dengan program pemerintahan saat ini.
“Salah satunya tentang Program Pendidikan Berbudaya Lokal,” singkatnya.
Program Dana Indonesiana atau yang juga dikenal sebagai Dana Abadi Kebudayaan disediakan oleh pemerintah untuk mendukung perkembangan dan prestasi para budayawan serta menyalurkan ekspresi mereka. Selama beberapa tahun terakhir, Dana Indonesiana telah memberikan manfaat besar kepada para budayawan.
Pada tahun 2025, setidaknya tersedia anggaran sekitar Rp465 miliar dari hasil kelolaan Rp5 triliun Dana Abadi Kebudayaan yang bisa dimanfaatkan untuk Dana Indonesiana 2025.
Di Kotamobagu, ada dua penerima manfaat Dana Indonesiana yang mulai dikucurkan pada tahun 2026, yakni Murdiono Mokoginta dan Chairun Mokoginta. Murdiono mengangkat tema tentang Asal-usul Nama Desa di Kotamobagu, yang output-nya berupa buku.
Sedangkan, Chairun akan menghasilkan output berupa pendokumentasian dan sosialisasi dalam bentuk film Dokumenter, serta pameran kesenian tradisional Bolmong. (Ind)
Kunjungan Adriana Charlotte Dondokambey di Bolmong Raya, dari Warung Rakyat hingga Sorotan Krisis Literasi (Foto: Adr)
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Asap tipis dari bara ikan bakar mengepul pelan di sudut warung makan di Kelurahan Kotobangon Kecamatan Kotamobagu Timur. Meja kayu dengan beralaskan taplak PVC, kursi plastik, dan suara percakapan warga yang mengalir apa adanya.
Di tempat itu, Senin (30/03/2026) malam, tanpa sekat, tanpa jarak, Anggota Komite III DPD RI Dapil Sulawesi Utara, Dra. Adriana Charlotte Dondokambey M.SI, duduk santai menikmati hidangan.
Tak ada protokoler berlebihan. Tak ada batas antara pejabat dan masyarakat. Hanya percakapan hangat di tengah aroma ikan bakar, potret kesederhanaan yang justru terasa kuat dan jujur.
Disela makan malam bersama zonabmr.com dan sejumlah awak media, Adriana menjelaskan kehadirannya di Bolaang Mongondow Raya merupakan bagian dari kunjungan kerja sejak 25 hingga 29 Maret 2026.
Namun kunjungan ini tak berhenti pada agenda formal.
Beberapa hari sebelumnya, ia turun langsung membagikan Al-Qur’an dan perlengkapan salat di Kabupaten Bolaang Mongondow. Baginya, pembangunan tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga spiritual generasi muda.
Anggota Komite III DPD RI, Adriana Charlotte Dondokambey saat Menyerahkan Bantuan Al-quran dan Peralatan Salat di Desa Ikhwan (Foto: Adr)
“Kita ingin anak-anak kita tidak hanya cerdas, tapi juga punya pegangan hidup. Kalau mereka dekat dengan nilai agama, mereka akan lebih kuat menghadapi pengaruh negatif,” ujarnya.
Di sisi lain, Adriana juga menghadiri event karapan sapi di Desa Ikhwan, sebagai bagian dari tugas Komite III DPD RI dalam mendorong sektor pariwisata.
Menurutnya, potensi budaya lokal seperti itu harus dikembangkan dan dipromosikan sebagai kekuatan ekonomi daerah.
Namun di balik agenda pariwisata dan sosial, Adriana justru menyoroti persoalan mendasar yakni rendahnya minat baca.
Data menunjukkan, minat baca masyarakat Sulawesi Utara masih tertinggal. Sulut berada di posisi ke-22 secara nasional dengan skor 68,44, sementara indeks literasi disebut berada di kisaran 22 persen. Angka yang menjadi alarm serius bagi masa depan generasi.
“Kalau minat baca kita rendah, maka daya pikir kita juga ikut melemah. Kita akan jadi generasi yang cepat puas dengan informasi dangkal, padahal ke depan kita dituntut berpikir lebih dalam,” tegasnya.
Ia pun mendorong langkah konkret dengan menghadirkan perpustakaan di setiap desa dan kelurahan.
“Saya ingin tidak ada lagi desa tanpa perpustakaan. Dari situlah peradaban dimulai. Kalau sudah ada, bantuan buku akan lebih mudah kita dorong,” katanya.
Selain itu, ia juga mengusulkan penerapan hari khusus berbahasa daerah di sekolah-sekolah di Bolmong Raya.
Menurutnya, literasi tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga menjaga identitas budaya.
“Kalau bahasa daerah hilang, kita kehilangan jati diri. Literasi itu juga tentang memahami siapa kita,” ujarnya.
Dalam rekam jejaknya, Adriana aktif mendorong kegiatan sosial dan pendidikan sejak menjabat sebagai anggota DPR RI, mulai dari bantuan keagamaan hingga dukungan penguatan sumber daya manusia. Kini di DPD RI, fokus itu ia lanjutkan melalui penguatan literasi, budaya, dan pariwisata.
Suasana warung yang merakyat itu pun meninggalkan kesan bagi warga yang berada di lokasi.
Salah satunya, Wawan Ginoga, yang mengaku hanya sempat melihat dari kejauhan, tanpa bertegur sapa langsung dengan Adriana.
Meski begitu, kesan yang ditangkapnya cukup kuat.
“Memang tidak sempat menyapa langsung, tapi saya lihat sendiri bagaimana Ibu Adriana makan di tempat yang merakyat seperti ini. Itu jarang dilakukan pejabat,” ujarnya.
Menurut Wawan, sikap tersebut menunjukkan bahwa Adriana tidak menjaga jarak dengan masyarakat.
“Walaupun hanya lihat dari jauh, tapi kelihatan beliau tidak pilih-pilih tempat dan bisa menyatu dengan suasana,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kotamobagu, , Dr. Henny Kaseger, S.Kep., M.Kes., yang turut mendampingi, menyatakan kesiapan untuk mengawal berbagai program yang dibawa Adriana.
“Kami siap bersinergi dalam pengembangan pariwisata, kebudayaan, dan peningkatan minat literasi di Kotamobagu,” singkat Henny yang juga merupakan anggota DPRD Kotamobagu.
Di warung makan yang merakyat itu, di antara asap ikan bakar dan obrolan ringan warga, satu pesan besar mengemuka; Bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang bagaimana generasi dibentuk, untuk membaca, berpikir, dan memahami masa depan.
Boltim, ZONABMR.COM – Anggota DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Rahman Salehe, menyoroti proses perekrutan tenaga kerja di perusahaan tambang PT Arafura Surya Alam yang beroperasi di Kotabunan, Kecamatan Kotabunan.
Sorotan tersebut disampaikan Rahman dalam rapat paripurna penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Daerah Tahun 2025, yang digelar di Aula DPRD Boltim, Senin (30/3/2026).
Dalam penyampaiannya, ia langsung mengangkat aspirasi masyarakat terkait syarat perekrutan tenaga kerja di perusahaan tambang yang dinilai belum berpihak pada warga lokal, khususnya masyarakat di lingkar tambang.
Menurut Rahman, salah satu poin yang menjadi sorotan adalah adanya persyaratan pengalaman kerja yang dinilai memberatkan.
“Izin pak, ada penyampaian dari masyarakat mengenai syarat yang diberikan perusahaan tambang dalam melakukan perekrutan tenaga kerja lokal. Sebab terdapat poin tentang pengalaman kerja. Masyarakat mempertanyakan apakah ada MoU dari Pemda dengan perusahaan bagaimana merekrut tenaga kerja yang ada di lingkar tambang, Pak?” ungkapnya.
Ia menjelaskan, mayoritas masyarakat di sekitar wilayah tambang belum memiliki pengalaman kerja sebagaimana disyaratkan perusahaan, yang disebut mencapai 2 hingga 5 tahun.
Hal ini, menurutnya, berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak segera dicarikan solusi oleh pemerintah daerah.
“Karena ini akan menjadi masalah ke depan nanti, manakala ada masyarakat yang ada di lingkar tambang kemudian syaratnya harus memiliki pengalaman kerja. Sementara masyarakat di lingkar tambang itu mayoritas belum ada pengalaman kerja,” jelas Rahman.
Ia pun mendesak pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret, termasuk memfasilitasi kesepakatan dengan pihak perusahaan agar perekrutan tenaga kerja lebih berpihak pada masyarakat lokal.
“Bagaimana upaya-upaya dari Pemerintah Daerah untuk memfasilitasi perekrutan tenaga kerja dari masyarakat yang ada di lingkar tambang tanpa melihat aspek pengalaman tersebut. Ini kan tinggal perjanjian antara Pemda dengan perusahaan,” tegasnya.
Rapat paripurna tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Boltim, pimpinan DPRD, serta para kepala SKPD dan jajaran terkait.
Datang Tanpa Sekat, Henny Kaseger Diserbu Warga di Lebaran Ketupat Mongkonai Induk (Foto: Udi)
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Kunjungan silaturahmi anggota DPRD Kotamobagu yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kotamobagu, Dr. Henny Kaseger, S.Kep., M.Kes., di perayaan Lebaran Ketupat Kelurahan Mongkonai Induk, Kecamatan Kotamobagu Barat, Ahad (29/03/2026) menjadi sorotan warga.
Kehadiran Henny di tengah kegiatan yang berlangsung sukses dan diserbu warga itu menambah semarak suasana silaturahmi yang masih dalam nuansa Idul Fitri.
Sejak pagi hingga sore hari, ratusan hingga ribuan warga silih berganti datang, termasuk dari berbagai wilayah di Kotamobagu dan sekitarnya.
Dalam kunjungannya, Henny Kaseger tampak berbaur tanpa sekat dengan masyarakat. Ia berjabat tangan, menyapa warga, serta ikut menikmati hidangan bersama di sejumlah titik meja makan yang tersebar di seluruh wilayah kelurahan.
Sebanyak 21 titik meja makan yang merupakan hasil rembukan warga Mongkonai Induk menjadi pusat interaksi masyarakat.
Di setiap titik, tersaji hidangan khas Lebaran seperti ketupat dan opor serta hidangan khas suku Mongondow menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Kehadiran Henny pun disambut antusias oleh warga. Momen tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk bersilaturahmi secara langsung dengan wakil rakyat mereka.
Dalam kesempatan itu, Henny Kaseger menyampaikan bahwa kunjungannya merupakan bagian dari silaturahmi dengan masyarakat di momen Idul Fitri.
“Ini adalah bagian dari silaturahmi saya dengan masyarakat, apalagi masih dalam suasana Idul Fitri. Saya ingin hadir langsung di tengah-tengah warga, melihat dan merasakan kebersamaan seperti ini,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kekompakan warga Mongkonai Induk dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Saya sangat mengapresiasi inisiatif pemerintah, masyarakat, TP-PKK dan BKMT setempat yang telah menghadirkan kegiatan ini. Ini menunjukkan kuatnya kebersamaan dan semangat gotong royong warga,” tambahnya.
Camat Kotamobagu Barat, Sumitro Potabuga, turut memberikan apresiasi atas kehadiran Henny Kaseger di tengah masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Ibu Henny Kaseger yang telah meluangkan waktu untuk hadir langsung di tengah masyarakat Mongkonai Induk. Ini menjadi motivasi bagi warga dan menunjukkan sinergi yang baik antara pemerintah dan wakil rakyat dalam memperkuat silaturahmi di momen Idul Fitri,” ujar Sumitro.
Senada, Lurah Mongkonai Induk, Indah Cipta Kusumawardhani Gobel mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kunjungan Henny Kaseger.
“Besar Harapan masyarakat agar Kunjungan Ibu Dewan bisa menjadi pintu silahturahmi yang baik dengan Masyarakat Kelurahan Mongkonai. Semoga kedepannya bisa menuai banyak manfaat untuk masyarakat Kelurahan Mongkonai, khususnya terkait perhatian pada aspirasi dan usulan-usulan Pembangunan di Kelurahan Mongkonai,” ucap Indah.
Sementara itu, salah satu warga Mongkonai Induk, Putra Paputungan, mengaku senang dengan kehadiran Henny Kaseger yang dinilai dekat dengan masyarakat.
“Alhamdulillah torang sangat senang dengan kedatangan Ibu Henny. Dia datang langsung, baku dapa dengan warga, jadi torang merasa diperhatikan. Ini contoh pemimpin yang dekat dengan masyarakat,” ungkap Putra.
Dengan kunjungan tersebut, Lebaran Ketupat di Mongkonai Induk tidak hanya menjadi ajang tradisi dan silaturahmi, tetapi juga memperlihatkan kedekatan antara pemimpin dan masyarakat dalam suasana penuh kehangatan Idul Fitri.
Diserbu Warga, Lebaran Ketupat Perdana di Mongkonai Induk Sukses Penuh Kehangatan (Foto: Sum)
Kotamobagu, ZONABMR.COM – Pelaksanaan Lebaran Ketupat di Kelurahan Mongkonai Induk, Kecamatan Kotamobagu Barat, Ahad (39/03/2026), berlangsung sukses dan diserbu warga.
Sejak pagi hingga sore hari, ratusan hingga ribuan warga silih berganti datang untuk meramaikan kegiatan yang masih dalam suasana Idul Fitri tersebut.
Suasana penuh kehangatan begitu terasa di seluruh penjuru Mongkonai Induk. Warga saling berjabat tangan, bermaaf-maafan, serta menikmati hidangan bersama.
Tak hanya warga setempat, pengunjung dari berbagai wilayah di Kotamobagu hingga daerah sekitar turut hadir, menambah semarak kegiatan perdana ini.
Sebanyak 21 titik meja makan disiapkan hasil rembukan warga Mongkonai Induk dan tersebar di seluruh wilayah kelurahan. Di setiap titik, tersaji hidangan khas Lebaran seperti ketupat dan opor yang menjadi menu wajib, menciptakan nuansa kebersamaan yang kental.
Warga tampak hilir mudik dari satu titik ke titik lainnya, memperkuat nilai silaturahmi dan kebersamaan yang menjadi esensi utama dalam perayaan Lebaran Ketupat.
Kegiatan ini diinisiasi oleh TP-PKK dan BKMT Kelurahan Mongkonai Induk, sebagai bentuk kolaborasi masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus mempererat hubungan sosial pasca Idul Fitri.
Camat Kotamobagu Barat, Sumitro Potabuga, menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Lebaran Ketupat ini diinisiasi oleh TP-PKK dan BKMT Kelurahan Mongkonai Induk, dan ini perdana dilaksanakan di sini. Ada 21 titik meja makan yang disiapkan untuk masyarakat. Alhamdulillah kegiatan ini berjalan sukses dan mendapat sambutan luar biasa dari warga,” ujarnya.
Ia menegaskan, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk mempererat silaturahmi antar warga yang masih berada dalam suasana Idul Fitri.
Camat Kotamobagu Barat, Sumitro Potabuga Menyambut Silaturahmi Anggota DPRD Kotamobagu, Henny Kaseger (Foto: Nen)
“Ini bukan hanya soal tradisi, tapi bagaimana kita menjaga silaturahmi. Masih dalam suasana Idul Fitri, kegiatan seperti ini menjadi wadah kebersamaan dan memperkuat rasa kekeluargaan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu warga Mongkonai Induk, Muchtar Korompot, mengaku bangga dan bersyukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah torang pe Lebaran Ketupat ini sangat meriah. Ini momen bagus untuk baku dapa, baku pasiar, apalagi masih suasana Idul Fitri. Harapan kami kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan ke depan,” ungkap Muchtar.
Dengan suksesnya pelaksanaan perdana ini, Lebaran Ketupat di Mongkonai Induk diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang terus dilestarikan, sekaligus menjadi simbol kuat persatuan dan kebersamaan masyarakat.